RSS

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayi. Tampilkan semua postingan

Asap Rokok Bikin Bayi Hipertensi

KOMPAS.com - Anda sedang hamil namun membandel tetap merokok? Ini adalah pertanda buruk bagi janin yang sedang Anda kandung. Selain mengganggu perkembangan saraf dan kecerdasan, studi terbaru menunjukkan tekanan darah bayi juga ikut terganggu.

Penelitian yang dilakukan peneliti senior dari Karolinska Institute, Stockhlom, menunjukkan bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki masalah tekanan darah hingga mereka berusia satu tahun. "Gangguan tekanan darah ini bukannya menghilang namun terus memburuk seiring bertambahnya usia bayi," kata Gary Cohen, ketua peneliti.

Penelitian dilakukan dengan membandingkan balita dari ibu bukan perokok dengan balita yang ibunya merokok sampai 15 batang meski saat sedang hamil. Di usia satu minggu, dua persen bayi dari kelompok ibu perokok mengalami peningkatan tekanan darah dan 10 persennya di usia setahun. 



Pola gangguan tekanan darah ini terjadi pada bayi berusia seminggu dan pada saat mereka berusia setahun. Selain itu, bayi yang lahir dari ibu perokok juga mengalami gangguan denyut jantung. Gangguan-gangguan tersebut diyakini akan membawa masalah kesehatan jangka panjang. Demikian tulis Cohen dalam jurnal kesehatan Hypertension.

Cohen menjelaskan, asap rokok akan merusak struktur dan fungsi pembuluh darah, terutama endotel, lapisan pelindung pembuluh darah. Namun ia tidak bisa menjawab apakah kerusakan ini bersifat permanen. "Kami hanya mengamati gangguan ini selama 12 bulan, namun berencana untuk melakukan penelitian lanjutan," katanya.


Hasil penelitian para ahli dari Karolinska ini senada dengan hasil studi yang meneliti kesehatan bayi yang lahir dari ibu pengguna narkoba. "Bayi-bayi itu bisa mengalami gangguan sirkuit otak," kata Barry M.Lester, dokter anak dari Brown Medical School yang telah meneliti efek jangka panjang dari ibu hamil pengguna narkoba. "Para pengguna narkoba biasanya juga merokok," tambahnya.

"Efek asap rokok pada fungsi saraf janin mirip dengan efek kokain dan methaphetamin," kata Lester.

Berbagai hasil studi membuktikan gangguan kesehatan yang dialami janin terkait dengan produksi berlebihan hormon kortisol atau hormon stres yang berperan penting untuk mengatur tekanan darah dan sistem imun. Bila diproduksi berlebihan, kortisol bisa merusak sistem kekebalan tubuh sehingga bayi lebih rentan infeksi. 

Asap rokok yang mengancam kesehatan janin bukan hanya berasal dari ibu yang merokok saat hamil tapi juga termasuk calon ayah yang kecanduan merokok sehingga janin menjadi perokok pasif.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bantu Atasi Gejala Obesitas Si Kecil

KOMPAS.com - Melihat tingkah polah anak yang ceria, lugu, spontan, dan penuh rasa ingin tahu tentu mengundang rasa rindu. Apalagi bila buah hati tidak mengalami kesulitan mengasup makanan. Alangkah senangnya!
Bahkan tidak menutup kemungkinan karena putera-puteri Anda memiliki frekuensi dan porsi makan yang berlebih, dapat membuat tubuh mereka lebih gemuk ketimbang anak sebayanya. Anak gemuk tentu menggemaskan, tapi dia menyimpan potensi obesitas yang rentan penyakit. 





Gemuk dalam batas wajar alias ukuran Indeks Massa Tubuh (BMI) yang normal tidak akan menjadi masalah. Namun, bila si kecil sudah melebihi nilai BMI di atas 25-30, kondisi itu yang patut dicermati orangtuanya. 
Sebaiknya, segera konsultasikan kondisi anak tersebut, kepada dokter anak Anda sedini mungkin. Setidaknya di bawah penanganan dokter, anak Anda bisa mendapat penanganan yang tepat untuk membantu mengurangi bobot badannya, hingga mencapai berat tubuh normal. 

Proses ini memang terbilang tidak mudah, karean dibutuhkan kesabaran dan proses yang memakan waktu. Oleh karena itu, bimbinglah dan atur pola makan anak Anda dengan penuh ketulusan.


 

Pronsip dasar membantu buah hati Anda terlepas dari problem obesitas adalah memberikan asupan makanan sehat dan meningkatkan jumlah aktivitas fisiknya. Sebagai orangtua, Anda bisa memutuskan makanan apa yang diolah dan yang dikonsumsi si kecil. Caranya bisa sebagai berikut:

Libatkan anak Anda dalam memilih bahan makanan saat berbelanja. Ajaklah anak Anda untuk memilih buah dan sayur sebagai bahan hidangan, serta camilan rendah lemak. Hindari pemilihan makanan yang mengandung banyak pemanis dan perhatikan kandungan nutrisi yang tertera pada camilan tersebut. 


Sempatkan waktu Anda untuk makan bersama si kecil di meja makan setiap harinya. Saling bercerita pengalaman hari ini, informasi terbaru, dan bertanya pada anak tentang apa yang dialami hari ini di sekolah maupun di rumah, akan menyenangkan. Selain membuat suasana semakin hangat dan komunikatif, makan bersama bisa membantu anak Anda untuk maakn lebih cepat dan lebih kenyang, karena fokus pada bincang-bincang tersebut. 

Saat harus pergi ke restoran fast food, sebaiknya Anda yang ambil alih untuk menentukan menu apa yang tepat bagi anak yang obesitas. 

Sedangkan untuk membantu meningkatkan aktivitas fisik buah hati, sempatkan waktu Anda dalam seminggu untuk berolahraga bersama. Selain itu, di hari Senin-Jumat, batasi kegiatan menonton televisi si kecil paling tidak sehari maksimal 2 jam. Berikan pula kesempatan si kecil untuk memilh aktivitas di luar ruang atau olahraga untuk ditekuninya. Beberapa cara ini niscaya, dapt membantu anak Anda keluar dari problem obesitas. 

(AJG/Kompas Klasika)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Malnutrisi pada Anak Memicu Risiko Penyakit





KOMPAS.com - Baik buruknya kondisi kesehatan dipengaruhi asupan makanan dan gizi. Malnutrisi pada anak tak hanya berdampak langsung pada kesehatan, namun juga memicu berbagai risiko penyakit saat usia dewasa.

Ciri yang paling mudah dikenali dari kondisi malnutrisi pada anak adalah perkembangan fisik rendah. Misalnya, tubuh anak terlalu pendek untuk anak seusianya, atau terlalu kurus dan terlalu gemuk.

Dokter anak, dr Sri S. Nasar, SpA(K) menjelaskan, malnutrisi pada anak usia tiga tahun pertama dapat menimbulkan gangguan permanen di otak. Sedangkan konsekuensi lanjut malnutrisi saat dewasa lebih kompleks lagi.
"Jika anak kelebihan kalori, konsekuensi malnutrisi di antaranya obesitas, penyakit jantung koroner, diabetes, dan peradangan. Sedangkan jika kekurangan kalori, penyakit seperti osteoporosis, disfungsi imun, kemampuan nalar berkurang, dan gangguan reproduksi menjadi konsekuensinya," papar dr Sri, di sela peluncuran MobiPresinutri di Puskesmas Bendungan Hilir, Rabu (2/6/2010) lalu.

Menurut dr Sri, kebutuhan nutrisi setiap anak berbeda tergantung usia dan berat badan. Namun pada usia anak, perlu diperhatikan bahwa kebutuhan energi tiga kali lebih tinggi daripada orang dewasa.
Kebutuhan nutrisi bayi dan anak untuk energi sebanyak 100-120 kilo kalori per kilogram setiap harinya. Pada orang dewasa, kebutuhan asupan nutrisi hanya 35 – 40 kilo kalori per kilogram per hari.

Sedangkan kebutuhan anak batita atas protein sebanyak 9 - 15 persen, lemak 40-50 persen, dan selebihnya hidrat-arang. Untuk anak di atas usia tiga tahun energi yang dibutuhkannya kurang dari 100 kilo kalori per kilogram per hari, dengan protein 10 - 20 persen dan lemak kurang dari 30 persen.

"Kebutuhan nutrisi ini bisa didapatkan dari asupan makanan setiap harinya. Untuk lemak, kebutuhannya bisa dipenuhi dari ASI yang diperlukan untuk pertumbuhan otak," jelas dr Sri.

Dr Sri menegaskan orangtua mempunyai peran sentral dalam membangun kebiasaan atau pola makan anak. Status gizi makan anak tergantung orangtuanya.

Peran orangtua tak sekadar memastikan gizi seimbang, namun juga perlu memberikan "pengalaman makan" sejak usia dini. Artinya, anak perlu dilibatkan dalam memilih makanan, dan menciptakan suasana makan yang menyenangkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak Gemuk Terancam Hipertensi



Kompas.com — Orangtua sebaiknya mewaspadai kenaikan berat badan anak. Anak-anak yang menderita kegemukan dan obesitas berisiko menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Sebagaimana diketahui, hipertensi bisa menimbulkan komplikasi di kemudian hari, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
"Dampak kegemukan pada tekanan darah tinggi berbeda-beda pada tiap anak tergantung pada kategori gemuknya," kata Wanzhu Tu, peneliti tentang hipertensi pada anak.
Ia menambahkan, sebenarnya cukup mudah mengurangi risiko hipertensi pada anak. "Turunkan berat badan anak sedikit saja sudah cukup mengendalikan tekanan darah," katanya.
Dalam penelitiannya, Tu dan timnya mengumpulkan data tekanan darah pada 1.113 anak. Para peneliti kemudian membandingkan indeks massa tubuh untuk menentukan kadar tekanan darah yang normal berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Para peneliti menemukan, penurunan BB pada anak yang tergolong kegemukan berpengaruh pada tekanan darahnya.
Para ahli mengingatkan, kegemukan dan obesitas pada anak-anak bukan cuma terkait dengan tekanan darah tinggi, melainkan juga kadar kolesterol yang tinggi, menurunnya resistensi insulin dan fungsi pembuluh darah yang tidak normal.
Hipertensi pada anak memang tidak diketahui penyebabnya. Karena itu, orangtua sepatutnya waspada dan mengukur tekanan darah anaknya secara rutin. Orangtua perlu mencegah anak kelebihan berat badan. Beberapa penelitian juga menemukan, hipertensi pada anak biasanya ditemukan pada anak yang menderita penyakit ginjal, saraf pusat, jantung, serta endokrin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS