RSS

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Menopause. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menopause. Tampilkan semua postingan

Perempuan Jelang Menopause Rentan Obesitas

Jakarta, Kompas - Perempuan menjelang menopause paling rentan menderita obesitas. Padahal, obesitas dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

”Perempuan menjelang menopause sangat rentan obesitas lantaran metabolisme tubuh melemah. Proses pembakaran dalam tubuh menjadi lebih rendah,” kata Samuel Oentoro, ahli gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jumat (8/4), dalam jumpa pers terkait seminar dan kursus mengenai obesitas.
Acara yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Gizi FKUI itu bertema ”Management of Obesity and Its Related Problems” pada 9-10 April 2011.
Kelebihan berat badan dan obesitas umumnya diukur dengan body mass index (BMI). Nilai BMI didapat dari berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (meter). Seseorang dikategorikan kelebihan berat badan jika BMI 25 kilogram per meter kuadrat. Adapun yang memiliki BMI lebih dari 30 digolongkan menderita obesitas. Batas BMI normal 18,5 - 24,9.
Menopause merupakan proses degenerasi yang antara lain disertai kemunduran metabolisme tubuh dan penurunan produksi hormon yang berperan dalam proses di dalam tubuh. Samuel mengatakan, semakin melemahnya metabolisme tubuh, konsumsi makanan harus dibatasi dengan menerapkan diet sehat, yakni kaya serat buah dan sayur serta rendah lemak.
Untuk menjaga aktivitas tubuh, harus olahraga lebih dari 30 menit tiap hari, misalnya jalan kaki. Untuk yang obesitas, dianjurkan bersepeda dan berenang agar tidak terlalu banyak beban di persendian kaki.
Seiring perkembangan zaman, tidak hanya perempuan yang rawan menderita obesitas, melainkan juga anak-anak. Perubahan pola makan seperti konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis membuat obesitas menjadi masalah sejak kanak-kanak.
Samuel menyatakan, obesitas merupakan penyakit yang harus ditangani. Penanganan masalah berat badan berlebih berpegang pada pola diet yang sehat (seimbang jumlah dan jenis), aktivitas tubuh (olahraga), dan perubahan perilaku. Jika itu tidak berhasil, pasien mengonsumsi obat di bawah pengawasan dokter. Operasi untuk mengatasi masalah kegemukan merupakan solusi paling akhir.
Ahli gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus ketua panitia seminar dan kursus obesitas, Inge Permadhi mengatakan, keberhasilan penatalaksanaan obesitas sangat berperan penting untuk memperbaiki risiko, seperti hipertensi, diabetes melitus, dan jantung koroner.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, lebih dari 1 miliar orang dewasa di dunia mengalami kelebihan berat badan dan paling sedikit 300 juta di antaranya penderita obesitas. Penurunan berat badan akan jauh lebih berhasil jika didukung program yang sesuai kebutuhan pasien untuk mencapai penurunan berat badan yang optimal dan menjaga berat badan tetap normal melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, perubahan perilaku, dan pengobatan jika diperlukan di bawah pengawasan dokter.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pendekatan Kesehatan Jiwa Wanita Menopause

Oleh : dr.Andri,SpKJ *
Menopause adalah suatu fase kehidupan yang akan dialami semua wanita yang mengalami menstruasi. Terlepas dari fisiologi terjadinya menopause itu sendiri, seringkali wanita yang mengalami menopause mengalami keadaan psikologis yang sering membuat kualitas hidupnya menurun.
Beberapa gejala terkait psikologis yang sering muncul akibat menopause adalah gangguan tidur, perubahan libido, suasana perasaan yang tidak menentu (mood swings), mudah tersinggung, mudah menangis, kecemasan, nafsu makan bertambah, mudah lupa dan kelelahan.

Aspek kesehatan jiwa menopause
Pembicaraan tentang menopause di negara maju selalu menimbulkan pro dan kontra. Kelompok feminis merasa enggan membicarakan hal ini karena dianggap merendahkan wanita. Pembicaraan tentang reproduksi hormon wanita kerap memunculkan kemarahan di kalangan tertentu. Isu persamaan jender menjadi hal yang sangat menjadi penghambat membicarakan hal ini secara terbuka.
Pandangan beberapa psikoanalisis mengenai hal ini adalah bahwa pria dan wanita sama-sama menyangkal adanya perubahan fisik, perilaku dan suasana perasaan akibat menopause. Penyangkalan ini adalah suatu upaya untuk mempertahankan diri dari sebuah perasaan kehilangan dan keterbatasan yang secara alami terjadi pada usia-usia wanita yang mengalami menopause. Para ahli psikoanalisis belakangan ini menyimpulkan bahwa menopause sangat berarti bagi seorang wanita, merupakan jati diri dari subuah feminitas seorang wanita.
Penelitian saat ni menemukan bukti bahwa depresi pada masa transisi menopause merupakan hal yang bersifat mandiri. Artinya, sedikit sekali dipengaruhi oleh riwayat keluarga dan usia awitan terjadinya gangguan depresi yang biasanya lebih muda. Penelitian yang bersifat potong lintang ataupun berbasis masyarakat juga menyimpulkan adanya hubungan antara masa transisi menopause dengan terjadinya gejala-gejala gangguan depresi.
Terdapat dua teori tentang terjadinya peningkatan gangguan depresi pada masa transisi menopause. Pertama adalah teori estrogen withdrawal yang searah idenya dengan teori aksis Hipothalamus Pituitary Gonadal (HPG) yang menyebabkan gangguan depresi. Estrogen dipercaya memiliki kualitas sebagai antidepresan, yang meningkatkan fungsi serotonergik. Peningkatan insiden depresi dan gangguan vasomotor pada wanita yang mengalami penurunan estrogen akibat pembedahan mendukung teori ini. Beberapa penilitian bahkan menerangkan adanya hubungan antara fungsi ovarium dengan perbaikan suasana perasaan (mood).
Teori yang kedua disebut teori Domino. Wanita yang mengalami menopause mengalami banyak keluhan somatik seperti keringat malam, gangguan tidur yang mengarah ke ketidakstabilan mood dan depresi. Akan tetapi depresi seperti yang disebutkan di atas terkadang tidak disertai dengan gejala vasomotor, dan penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa estrogen dapat memperbaiki moodpada wanita yang tidak mengalami hot flushes.
Gangguan cemas juga seringkali meningkat pada masa transisi menopause yang kadang disertai serangan panik. Terkadang gejala ini sulit dibedakan dengan hot flush.
Tatalaksana depresi wanita menopause
Estrogen dengan segala kontroversinya telah digunakan untuk mengatasi depresi pada wanita menopause sejak tahun 1930an. Penelitian saat ini telah menunjukkan estrogen efektif mengobati depresi pada transisi menopause namun tidak pada fase yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pengenalan fase menopause oleh dokter menjadi sangat penting dalam keberhasilan terapi. Fluktuasi hormon pada fase ini juga yang sering disebut memberikan kontribusi terhadap terjadinya depresi.
Antidepresan terutama golongan SSRI juga membantu dalam tatalaksana karena sifatnya yang membantu kerja dari estrogen. Penelitian terakhir mengatakan bahwa terapi hormon menambah kerja dari antidepresan golongan SSRI ini dan pada suatu penelitian meningkatkan kognisi serta mengurangi kecemasan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pasien jika mengalami gejala menopause :
1.    Pemeriksaan fisik oleh dokter ahli spesialis kandungan (SpOG)
2.    Pemeriksaan laboratorium penunjang yang perlu (termasuk fungsi hormon)
3.    Pemeriksaan status kesehatan jiwa termasuk skrining adanya gangguan kesehatan jiwa pada klien oleh psikiater (dr.SpKJ)
4.    Tatalaksana sesuai hasil pemeriksaan status kesehatan klien baik secara hormonal, farmakoterapi maupun psikoterapi/konseling
Sehingga adalah benar jika penatalaksanaan pasien dengan gejala emosional pada pasien menopause haruslah merupakan kerjasama antara dokter spesialis kebidanan dengan dokter spesialis kedokteran jiwa agar mencapai hasil yang maksimal.
* Psikiater Psikosomatik Medis Klinik Psikosomatik RS OMNI, Alam Sutera Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine (APM)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS