RSS

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Hazard Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hazard Psikologi. Tampilkan semua postingan

Stressor Sebagai Hazard Psikologi

Stressor dan Hubungannya dengan Spesifikasi Pekerjaan
Stresor sering kali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume pekerjaan, lingkungan kerja, atau sebagai akibat ketidak harmonisan hubungan dengan individu lain ditempat kerja dan faktor-faktor budaya organisasi tempat kerja, beberapa stresor juga berhubungan pada identifikasi peranan seseorang diorganisasi tempat kerja (Ridwan Harrianto, 2010).
SISTEM TUGAS
Terdapat beberapa macam sistem tugas yang menjadi stresor, yaitu :
1.    Kerja lembur. Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi bila jumlah jam kerja menjadi berlebihan, ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas kerja, tetapi juga sering meningkatkan jumlah absensi dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja. Hal ini biasanya terjadi pada pekerja di industripengalengan buah biasanya banyak berhubungan dengan musim buah.
2.    Tugas kerja malam. Kerja malam merupakan tugas yang berat bagi pekerja, dan sering mengakibatkan timbulnya gangguan fisik akibat kurang tidur serta perubahan tingkah laku yang dapat mendorong individu untuk penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang serta perubahan kebiasaan makan. Pekerjaan yang memiliki stresor tersebut. Misalnya : Polisi, perawat, satpam, anggota pemadam kebakaran, dan pekerja di industri jasa (hotel, transportasi, dan lain-lain).
3.    Kecepatan mesin. Kecepatan kerja yang hanya berdasarkan pada kapasitas kecepatan mesin, sangat menguras energi fisik dan psikologis pekerja karena harus terpaku untuk menyesuaikan kecepatan mesin, ban berjalan, atau proses produksi sehingga pekerja tidak mungkin meninggalkan tempatnya sedetik pun tanpa digantikan atau ditolong temannya. Hal itu terjadi pada pekerja ditempat produknya dikontrol oleh mesin-mesin yang berkecepatan tinggi, atau produksi produk berdasarkan jadwal yang ketat.
4.    Gerakan tangan yang berulang secara monoton. Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan menggerakkan anggota badan secara berulang dan monoton, terkadang juga disertai posisi kerja yang janggal, atau sambil membawa atau menahan beban sering kali sangat memberatkan pekerja. Hal ini biasanya terjadi pada pekerjaan di industri penggergajian kayu, pengemasan, pemilihan, dan perakitan yang menggunakan ban berjalan.
5.    Kekangan. Kekangan menyebabkan tidak adanya kebebasan bekerja, misalnya thapan pekerjaan yang mempunyai jadwal tugas yang ketat dan mendetail. Pekerjaan yang memiliki stesor tersebut, misalnya pemeliharaan/perawatan/ pengujian mesin kapal terbang yang harus bekerja berdasarkan “checklist” yang ketat, pekerjaan mencocokkan/memasang/merakit elemen-elemen jadi bangunan rumah atau mesin, dan pekerjaan akunting.
6.    Komunikasi yang menjemukan atau membebankan. Pekerjaan yang memerlukan kontak yang memberatkan karena harus bernegosiasi untuk perihal yang sulit diterima atau tidak selaras dengan kehendak lawan bicara. Pekerjaan yang memiliki stresor tersebut, misalnya manajer perusahaan, personil promosi obat-obatan
(Ridwan Harrianto, 2010).

VOLUME PEKERJAAN
Volume kerja juga dapat menjadi stresor, yaitu :
1.    Volume pekerjaan yang berlebihan. Volume pekerjaan yang terlalu banyak dan dibatasi oleh waktu, antara lain :
a.    Pekerjaan yang dilakukan dengan tergesa-gesa karena waktu yang terbatas, misalnya costumer service yang harus melanyani pelanggan dengan antrian panjang untuk menunggu pelayanan, sekretaris dengan tugas yang bertumpuk.
b.    Permintaan untuk pengambilan keputusan yang rumit, misalnya petugas kendali mutu atau pekerjaan yang membutuhkan banyak masukan informasi.
(Ridwan Harrianto, 2010).
2.    Volume pekerjaan yang sangat kurang. Volume pekerjaan yang sangat kurang menyebabkan kurangnya rangsangan untuk bekerja, kurangnya variasi, tidak ada kreatifitas atau tuntutan untuk mengatasi masalah. Termasuk jenis pekerjaan misalnya :
a.    Tuntutan pekerjaan yang yang memerlukan perhatian penuh tetapi kurang rangsangan untuk bekerja. Pekerja harus tetap waspada dan harus selalu siap bereaksi bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, walaupun keadaan tersebut jarang sekali terjadi, seperti tugas pengawasan mesin dan peralatan yang digunakan secara reguler, tugas menjaga pintu kereta api, dan sebagainya.
b.    Pekerjaan yang menuntut kejelian, biasanya membutuhkan konsentrasi, perasaan, dan pengelihatan yang intens.
c.    Tidak diberi tugas karena atasan pilih kasih atau kemampuan pekerja kalah bersaing dengan yang lain.
(Ridwan Harrianto, 2010).

TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab untuk keselamatan dan kesejahtraan diri sendiri mencakup tanggung jawab untuk bekerja dengan aman merupakan faktor stres psikis pada pekerja karena harus selalu bekerja dengan hati-hati agar tidak membahayakan orang disekitarnya atau pun membahayakan dirinya sendiri. Pekerjaan dengan stressor semacam ini, misalnya operator mesin derek, pekerja yang menangani bahan-bahan kimia yang berbahaya atau mudah meledak, dan pilot. Tanggung jawab pekerjaan terhadap kesejahtraan masyarakat misalnyapekerja disektor kesehatan, pendidikan dan kesejahtraan lainnya. Tanggung jawab terhadap organisasi tempat kerja misalnya tanggung jawab terhadap peralatan dan bahan-bahan kerja yang bernilai tinggi (Ridwan Harrianto, 2010).

KONDISI FISIK atau LINGKUNGAN KERJA
Adanya ancaman terpajan kondisi fisik tempat kerja yang kurang menyenangkan atau kontak dengan bahan-bahan beracun, misalnya :
1.    Bekerja pada tempat yang sunyi/terpencil, sperti pekerjaan yang membuttuhkan kesendirian dan tak memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang lain atau pekerjaan pada situasi yang sulit atau terncam bahaya sehinggga tak memungkinkan pekerja untuk mencari pertolongan dari teman kerja atau siapapun, misalnya tugas pengawasan atau penjagaan yaitu penjaga mercusuar, tugas jaga malam, operator telegraf, pekerjaan yang tidak mengharuskan untuk kontak langsung dengan langganan, atau konsumen.
2.    Tempat kerja yang jauh atau sulit dijangkau.
3.    Pajanan ditempat kerja. pajanan ditempat kerja umumnya dalam bentuk pajanan fisik dan kimiawi, sperti suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, tempat kerja yang sempit dan berdeesakan, ventilasi buruk, penerangan yang kurang baik, vibrasi, masalah-masalah ergonomi, tempat kerja yang bising, bau yang tidak sedap, debu kerja, dan substansi kimia yang berbahaya
(Ridwan Harrianto, 2010).
.
            ORGANISASI TEMPAT KERJA
1.    Perubahan
Perubahan yang terjadi ditempat kerja merupakan salah satu penyebab utama dari stres. Perubahan sering kali berarti terjadi suatu kehilangan, seperti diberlakukannya teknik baru ditempat kerja, penggantian supervisor, restrukturisasi organisasi, pemberian tugas baru yang sukar dilaksanakan, pindah bagian, atau dibebastugaskan sebagai pimpinan.
2.    Manajemen yang otokratis
Pada perusahaan dengan manajemen yang otokratis, biasanya komunikasi atasan dan bawahan tidak berjalan dengan baik. Sering kali para pekerja dibebankan oleh dua perasaan yang berlawanan sehingga mendorong timbulnya stres. Perasaan tersebut biasanya timbul bila para pekerja mengerti apa yang mereka harus perbuat, padahal kenyataannya hal itu tak dapat dilaksanakan.
Komunikasi yang buruk juga biasanya mencetuskan timbulnya perasaan ketidakpuasan, kuranganya penghargaan, konflik pada rantai komando, atau konflik perbedaan tuntutan para pekerja pada manajemen dapat menimbulkan konflik dengan teman sekerja. Perasaan ketidakpuasan tersebut juga timbul bila pekerja harus mengerjakan perintah yang tak disukainya atau bila perintah tidak tercantum dalam deskripsi pekerjaan, kurangnya dukungan dana atau fasilitas lainnya dari manajemen guna menyelesaikan tugas, atau tidak diberikannya kekuasaan untuk memutuskan masalah dalam menyelesaikan tugas, yang merupakan stresor psikologis yang penting.
3.    Pengembangan karir
Ancaman dipecat, diturunkan pangkat, dipensiunkan lebih dini karena sakit, ada hambatan untuk promosi, atau mendapat promosi untuk pekerjaan yang kurang dikuasai, dapat menimbulkan kecemasan yang hebat.
(Ridwan Harrianto, 2010).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Identifikasi hazard Psikologi

A.   Hazard Psikologi
Setiap aktivitas normal akan membeuahkan stress, dan stress tak dapat dihindari. Stress hanya dapat ditoleransi dalam waktu yang terbatas. Oleh karena tidak ada dua individu yang benar-benar identik, maka stress yang sama tidak akan memiliki pengaruh yang serupa pada masing-masing individu, dan intensitasnya juga sangat bervariasi (Ridwan Harrianto, 2010).
Hubungan antara masing-masing perubahan patologis seorang individu tidak banyak diketahui secara menditail, tetapi kebanyakan peneliti mengakui bahwa rangsangan psikologis (stresor) termasuk stress akibat pekerjaan meruapakan faktor pemicu yang penting untuk timbulnya suatu penyakit tertentu, seperti jantung iskemik, hipertensi esensial dll.
Peranan faktor psikologis pun menjadi jelas setelah terdapat penelitian lain membuktikan adanya beberapa stresor psikologis yang bermakna sebagai penyebab terjadinya penyakit penyumbatan pembuluh jantung, seperti :
1.    Perubahan jenis pekerjaan
2.    Perubahan besar-besaran pada jadwal kerja
3.    Perubahan tingkat tanggung jawab
4.    Ketidaksesuaian dengan atasan
5.    Ketidaksesuaian dengan teman-teman sekerja

Ø  Stresor Psikologis
Pekerjaan sendiri tidak selalu sebagai satu-satunya sumber penyebab gangguan psikologis, tetapi dapat mempengaruhi status kerentanan individu terhadap kegagalan tertentu dilingkungan pekerjaan yang penuh dengan stresor fisik, emosional, dan mental. Stresor fisik ditempat kerja, seperti bising, penerangan yang kurang memadai, temperatur ruang yang terlalu tinggi,serta bahaya-bahaya fisik lainnya (Ridwan Harrianto, 2010).
Bahaya kerja kimiawi, misalnya debu kerja yang berlebihan, atau bahaya kerja ergonomis, seperti meja kerja yang terlalu tinggi atau rendah, jangkauan yang jauh, bekerja dengan posisi jangggal, dll. Stresor mental atau emosional, dapat berupa kondisi yang tidak menyenangkan, atau bahkan kodisi yang menyenangkan, misalnya suatu promosi dapat mengakibatkan timbulnya stres akibat perubahan posisi (Ridwan Harrianto, 2010).
Masalah-masalah dalam pekerjaan lainnya, seperti pindah bagian, menganggur, dan pensiun sering kali juga menimbulkan kerentanan untuk timbulnya gangguan-gangguan psikologis. Kondisi-kondisi lainnya, seperti terlalu banyak tugas, atau sebaliknya tidak diberi tugas, tidak memiliki kekuasaan untuk melaksanakan tugas, atau atasan yang tidak menyokong dalam pelaksanaan tugas juga menjadi sumber konflik ditempat kerja (Ridwan Harrianto, 2010).
Stresor bersifat progesif. Respon individu dalammenghadapi stresor pun bergantung pada potensi pemahaman tentang nilai-nilai pemecahan masalah, pengalaman, dan daya penyesuaian dirinya. Suatu stresor tunggal dapat menjadi majemuk jika terjadi kegagalan elemen dari sistem penyokong emosi, misalnya jika mobil mogok dijalan pada saat menuju tempat rapat (Ridwan Harrianto, 2010).

Ø  Tahapan Reaksi Tubuh
Dalam menghadapi stressor, manusia mengalami tiga tahapan reaksi tubuh, yaitu reaksi alarm, tahap kebal, dan tahap kelelahan (Ridwan Harrianto, 2010).

Ø  Reaksi alarm (tanda bahaya)
Reaksi merupakan respon yang datang dengan cepat ketika manusia menghadapi suatu tantangan atau ancaman. Pada tahap ini, tubuh belum dapat beradaptasi terhadap pajanan ancaman bahaya (Harianto, 2010).
Terjadi mobilisasi dari sistem saraf otonom yang mencetuskan respon stres dalam bentuk respons perlawanan (fight) atau respons menhindar (flight) (Ridwan Harrianto, 2010).
Bermacam-macam sistem tubuh turut mengoordianasi kesiapsiagaan untuk bereaksi, mempengaruhi kejiwaan (sistem limbik), pengaturan sistem kardiovasikuler, pernapasan, ketegangan otot, dan aktivitas motorik yang halus (Ridwan Harrianto, 2010).

Ø  Tahap kebal (resisten)
Reaksi alarm tidak dapat dijaga untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Pajanan yang berkepanjangan terhadap stresor akan menyebabkan individu menjadi kebal. Pada tahap ini sesungguhnya tubuh sudah dapat beradaptasi, ketika individu mengembangkan suatu strategi perjuangan untuk bertahan hidup dan membina daya perlawanan justru untuk merendam respons stresor yang telah dimulai pada tahap sebelumnya (Ridwan Harrianto, 2010). 
Mekanisme penanggulangan ini ternyata dapat menguntungkan dan dapat pula merugikan bagi perkembangan mental individu. Kenyataannya, individu cenderung untuk lebih baik dalam melaksanakan penanggulangan dengan cara yang cepat dari pada cara yang lebih lama dan mmencoba melarikan diri dari kondisi yang kurang menyenangkan. Sayangnya, cara penanggualangan yang cepat, walaupun paling mudah, biasanya tidak memedai karena dengan cara ini biasanya akan timbul masalah-masalah sekunder pada jangka panjang dalam bentuk menurunnya penampilan diri.
Pada tahap ini, individu sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan untuk mengidentifikasi cara-cara penanggulangan yang dapat mendorong dirinya untuk memahami keuntungan dari cara penanggulangan yang lebih lama.
Ø  Tahap Kelelahan
Gejala fisik dari tahap awal kelelahan tampak sebagai perasaan lelah yang berlebihan, lemah, dan tidak memiliki daya. Tanda-tanda non-spesifik lainnya biasanya dalam bentuk pengelihatan kabur, rasa pusing, vertigo, tangan tremor, nyeri otot, palpitasi, napas terasa berat, nyeri dada, sesak napas atau gangguan pernapasan yang lain, gejala gangguan saluran pencernaan seperti rasa kering dimulut, rasa leher tercekik, mual atau muntah, konstipasi yang menahun, diare atau sakit perut yang melilit (Ridwan Harrianto, 2010).
Gejala emosi saat stres pada tahap kelelahan berhubungan dengan sindrom dpresi dan frustasi, manifestasinya dalam bentuk tangisan yang tak terkontrol, perasaan takut mati, tidak berani bicara didepan publik, mudah terkejut, tidak suka berteman atau bertemu keluarga atau menyalurkan hobinya, kurang perhatian pada hal-hal personal seperti olahraga, pakaian, dan makan, pada kasus-kasus yang ekstrem, individu dapat merusak diri atau percobaan bunuh diri, mudah marah, dingin dan kaku pada orang lain, serta diiringi perasaan bersalah yang berlebihan. Serangan panik dan gelisah dapat mengakibatkan kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan sehingga akan menambah stres ditempat kerja karena gejala tersebut terlihat oleh teman-teman kerjanya (Ridwan Harrianto, 2010).
Difungsi mental pada tahap kelelahan tampak sebagai gangguan tidur, seperti sulit bangun tidur, bangun tidur terlalu dini yang disertai dengan mimpi buruk, hilangnya daya konsentrasi dan koordinasi. Hal ini mendorong timbulnya gangguan penampilan ditempat kerja dan kemampuan untuk mempertimbangkan suatu masalah, sehingga tidak jarang timbul perilaku negatif dalam memutuskan suatu masalah, sehingga tidak jarang timbul keragu-raguan dalam memutuskan suatu masalah (Ridwan Harrianto, 2010).
Ditempat kerja, tanda-tanda disfungsi mental biasanya lebih mudah tampak dari pada tanda-tanda gangguan fisik karena gejala tersebut berhubungan langsung dengan penampilan kerja dan dapat dirasakan dengan jelas oleh teman sekerja. Hal ini mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri dan gangguan kontrol individu sehingga makin mendorong penurunan penampilan dirinya. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan pemenang serta obat-obatan yang lain, merokok berlebihan sering kali menjadi solusi yang diambil oleh individu tersebut (Ridwan Harrianto, 2010).

Ø  Stressor dan Hubungannya dengan Spesifikasi Pekerjaan
Stresor sering kali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume pekerjaan, lingkungan kerja, atau sebagai akibat ketidak harmonisan hubungan dengan individu lain ditempat kerja dan faktor-faktor budaya organisasi tempat kerja, beberapa stresor juga berhubungan pada identifikasi peranan seseorang diorganisasi tempat kerja (Ridwan Harrianto, 2010).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pendekatan Kesehatan Jiwa Wanita Menopause

Oleh : dr.Andri,SpKJ *
Menopause adalah suatu fase kehidupan yang akan dialami semua wanita yang mengalami menstruasi. Terlepas dari fisiologi terjadinya menopause itu sendiri, seringkali wanita yang mengalami menopause mengalami keadaan psikologis yang sering membuat kualitas hidupnya menurun.
Beberapa gejala terkait psikologis yang sering muncul akibat menopause adalah gangguan tidur, perubahan libido, suasana perasaan yang tidak menentu (mood swings), mudah tersinggung, mudah menangis, kecemasan, nafsu makan bertambah, mudah lupa dan kelelahan.

Aspek kesehatan jiwa menopause
Pembicaraan tentang menopause di negara maju selalu menimbulkan pro dan kontra. Kelompok feminis merasa enggan membicarakan hal ini karena dianggap merendahkan wanita. Pembicaraan tentang reproduksi hormon wanita kerap memunculkan kemarahan di kalangan tertentu. Isu persamaan jender menjadi hal yang sangat menjadi penghambat membicarakan hal ini secara terbuka.
Pandangan beberapa psikoanalisis mengenai hal ini adalah bahwa pria dan wanita sama-sama menyangkal adanya perubahan fisik, perilaku dan suasana perasaan akibat menopause. Penyangkalan ini adalah suatu upaya untuk mempertahankan diri dari sebuah perasaan kehilangan dan keterbatasan yang secara alami terjadi pada usia-usia wanita yang mengalami menopause. Para ahli psikoanalisis belakangan ini menyimpulkan bahwa menopause sangat berarti bagi seorang wanita, merupakan jati diri dari subuah feminitas seorang wanita.
Penelitian saat ni menemukan bukti bahwa depresi pada masa transisi menopause merupakan hal yang bersifat mandiri. Artinya, sedikit sekali dipengaruhi oleh riwayat keluarga dan usia awitan terjadinya gangguan depresi yang biasanya lebih muda. Penelitian yang bersifat potong lintang ataupun berbasis masyarakat juga menyimpulkan adanya hubungan antara masa transisi menopause dengan terjadinya gejala-gejala gangguan depresi.
Terdapat dua teori tentang terjadinya peningkatan gangguan depresi pada masa transisi menopause. Pertama adalah teori estrogen withdrawal yang searah idenya dengan teori aksis Hipothalamus Pituitary Gonadal (HPG) yang menyebabkan gangguan depresi. Estrogen dipercaya memiliki kualitas sebagai antidepresan, yang meningkatkan fungsi serotonergik. Peningkatan insiden depresi dan gangguan vasomotor pada wanita yang mengalami penurunan estrogen akibat pembedahan mendukung teori ini. Beberapa penilitian bahkan menerangkan adanya hubungan antara fungsi ovarium dengan perbaikan suasana perasaan (mood).
Teori yang kedua disebut teori Domino. Wanita yang mengalami menopause mengalami banyak keluhan somatik seperti keringat malam, gangguan tidur yang mengarah ke ketidakstabilan mood dan depresi. Akan tetapi depresi seperti yang disebutkan di atas terkadang tidak disertai dengan gejala vasomotor, dan penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa estrogen dapat memperbaiki moodpada wanita yang tidak mengalami hot flushes.
Gangguan cemas juga seringkali meningkat pada masa transisi menopause yang kadang disertai serangan panik. Terkadang gejala ini sulit dibedakan dengan hot flush.
Tatalaksana depresi wanita menopause
Estrogen dengan segala kontroversinya telah digunakan untuk mengatasi depresi pada wanita menopause sejak tahun 1930an. Penelitian saat ini telah menunjukkan estrogen efektif mengobati depresi pada transisi menopause namun tidak pada fase yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pengenalan fase menopause oleh dokter menjadi sangat penting dalam keberhasilan terapi. Fluktuasi hormon pada fase ini juga yang sering disebut memberikan kontribusi terhadap terjadinya depresi.
Antidepresan terutama golongan SSRI juga membantu dalam tatalaksana karena sifatnya yang membantu kerja dari estrogen. Penelitian terakhir mengatakan bahwa terapi hormon menambah kerja dari antidepresan golongan SSRI ini dan pada suatu penelitian meningkatkan kognisi serta mengurangi kecemasan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pasien jika mengalami gejala menopause :
1.    Pemeriksaan fisik oleh dokter ahli spesialis kandungan (SpOG)
2.    Pemeriksaan laboratorium penunjang yang perlu (termasuk fungsi hormon)
3.    Pemeriksaan status kesehatan jiwa termasuk skrining adanya gangguan kesehatan jiwa pada klien oleh psikiater (dr.SpKJ)
4.    Tatalaksana sesuai hasil pemeriksaan status kesehatan klien baik secara hormonal, farmakoterapi maupun psikoterapi/konseling
Sehingga adalah benar jika penatalaksanaan pasien dengan gejala emosional pada pasien menopause haruslah merupakan kerjasama antara dokter spesialis kebidanan dengan dokter spesialis kedokteran jiwa agar mencapai hasil yang maksimal.
* Psikiater Psikosomatik Medis Klinik Psikosomatik RS OMNI, Alam Sutera Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine (APM)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kesepian Bisa Buat Berat Badan Naik



Liputan6.com, Texas: Tak sedikit orang yang merasa kesepian. Namun hati-hati jika Anda kesepian karena berpengaruh terhadap kestabilan berat badan.

Demikian dikatakan Psikoterapis dari The Methodist Weight Management Center, Mary Jo Rapini, seperti dilansir Zee News, Jumat (24/12).

Raipini beranggapan bahwa seseorang yang merasa kesepian akan melampiaskan perasannya tersebut dengan makan makanan yang manis ataupun berlemak. Efek yang ditimbulkan tidak hanya sampai di situ. Setelah tidak dapat mengontrol pola makan yang berimbas pada kenaikan berat badan, seseorang tersebut akan tambah depresi dan tidak percaya diri tatkala dirinya menyadari penambahan bobot tubuhnya. Bahkan ini semua akan berujung pada deperesi yang akan mengancam kesehatan jiwa.

Rapini menambahkan, mengungkapkan perasaan baik dengan cara berbincang dengan orang lain maupun dengan menulis dalam buku harian adalah hal yang sangat efektif. (MEL)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lelahnya Kerja di Jepang


Bekerja adalah kewajiban bagi semua orang dan kemauan bagi beberapa orang. Namun aktivitas fisik tetap memiliki keterbatasan yang mutlak, kemempuan dan keterbatasan manusia tidaka dapat disamakan dengan mesin.


Perwujudan kepedulian pada para Pekerja diprioritaskan pada penanganan Health and Safety yang diterapkan pada beberapa perusahaan. Namun hal ini rupanya masih kurang dapat mencapai efisiensi pada pekerja di Jepang.




Jepang merupakan Negara yang paling maju di Asia baik di bidang Teknologi, Industri, dan beberapa ilmu IPTEK lainnya. Begitu banyak orang yang berminat kerja di Jepang, namun pertimbangkan lagi....

Beginilah liku-liku kehidupan para pekerja di Jepang


Kondisi Berangkat Kerja










Di Tempat Kerja













Kondisi Pada Jam Pulang Kerja







  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS