RSS

Halaman

Pengendalian Tikus Sawah

PENGENDALIAN TIKUS SAWAH

     Tikus merupakan hewan menyusui (kelas mamalia) yang mememiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, baik yang bersifat menguntungkan maupun merugikan. Sifat menguntungkan terutama dalam hal penggunaannya sebagai hewan percobaan. Sifat merugikan yaitu dalam hal posisinya sebagai hama pada kmoditas pertanian, hewan penganggu rumah dan gudang, serta penyebar dan penular (vektor) dari berbagai penyakit manusia. (Swastika, 2003)
Tikus sawah merupakan hama prapanen utama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif. Tikus sawah merusak tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan dari semai hingga panen (periode prapanen), bahkan di gudang penyimpanan (periode pascapanen).

1.1         Pengertian
1.1.1   Pengendalian
Melakukan berbagai hal, yang bermanfaat, sehingga kehidupan vektor dan rodent menjadi sulit, tidak dapat berkembang biak atau dimatikan, sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia.
1.1.2   Rodent
Binatang pengerat yang bisa menularkan atau menimbulkan penyakit (menimbulkan kerugian) terhadap makhluk hidup lainnya.

1.2         Klasifikasi Tikus Sawah
Kerajaan      :           Animalia
Filum           :           Chordata
Subfilum     :           Vertebrata
Kelas           :           Mammalia
Subkelas      :           Theria
Ordo            :           Rodentia
Famili          :           Muridae
Upafamili    :           Murinae
Genus          :           Rattus
Spesies        :           R. argentiventer

            Ordo Rodentia merupakan ordo yang terbesar dari Kelas Mammalia karena memiliki jumlah spesies yang terbanyak yaitu ± 2.000 spesies atau 40% dari 5.000 spesies untuk seluruh kelas Mammalia. Dari 2.000 spesies Rodentia ini, hanya kurang lebih 160 spesies tikus yang ada di Indonesia dan hanya 9 spesies paling berperan pada sebagai hama tanaman, permukiman, dan vector pathogen pada manusia. Penyebaran tikus sawah di Indonesia sendiri terbagi menjadi:
  1. Rattus argentiventer argentiventer (Thailand, Sumatra, Jawa,)
  2. Rattus argentiventer kalimantanensis (Kalimantan)
  3. Rattus argentiventer pesticulus (Sulawesi dan sebagian besar Nusa Tenggara)
  4. Rattus argentiventer saturnus (Sumba)

1.3         Perbedaan Tikus Sawah, Tikus Rumah dan Tikus Got
Ciri
Tikus Sawah
Tikus Rumah
Tikus Got
Morfologi Kualitatif
·      Tekstur rambut: agak kasar
·      Bentuk hidung: kerucut
·      Bentuk badan: silindris
·      Warna badan: cokelat kehitaman
·      Tekstur rambut: agak kasar
·      Bentuk hidung: kerucut
·      Bentuk badan: silindris
·      Warna badan: cokelat kehitaman
·      Tekstur rambut: agak kasar dan panjang
·      Bentuk hidung: kerucut
·      Bentuk badan: silindris membesar ke belakang
·      Warna badan: cokelat kelabu (pucat)
Morfologi Kuantitatif
·      Bobot tubuh:
·      Panjang total: 24-37 cm
·      Jumlah puting susu: 6 buah (3 pasang)
·      Bobot tubuh:
·      Panjang total: 22-46 cm
·      Jumlah puting susu: 5 buah (2+3 pasang)
·      Bobot tubuh:
·      Panjang total: 31-46 cm
·      Jumlah puting susu: 6 buah (3+3 pasang)
Kebiasaan
1.    Menggali
2.    Mengerat
3.    Berenang
1.   Memanjat
2.   Mengerat
1.    Menggali
2.    Mengerat
3.    Meloncat
4.    Berenang
Habitat
Sawah (ketinggian <1500 m dpl)
Rumah dan gudang
Gudang, selokan, rumah
Kerugian yang di Timbulkan
Mampu merusak tanaman budidaya dlm waktu yg singkat dan dlm berbagai stadia umur tanaman shg menimbulkan kerugian cukup besar bagi petani.
1.    Merusak bahan makanan.
2.    Mengurangi nilai ekonomis maupun higienis dari makanan tersebut.
3.    Menyebabkan berbagai macam penyakit antara lain:
·  Pes (Plague)
·  Leptospirosis
·  Scub typhus
·  Murine typhus
·  Rat Bite Fever
·  Salmonellosis
·  Limphocyric choriomeningitis
·  Rabies
1)   Menyebabkan runtuhnya jalan diatas saluran air.
2)   Merusak bahan makanan.
3)   Mengurangi nilai ekonomis maupun higienis dari makanan tersebut.
4)   Menyebabkan berbagai macam penyakit antara lain:
·  Pes (Plague)
·  Leptospirosis
·  Scub typhus
·  Murine typhus
·  Rat Bite Fever
·  Salmonellosis
·  Limphocyric choriomeningitis
·  Rabies
Pengendalian
1.    Kultur teknis
·      Pengaturan pola dan jarak tanam
·      Tanam serentak
·      Pembersihan tanggul
·      Tanaman perangkap
2.    Sanitasi Lingkungan
3.    Fisik
·      TBS
·      Gropyokan
·      Pengusiran tikus
4.    Biologis
Ular, garangan, musang, burung alap-alap tikus
5.    Kimia
·  Rodentisida
·  Pengemposan tikus
1.    Sanitasi Lingkungan
2.    Fisik
·      Pemasangan penghalang
·      Perangkap
·      Pengusiran dengan gelombang elektromagnetik
3.    Biologis
·      Kucing, anjing dll.
4.    Kimia
·      Fumigasi
·      Rodentisida
1.   Inspeksi tikus dan initial survey
2.   Pengendalian dengan pemanfaatan musuh alami
3.   Sanitasi
4.   Perangkap
5.   Pemanfaatan rodentisida
6.   Fumigant
7.   Kemosterilan
8.   Rat Proofing


1.4          Kemampuan Indera
1.4.1    Indera penglihatan
·         Mata tikus dibiasakan untuk melihat di malam hari. Penglihatan tikus kurang baik, tetapi punya kepekaan yang tinggi terhadap cahaya.
·         Tikus mempunyaa kemampuan mengenali bentuk benda dalam cahaya yang remang-remang.
·         Tikus merupakan hewan yang buta warna. Sebagian besar warna di tangkap  oleh tikus sebagai warna kelabu.
1.4.2        Indera penciuman
·         Indera penciumannya berkembang dengan baik
·         Tikus mampu menandai wilayah pergerakan lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kempoknya, dan mendeteksi betina yang estrus.
1.4.3    Indera pendengaran
  Indera pendengarannya sangat baik
  Memiliki tanggap akustik bimodal cochlear yang artinya ada duapuncak akustik yang dapat di deteksi oleh tikus.
1.4.4    Indera Perasa
  Berkembang sangat baik.
  Mampu mendeteksi zat-zat pahit, bersifat toksik,dan berasa tidak enak.
1.4.5    Indera Peraba
  Berkembang sangat baik
  Dapat membantu tikus menentukan arah dan memberikan tanda bahaya jika ada lubang atau rintangan di depannya.

1.5         Tanda-Tanda Kehadiran Tikus
Ada beberapa tanda yang dapat diguanakan untuk mengetahui kehadiran tikus antara lain sebagai berikut :
a.         Feses atau kotoran
Bentuk dan ukuran feses dapat digunakan untuk menentukan spesies tikus.  Feses dari R. Norvegicus berbentuk gelendong dan biasanya bergerombol. Feses R. Rattus berukuran lebih kecil daripada fese R. Norvegicus , bnetuknay lebih mirip sosis dan letaknya agak terpencar. Keadaan feses apakah masih basah atau sudah kering dapat digunakn untuk mencirikan apakah tikus tersebut masih berada di sekitar tempat tersebut atau tidak. Feses banyak ditemukan pada titik dimana aktivitas tikus sangat tinggi. Misalnya pada runway utama, sudut ruangan, dekat sarang dan sumber makanan (Priambodo, 2003).
b.         Noda dan bau urin
Tikus mengeluarkan bau yang sangat khas, yaitu berupa bau urin dan fesesnya. Hal ini dapat diketahui jika tikus tersebut sudah lama menghuni suatu tempat atau bangunan. Dengan demikian, kehadiran tikus melalui bau tidak dapat dideteksi jika keberadaan tikus masih baru.
Urin banyak terdapat pada ranway tikus dan juga pusat aktivitas. Bau tikus merupakan akumulasi dari bau urin dan kelenjar tubuh lainnya. Biasanya tikus membuang urin sambil bergerak, sehingga terdapat garis-garis atau titik-titik urin. Tanpa cahaya hitam, spot urin sudah terlihat dengan jelas. Cahaya ultraviolet dengan cahaya putih dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan urin tikus, yaitu menampakkan warna kuning pada karung goni, warna biru putih pada kantung kertas (Priambodo, 2003)..
c.         Kerusakan hasil keratan
Kerusakan yang ditimbulkan oleh tikus biasanya berhubungan dengan pertumbuhan gigi seri yang terus-menerus sepanjang 0,3-0,4 mm/hari, sehingga perlu dikurangi. Selain itu, tikus perlu mengerat untuk mencari pakan yang tersembunyi di dalam kardus, kotak, atau tempat-tempat penyimpanan lainnya.
Berbagai bahan/benda dapat dikerat oleh tikus, yaitu aluminum, mortar, plastik, timah, kabel listrik, kayu, karton, dan kertas. Kerusakan pada benda-benda atau produk tanaman dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies tikus yang menyerangnya. Untuk tikus got pada gejala serangan terdapat bekas keratan gigi serinya selebar 3,5-4 mm, sedangkan untuk mencit rumah hanya selebar 1-2 mm saja. Serangan oleh tikus rumah menunjukkan bekas keratan yang berada diantara keduanya (Priambodo, 2003)..
d.        Tanda/noda olesan dan ranway
Sesuai dengan perilaku tikus yang selalu berjalan pada jalur jalan yang tetap (runway) maka pada jalur jalan tersebut tampak bekas sentuhan badan tikus dengan dinding atau benda-benda yang dilaluinya berupa bercak kotor. Selain itu, tikus juga menimbulkan jejak kaki (foot print) dan jejak ekor (tail print) di lantai, dinding, atau di tempat yang berdebu di dalam rumah atau pada tanah becek (berlumpur) di luar rumah.
Ukuran dan bentuk rupa jejak kaki tikus juga dapat dimanfaatkan untuk identifikasi spesies tikus. Utamanya jejak tungkai belakang dimana beban tubuh lebih bertumpu. Dalam keadaan tertentu perlu ditambah alas jejak (berupa triplek, seng, atau karton) yang diberi debu, bedak, tepung, kapur, atau tinta untuk memudahkan menandai jejak kaki, ekor, dan badan tikus.
e.         Sarang
Sarang tikus baik pada benda buatan manusia atau yang alami merupakan pertanda dari kemapanan suatu populasi tikus. Jika pada pintu masuk sarang tersebut ditutupi oleh jarring laba-laba atau reruntuhan puing-puing, maka dapat dipastikan bahwa sarang tersebut sudah ditinggalkan oleh tikus atau sudah tidak digunakan lagi.
Untuk mendeteksi sarang tikus apakah masih dihuni atau tidak dapat dilakukan dengan cara menutup semua pintu sarang tersebut dengan gundukan tanah atau benda lain yang ada disana. Kemudian keesokan harinya diamati apakah gundukan tanah tersebut sudah berlubang yang artinya sarang itu masih digunakan oleh tikus adalah jika tikus tersebut bersarang di dalam sumber makanannya. Kehadiran tikus di tempat tersebut biasanya susah untuk dideteksi.
f.          Tikus hidup atau mati dan suara tikus
Untuk dapat melihat tikus hidup yang aktif pada siang hari merupakan hal yang sulit dilakukan karena tikus adalah hewan yang aktif pada malam hari (nokturnal). Namun, jika populasi sudah sangat tinggi, maka pada siang hari pun dapat dijumpai tikus yang aktif mencari makan. Satu ekor tikus yang terlihat di siang hari menandakan ada lebih dari 10 ekor tikus lain bersembunyi di sekitarnya.
Jika melihat tikus yang sudah mati perlu diperhatikan apakah bangkainya masih segar atau sudah kering (kaku). Bangkai tikus yang masih segar mencirikan bahwa investasi tikus masih ada, sedangkan bangkai tikus yang sudah kering mencirikan keadaan sebaliknya(Priambodo, 2003).

1.6         Habitat
1)      Lahan kosong dan tidak terpelihara.
2)      Semak belukar.
3)      Rumpun bambu.
4)      Lahan pertanian termasuk tebu yang kotor oleh gulma atau serasah daun tebu.
5)      Tumpukan jerami atau sampah sisa bibit padi yang tidak tertanam.
6)      Pinggiran hutan sekunder.
7)      Pematang sawah.
8)      Sekitar aliran air irigasi, dam atau waduk irigasi, dan sungai.

1.7         Reproduksi
1)                    Matang seksual cepat, antara 2-3 bulan
2)                    Masa bunting tikus sawah singkat , antara 21-23 hari
3)   Terjadi Post partum oestreus, yaitu timbulnya  berahi kmbali segera (1-2 hari) setelah melahirkan
4)                    Jumlah keturunan per-induk tikus sawah rata-rata sebesar 10 sampai 14 ekor cindil.
5)   Saat periode puncak perkembang-biakannya, 92 % tikus bunting dijumpai sedang menyusui anaknya.
6)   Satu sarang sering dijumpai induk tikus hidup bersama dengan 2 – 3 generasi anak-anaknya.
7)                    Masa menyusui bagi anak tikus baru berhenti setelah berumur 18 – 24 hari.
8)                    Umur tikus bisa mencapai lebih dari satu tahun.

1.8         Kelebihan Tikus sawah
1.    Tikus mampu merusak tanaman budidaya dalam waktu yang singkat dan menimbulkan kehilangan hasil dalam jumlah yang besar, walaupun itu hanya dilakukan oleh beberapa tikus saja.
2.    Tikus mampu  merusak tanaman budi daya  dalam berbagai stadia umur pertumbuhan tanaman.
3.    Tikus mampu menimbulkan reaksi atau respon terhadap setiap tindakan pengendalian yang dilakukan oleh manusia, baik untuk menghindar (pada penggunaan perangkap) atau menghadapinya (penggunaab musuh alami berupa predator)

1.9  Gejala Kerusakan Tanaman
1.    Batang padi yang dipotong oleh keratan gigi seri tikus tampak tidak lurus, tetapi miring atau membentuk sudut 45°.
2.    Di sekitar batang tersebu, berceceran sisa-sisa potongan batang padi.
3.    Pada tanaman palawija, bagian yang dirusak atau di makan oleh tikus adalah buah atau tongkol (jagung), polong (kacang-kacangan)

1.10     Strategi Pengendalian Hama Tikus
1.    Pengendalian Dini
     Tindakan pengendalian seawal mungkin. Pengendalian ini sudah di persiapkan sejak awal tanam dan didasarkan pengalaman pada musim tanam sebelumnya.
2.    Pengendalian Serentak
     Dilaksanakan bersama-sama minimal dalam satu hamparan yang diorganisir oleh ketua kelompok tani. Mampu menghindari perpindahan tikus ke areal sekitarnya.
3.  Pengendalian Pada Areal yg Luas
Pengendalian pada areal yang luas minimal pada satu hamparan sawah. Pengendalian ini sejalan dengan pengendalian serentak.
4.  Pengendalian Kontinu
     Pengendalian yang dilakukan secara terus-menerus, sejak perencanaan, sampai menjelang panen.

1.11     Pengendalian Hama Tikus Sawah
1.    Pengendalian Kultur Teknis
a.       Pengaturan Pola Tanam
Pengaturan pola tanam adalah melakukan rotasi tanaman antara padi dengan palawija dan holtikultura sayuran. Tikus sawah sangat membutuhkan tanaman padi, terutama pada fase generatifnya untuk dapat makukan reproduksi secara optimal, sehingga jumlah anak yang dihasilkan dapat maksimal.
b.      Tanam serentak
Tujuannya:
1.   Membuat suatu masa bera dan masa generatif padi yang bersamaan.
2.   Menjadikan pertumbuhan populasi tikus  yang seragam sehingga lebih mudah diduga tingkat pupolasinya
3.   Memudahkan pengamatan kerusakan dan tindakan pengendalian karena pertumbuhan populasi tikus yang relatif seragam
4.   Kerusakan oleh tikus yang kungkin terjadi akan tersebar, tidak berpusat pada lahan yang sempit.
c.       Pengaturan Jarak Tanam
Caranya degan mengosongkan satu baris tertentu pada setiap jarak 1,5 m arah barisan timur barat sehingga di petak sawah terhadap celah yang tidak ditanami padi. Umumnya cara ini di aplikasikan pada jenis tanaman semusim karena kekurangan populasi tanaman hanya akan dirasakan semusim saja, sedangkan pada musim tanam berikutnya jarak tanam dapat kembali ke jarak semula.
d.      Penyempitan dan pembersihan pematang atau tanggul
·               Caranya dengan membuat pematang atau tanggul menjadi berukuran kecil (tinggi& lebar < 40 cm).
·               Hal ini akan membatasi tikus dlm membuat sarang dan dapat menekan pertumbuhan gulma.
·               Pembersihan pematang dari gulma juga akan mengurangi kemungkina tikus tinggal di tempat itu.
·               Tikus butuh pematang yang besar dan ditutupi rerumputan untuk membuat sarang yang memungkinkannya dapat berlindung dengan aman.
e.       Tanaman perangkap
·               Merupakan tindakan menanam varietas padi yang berumur pendek lebih awal dan disukai tikus pada areal yang sempit atau terbatas. Sehingga tanaman tersebut telah mncapai fase generatif sementara tanaman lain mencapai fase vegetatif.
·               Dengan cara ini, tikus akan tertarik untuk mengunjungi sehingga terkonsentrasi pada tempat tersebut. Sehingga pengendalian mekanis dapat diterapkan pada lokasi tersebut.

2.    Sanitasi Lingkungan
Pembersihan pada tempat-tempat yang tertutup oleh rerumputan, semak belukar terutama pada pematang sawah, pengairan dan lain-lain, dapat menghindari tempat tersebut dari tikus sawah. Setelah panen, sisa tanaman yang tidak di panen harus di bakar atau dikeluarkan dari tempat tersebut sehingga tidak di jadikan oleh tikus sebagai tempat berlindung atau tempat sumber pakan cadangan sampai musim tanam berikutnya.

3.    Pengendalian Fisik dan Mekanis
a.     Pagar plastik dan bubu perangkap
Dapat memberikan hasil efektif terutama di tempat persemaian padi. Dengan adanya pagar plastik, tikus akan berusaha mencari jalan masuk ke persemaian dan satu-satunya jalan masuk yang ada adalah menuju ke bubu perangkap yang di sekitar pintu masuknya sudah disamarkan dengan gundukan tanah atau di samarkan rerumputan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi tikus.

b.    Gropyokan
Ditujukan pada sarang tikus yang biasanya berada di pematang sawah, tepi saluran air atau pada lahan yang tidak di tanami. Pencarian tikus pad sarangnya seringkali di bantu dengan anjing yang sudah terlatih untuk mendeteksi keberadaan tikus. Anjing juga berfungsi untuk mengejar tikus yang lari dari sarangnya dan sekaligus memangsanya (pengendalian biologis).
Gropyokan dapat juga dilakukan dengan membongkar atau menggenangi liang tikus air  pada akhir stadia pertumbuhan ini dapat mengurangi kerusakan pada musim tanam berikutnya. Tindakan gropyokan yang dilakukan petani pada malam hari saat persemaian pada dengan bantuan alat penerang dapat memberikan hasil yang memuaskan karena pergerakan tikus agak terhambat dengan adanya alat penerang tersebut.
 
c.     Pengusiran tikus
 Dilakukan dengan cara menghasilkan bunyi-bunyian yang sangat ramai secara bersamaan. Tindakan mengusir tikus dengan cara ini bersifat sementara. Namun dapat memberikan hasil yang cukup baik terutama saat populasi tikus di areal penanaman cukup tinggi.

4.    Pengendalian Biologis
Pengendalian biologis terhadap tikus sawah bisa dengan menggunakan musuh alami dari tikus yaitu Anjing, Kucing liar, Ular, Musang, Garangan, dan Burung alap–alap tikus.
    
5. Pengendalian Kimiawi
a.     Pengumpanan Beracun
Rodentisida digunakan bila populasi tikus sawah masih cukup tinggi walaupun telah dilakukan berbagai macam pengendalian sebelumnya. Racun dapat berupa racun akut dan racun kronis.
Racun akut, bekerja cepat dengan cara merusak sistem syarang tikus. Contoh: arsenik trioksida, Calciferol, Norbormide dll. Racun akut digunakan pada populasi tikus yang sangat tinggi sehingga dapat menurunkan populasi secara cepat dalam waktu yang singkat.
Racun kronis (antikoagulan) bekerja dengan lambat dengan cara menghambat proses koagulasi atau penggumpalan darah serta memecah pembuluh darahkapiler tikus. Contoh: Warfarin, Bromadiolone dll. Penggunaan racun kronis terutma yang single dose (dosis sekali makan) ditujukan untuk populasi tikus yang tersisa setelah aplikasi racun akut.
Kelebihan dan kelemahan Racun akut:
Kelebihan
1.    Membunuh dengan cepat
2.    Tidak menimbulkan resistensi pada tikus
3.    Hanya membutuhkan sedikit umpan per tikus yang mati
4.    Tikus yang mati terlihat
Kelemahan
1.    Membutuhkan umpan pendahuluan
2.    Menyebabkan jera umpan
3.    Konsentrasi tinggi
4.    Harga mahal
5.    Berbahaya bagi hewan bukan sasaran

Kelebihan dan Kelemahan Racun kronis:
Kelebihan
1.    Tidak menyebabkan jera umpan
2.    Mudah aplikasinya
3.    Konsentrasi rendah
4.    Harga lebih murah dari racun akut
5.    Tidak perlu umpan pendahuluan
Kelemahan
1.    Tikus yang mati biasanya tidak terlihat
2.    Reaksi lambat
3.    Dapat menimbulkan resistensi

b.    Pengemposan tikus
Menggunakan alat empos yang dapat mengeluarkan asap beracun. Asap berasal dari pembakaran merang, sabut kelapa dengan penambahan belerang sehingga mghasilkan gas CO, CO2, SO2
Dapat pula menggunakan gas beracun dengan nama dagang Jossmikus yang juga mengandung belerang. Pengemposan dilaksanakan pada saat tanaman memasuki fase generatif.
 

1.12     PHT berdasarkan Stadia Pertumbuhan Tanaman
Stadia Pertanaman
             Tindakan Pengendalian
Pengolahan Tanah
Sanitasi lingkungan, Penyempitan pematang, Gropyokan , Perangkap biasa & Pengemposan / fumigasi
Persemaian
Gropyokan, Pemagaran plastik, Perangkap bubu, Pengusiran, Rodentisida
Tanam
Tanam serentak, Perangkap biasa, Pengusiran, Rodentisida
Stadia vegetatif
Perangkap bubu, Pengusiran, rodentisida
Stadia Generatif
Pengemposan dan pengusiran
Setelah Panen
Sanitasi Lingkungan, gropyokan, penggenangan lahan

Struktur umur populasi tikus sawah dilapangan 77% didominasi oles tikus-tikus yg berumur 1-6 bulan. Populasi  tikus yg berumur lebih dari 6 bulan dilapangan lebih rendah populasinya 23% dan tikus yang tertua  ditemukan  mencapai umur 2 tahun 4 bulan.
Struktur umur tikus  berkaitan dgn stadium pertumbuhan tanaman padi dan terjadinya kelahiran pada periode stadium padi generatif. Populasi tikus berumur muda (1-2 bulan) keberadaannya dominan pada periode stadium generatif, umur 2-6 bulan dominan pada periode bera, dan tikus berumur 4-12 bulan lebih banyak ditemukan pada stadium padi vegetatif.
HASIL DISKUSI

1.    Apakah tikus sawah dapat menyebabkan Leptospirosis dan mengapa tikus bisa menguntungkan bagi manusia?
·           Tikus sawah dapat menyebabkan leptospirosis apabila dalam urin tikus sawah telah terinfeksi oleh Spirochaeta Leptospira. Manusia dapat terinfeksi apabila mengalami kontak langsung dengan urine tikus. Pada  kasus tikus sawah, petani dapat terinfeksi apabila tidak menggunakan alat pelindung kaki (sepatu boot), sehingga memudahkan kontak dengan urin tikus.
·           Tikus ada yang menguntungkan, namun bukan jenis tikus sawah,  melainkan jenis tikus putih yang saat ini telah banyak dikembangbiakkan oleh beberapa orang untuk keperluan praktikum mahasiswa maupun murid sekolah.
2.    Manakah pengendalian tikus sawah yang paling efektif dan apa yang dimaksud dengan neophobia?
·           Pengendalian tikus sawah telah dijelaskan yaitu sesuai dengan stadia pertanamannya. Maka pengendalian akan efektif bila disesuaikan dengan hal tersebut.
·           Neophobia adalah sifat tikus yang mudah curiga terhadap setiap benda yang ditemuinya, termasuk pakannya.
3.    Bagaimana mekanisme racun akut dan racun kronis?
·           Racun akut bekerja dengan cepat dengan cara merusak sistem syaraf tikus. Racun akut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu toksisitas tinggi, sedang, dan rendah.
·           Racun kronis (antikoagulan) bekerja dengan lambat dengan cara menghambat proses koagulasi atau penggumpalan darah serta memecah pembuluh darah kapiler. Racun kronis berdasarkan saat diproduksinya terbagi menjadi dua, yaitu racun antikoagulan generasi I dan generasi II.
4.    Bagaimana waktu tanam serentak kaitannya dengan cuaca saat ini yang tidak menentu?
Petani harus memperhitungkan resiko melakukan upaya pengendalian ini. Upaya tanam serentak dilakukan agar kerusakan yang ditimbulkan tikus sawah tidak menyebar dan hanya berpusat di daerah itu saja. Sehingga walaupun cuaca tidak menentu, upaya ini tetap dapat dilakukan dengan penambahan metode pengaturan pola tanam. Saat musim hujan, di tanam padi, namun saat musim panas ditanam jagung. Metoe ini juga dapat membantu mengurangi populasi tikus sawah.
5.    Apakah air seni sapi mampu memabukkan bagi tikus sawah?
Bila hal ini pernah dilakukan dan terbukti mampu memabukkan tikus, maka hal ini bisa dikatakan benar. Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikannya. Dari segi estetik, bau air seni sapi akan sangat mengganggu petani. Namun, bila petani tidak peduli resiko baunya, maka pengendalian ini bisa efektif. Petani juga bisa melakukan pengendalian lain yang lebih efektif dan efisien.
6.    Apa yang dimaksud dengan tanda-tanda atau noda olesan (runaway) dan apakah sebuah kasus besar tentang kehilangan sejumlah besar padi akibat tikus sawah pernah terjadi di Indonesia?
·           Tikus selalu berjalan pada jalur yang tetap (runaway), pada jalur jalan tersebut tampak bekas sentuhan badan tikus dengan dinding atau benda-benda yang dilaluinya berupa bercak kotor. Selain itu, tikus juga menimbulkan jejak kaki (foot print) dan jejak ekor (tail print) di lantai, dinding, atau di tempat yang berdebu di dalam rumah atau pada tanah becek (berlumpur) di luar rumah. Pada areal persawahan, jejak kai dapat dilihat walaupun diatas tanah berlumpur dengan cara menaburkan debu atau tepung untuk lebih mudah mengidentifikasi kehadiran tikus sawah.
·           Indonesia pernah mengalami kehilangan hasil pertanian dalam jumlah yang besar pada tahun 1981-1990. Kehilangan hasil mencapai 2-18 % dan khusus untuk pulau Jawa mencapai 40 %. Dan luas intensitas serangan tikus rata-rata lebih dari 100.000 ha dengan intensitas serangan mencapai lebih dari 15% pada tahun 1981-1990



DAFTAR PUSTAKA

Priyambodo, Dr. Ir. Swastiko. 2003. Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Jakarta: Penebar Swadaya

Azwar, dr. Azrul. 1995. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya

Chandra, Dr. Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan  Lingkungan. Jakarta: EGC

Anonim. Tanpa tahun. Tikus Sawah (Rattus Argentiventer Rob & Kloss) . [serial online]. http://bbpadi.litbang.deptan.do.id//. 11 April 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar