RSS

Halaman

Menanam Rasa Bersalah, Cuci Otak ala NII


Kompas.com — Belakangan ini, istilah cuci otak begitu populer di media. Teknik cuci otak disebut-sebut dipakai oleh organisasi Negara Islam Indonesia (NII) untuk merekrut anggotanya. Korban pun berjatuhan. Sebenarnya, bagaimana mekanisme cuci otak ini terjadi?
Setelah dibangkitkan rasa bersalah luar biasa, kemudian anggotanya diminta melakukan penebusan dosa-dosa.






Cuci otak pada dasarnya merupakan proses pembelajaran untuk memengaruhi pikiran seseorang. Dalam kasus NII, menurut dr Surjo Dharmono, SpKJ (K), proses pembelajaran itu dilakukan dalam tekanan dan dilakukan secara terus-menerus sehingga tercipta pandangan hidup yang baru.
"Karena proses pembelajarannya salah, akan tercipta pola yang salah, dan ini akan menimbulkan perasaan kacau dan labil bagi orang yang menerima pembelajaran itu," kata Surjo di sela-sela acara seminar "Mengelola Stres dan Depresi dengan Benar" di Jakarta, Kamis (5/5/2011).
Proses penanaman ideologi dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari hipnotis, ceramah, hingga proses pembelajaran. "Bila dilakukan oleh orang yang punya otoritas dan dipercaya, proses menginduksi pikiran-pikiran baru lebih mudah," kata koordinator psikiatri komunitas dari Departemen Psikiatri FKUI/RSCM ini.
Sementara itu, cendekiawan Muslim Prof Dr Jalaluddin Rahmat menyebutkan, proses cuci otak yang dilakukan suatu kelompok untuk mendapatkan anggota banyak dipraktikkan oleh kelompok yang eksklusif atau disebut dengan istilah cult (kultus).
Kelompok-kelompok tersebut melakukan proses penanaman ideologi baru dengan cara menanamkan perasaan bersalah kepada para anggotanya, yang kemudian kesalahan itu wajib ditebus.
"Setelah dibangkitkan rasa bersalah luar biasa, kemudian anggotanya diminta melakukan penebusan dosa-dosa itu, misalnya dengan menyetorkan dana. Mereka juga menyebutkan akan datangnya penyelamat dunia dan kelompok itu adalah manusia-manusia pilihan," katanya dalam acara yang sama.
Kelompok tersebut biasanya sangat eksklusif dan membatasi informasi yang bisa diterima anggotanya. "Anggota kelompok dilarang menerima informasi dari luar, bahkan pergaulan pun dibatasi. Memilih teman dan jodoh pun sudah diatur," ujarnya.
Dengan cara-cara tersebut, lambat laun akan timbul rasa ketergantungan yang tinggi pada kelompoknya sehingga akan sulit bagi mereka untuk keluar dari kelompok tersebut.
"Bila keluar dari kelompok pun, akan timbul rasa ketakutan dan sulit beradaptasi dengan masyarakat sehingga mereka jadi berbalik mendukung kelompoknya. Ketergantungan pada kelompoknya itu mirip dengan kecanduan narkoba, menimbulkan addicted," katanya.
Agar benar-benar terlepas dari kelompok semacam itu, Surjo mengatakan perlu dilakukan terapi khusus untuk mengembalikan pola pikir yang benar. "Perlu ada proses konseling psikologis yang intens," katanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perempuan Jelang Menopause Rentan Obesitas

Jakarta, Kompas - Perempuan menjelang menopause paling rentan menderita obesitas. Padahal, obesitas dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

”Perempuan menjelang menopause sangat rentan obesitas lantaran metabolisme tubuh melemah. Proses pembakaran dalam tubuh menjadi lebih rendah,” kata Samuel Oentoro, ahli gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jumat (8/4), dalam jumpa pers terkait seminar dan kursus mengenai obesitas.
Acara yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Gizi FKUI itu bertema ”Management of Obesity and Its Related Problems” pada 9-10 April 2011.
Kelebihan berat badan dan obesitas umumnya diukur dengan body mass index (BMI). Nilai BMI didapat dari berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (meter). Seseorang dikategorikan kelebihan berat badan jika BMI 25 kilogram per meter kuadrat. Adapun yang memiliki BMI lebih dari 30 digolongkan menderita obesitas. Batas BMI normal 18,5 - 24,9.
Menopause merupakan proses degenerasi yang antara lain disertai kemunduran metabolisme tubuh dan penurunan produksi hormon yang berperan dalam proses di dalam tubuh. Samuel mengatakan, semakin melemahnya metabolisme tubuh, konsumsi makanan harus dibatasi dengan menerapkan diet sehat, yakni kaya serat buah dan sayur serta rendah lemak.
Untuk menjaga aktivitas tubuh, harus olahraga lebih dari 30 menit tiap hari, misalnya jalan kaki. Untuk yang obesitas, dianjurkan bersepeda dan berenang agar tidak terlalu banyak beban di persendian kaki.
Seiring perkembangan zaman, tidak hanya perempuan yang rawan menderita obesitas, melainkan juga anak-anak. Perubahan pola makan seperti konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis membuat obesitas menjadi masalah sejak kanak-kanak.
Samuel menyatakan, obesitas merupakan penyakit yang harus ditangani. Penanganan masalah berat badan berlebih berpegang pada pola diet yang sehat (seimbang jumlah dan jenis), aktivitas tubuh (olahraga), dan perubahan perilaku. Jika itu tidak berhasil, pasien mengonsumsi obat di bawah pengawasan dokter. Operasi untuk mengatasi masalah kegemukan merupakan solusi paling akhir.
Ahli gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus ketua panitia seminar dan kursus obesitas, Inge Permadhi mengatakan, keberhasilan penatalaksanaan obesitas sangat berperan penting untuk memperbaiki risiko, seperti hipertensi, diabetes melitus, dan jantung koroner.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, lebih dari 1 miliar orang dewasa di dunia mengalami kelebihan berat badan dan paling sedikit 300 juta di antaranya penderita obesitas. Penurunan berat badan akan jauh lebih berhasil jika didukung program yang sesuai kebutuhan pasien untuk mencapai penurunan berat badan yang optimal dan menjaga berat badan tetap normal melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, perubahan perilaku, dan pengobatan jika diperlukan di bawah pengawasan dokter.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asap Rokok Bikin Bayi Hipertensi

KOMPAS.com - Anda sedang hamil namun membandel tetap merokok? Ini adalah pertanda buruk bagi janin yang sedang Anda kandung. Selain mengganggu perkembangan saraf dan kecerdasan, studi terbaru menunjukkan tekanan darah bayi juga ikut terganggu.

Penelitian yang dilakukan peneliti senior dari Karolinska Institute, Stockhlom, menunjukkan bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki masalah tekanan darah hingga mereka berusia satu tahun. "Gangguan tekanan darah ini bukannya menghilang namun terus memburuk seiring bertambahnya usia bayi," kata Gary Cohen, ketua peneliti.

Penelitian dilakukan dengan membandingkan balita dari ibu bukan perokok dengan balita yang ibunya merokok sampai 15 batang meski saat sedang hamil. Di usia satu minggu, dua persen bayi dari kelompok ibu perokok mengalami peningkatan tekanan darah dan 10 persennya di usia setahun. 



Pola gangguan tekanan darah ini terjadi pada bayi berusia seminggu dan pada saat mereka berusia setahun. Selain itu, bayi yang lahir dari ibu perokok juga mengalami gangguan denyut jantung. Gangguan-gangguan tersebut diyakini akan membawa masalah kesehatan jangka panjang. Demikian tulis Cohen dalam jurnal kesehatan Hypertension.

Cohen menjelaskan, asap rokok akan merusak struktur dan fungsi pembuluh darah, terutama endotel, lapisan pelindung pembuluh darah. Namun ia tidak bisa menjawab apakah kerusakan ini bersifat permanen. "Kami hanya mengamati gangguan ini selama 12 bulan, namun berencana untuk melakukan penelitian lanjutan," katanya.


Hasil penelitian para ahli dari Karolinska ini senada dengan hasil studi yang meneliti kesehatan bayi yang lahir dari ibu pengguna narkoba. "Bayi-bayi itu bisa mengalami gangguan sirkuit otak," kata Barry M.Lester, dokter anak dari Brown Medical School yang telah meneliti efek jangka panjang dari ibu hamil pengguna narkoba. "Para pengguna narkoba biasanya juga merokok," tambahnya.

"Efek asap rokok pada fungsi saraf janin mirip dengan efek kokain dan methaphetamin," kata Lester.

Berbagai hasil studi membuktikan gangguan kesehatan yang dialami janin terkait dengan produksi berlebihan hormon kortisol atau hormon stres yang berperan penting untuk mengatur tekanan darah dan sistem imun. Bila diproduksi berlebihan, kortisol bisa merusak sistem kekebalan tubuh sehingga bayi lebih rentan infeksi. 

Asap rokok yang mengancam kesehatan janin bukan hanya berasal dari ibu yang merokok saat hamil tapi juga termasuk calon ayah yang kecanduan merokok sehingga janin menjadi perokok pasif.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Orang Gemuk di Asia Rentan Kanker


HONGKONG, KOMPAS.com - Ini adalah peringatan bagi mereka yang memiliki tubuh gemuk. Hasil suatu studi besar di Asia menyatakan mereka yang kelebihan berat badan atau pun mengidap obesitas lebih mungkin meninggal akibat kanker dibandingkan mereka yang berbobot normal.
Kegemukan dinilai sebagai salah satu faktor risiko beberapa jenis kanker di Barat. Tapi sampai kini belum jelas apakah obesitas menimbulkan risiko yang sama bagi orang Asia.
Riset pun dilakukan untuk mengetahui kaitan obesitas dan kanker di Asia. Para ahli melibatkan 401.215 orang di China, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Australia dan Selandia Baru dalam penelitian selama empat tahun.
Hasil studi menyatakan, dibandingkan responden berbobot normal, para mengidap obesitas menghadapi kemungkinan 21 persen lebih besar untuk meninggal akibat kanker. Sementara mereka yang kelebihan berat badan menghadapi kemungkinan enam persen lebih tinggi.
Riset juga menyatakan, responden yang kegemukan sangat rentan terhadap beberapa jenis kanker seperti kanker usus, rektum, payudara, indung telur, serviks, prostat dan leukemia.   "Mereka yang kelebihan berat badan dan obesitas di wilayah Asia-Pasifik mengalami peningkatan risiko secara signifikan meninggal akibat kanker," tulis para peneliti dalam jurnal The Lancet Oncology, Rabu (30/6/2010).
"Strategi baru sangat dibutuhkan untuk menangani epidemi obesitas di Asia guna mencegah peningkatan beban kanker di wilayah ini," ungkap kelompok peneliti yang dipimpin Christine Parr dari University of Oslo di Norwegia.
Dalam beberapa dekade terakhir, memang terjadi peningkatan pesat jumlah orang yang kegemukan di banyak negara Asia. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya kesejahteraan serta urbanisasi. Mereka yang pindah ke kota besar menjadi kurang gerak dan gemar menyantap makanan yang mengandung lemak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bantu Atasi Gejala Obesitas Si Kecil

KOMPAS.com - Melihat tingkah polah anak yang ceria, lugu, spontan, dan penuh rasa ingin tahu tentu mengundang rasa rindu. Apalagi bila buah hati tidak mengalami kesulitan mengasup makanan. Alangkah senangnya!
Bahkan tidak menutup kemungkinan karena putera-puteri Anda memiliki frekuensi dan porsi makan yang berlebih, dapat membuat tubuh mereka lebih gemuk ketimbang anak sebayanya. Anak gemuk tentu menggemaskan, tapi dia menyimpan potensi obesitas yang rentan penyakit. 





Gemuk dalam batas wajar alias ukuran Indeks Massa Tubuh (BMI) yang normal tidak akan menjadi masalah. Namun, bila si kecil sudah melebihi nilai BMI di atas 25-30, kondisi itu yang patut dicermati orangtuanya. 
Sebaiknya, segera konsultasikan kondisi anak tersebut, kepada dokter anak Anda sedini mungkin. Setidaknya di bawah penanganan dokter, anak Anda bisa mendapat penanganan yang tepat untuk membantu mengurangi bobot badannya, hingga mencapai berat tubuh normal. 

Proses ini memang terbilang tidak mudah, karean dibutuhkan kesabaran dan proses yang memakan waktu. Oleh karena itu, bimbinglah dan atur pola makan anak Anda dengan penuh ketulusan.


 

Pronsip dasar membantu buah hati Anda terlepas dari problem obesitas adalah memberikan asupan makanan sehat dan meningkatkan jumlah aktivitas fisiknya. Sebagai orangtua, Anda bisa memutuskan makanan apa yang diolah dan yang dikonsumsi si kecil. Caranya bisa sebagai berikut:

Libatkan anak Anda dalam memilih bahan makanan saat berbelanja. Ajaklah anak Anda untuk memilih buah dan sayur sebagai bahan hidangan, serta camilan rendah lemak. Hindari pemilihan makanan yang mengandung banyak pemanis dan perhatikan kandungan nutrisi yang tertera pada camilan tersebut. 


Sempatkan waktu Anda untuk makan bersama si kecil di meja makan setiap harinya. Saling bercerita pengalaman hari ini, informasi terbaru, dan bertanya pada anak tentang apa yang dialami hari ini di sekolah maupun di rumah, akan menyenangkan. Selain membuat suasana semakin hangat dan komunikatif, makan bersama bisa membantu anak Anda untuk maakn lebih cepat dan lebih kenyang, karena fokus pada bincang-bincang tersebut. 

Saat harus pergi ke restoran fast food, sebaiknya Anda yang ambil alih untuk menentukan menu apa yang tepat bagi anak yang obesitas. 

Sedangkan untuk membantu meningkatkan aktivitas fisik buah hati, sempatkan waktu Anda dalam seminggu untuk berolahraga bersama. Selain itu, di hari Senin-Jumat, batasi kegiatan menonton televisi si kecil paling tidak sehari maksimal 2 jam. Berikan pula kesempatan si kecil untuk memilh aktivitas di luar ruang atau olahraga untuk ditekuninya. Beberapa cara ini niscaya, dapt membantu anak Anda keluar dari problem obesitas. 

(AJG/Kompas Klasika)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS