RSS

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Epidemiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Epidemiologi. Tampilkan semua postingan

Bahaya Rabies



Pengertian
Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus rabies ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan misalnya oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Rabies disebut juga penyakit anjing gila.
Serangan biasanya dimulai dengan perasaan ketakutan, sakit kepala, demam, malaise, perubahan perasaan sensoris, pada bekas gigitan binatang. Gejala yang sering muncul adalah eksitabilitas dan aerophobia. Penyakit ini berlanjut kearah terjadinya paresis atau paralisis, kejang otot-otot menelan menjurus kepada perasaan takut terhadap air (hydrophobia), diikuti dengan delirium dan kejang. Tanpa intervensi medis, basanya berlangsung 2-6 hari dan kadang-kadang lebih, kematian biasanya karena paralisis pernafasan. 


Sejarah
Rabies bukanlah penyakit baru dalam sejarah perabadan manusia. Catatan tertulis mengenai perilaku anjing yang tiba-tiba menjadi buas ditemukan pada Kode Mesopotamia yang ditulis 4000 tahun lalu serta pada Kode Babilonia Eshunna yang ditulis pada 2300 SM. Democritus pada 500 SM juga menuliskan karakteristik gejala penyakit yang menyerupai rabies.
Aristotle, pada 400 SM, menulis di Natural History of Animals edisi 8, bab 22
“
…….  anjing itu menjadi gila. Hal ini menyebabkan mereka menjadi agresif dan semua binatang yang digigitnya juga mengalami sakit yang sama.
”
Hippocrates, Plutarch, Xenophon, Epimarcus, Virgil, Horace, dan Ovid adalah orang-orang yang pernah menyinggung karakteristik rabies dalam tulisan-tulisannya. Celsius, seorang dokter di zaman Romawi, mengasosiasikan hidrofobia (ketakutan terhadap air) dengan gigitan anjing, di tahun 100 Masehi. Cardanus, seorang penulis zaman Romawi menjelaskan sifat infeksi yang ada di air liur anjing yang terkena rabies.[5] Pada penulis Romawi zaman itu mendeskripsikan rabies sebagai racun, yang mana adalah kata Latin bagi virus. Pliny dan Ovid adalah orang yang pertama menjelaskan penyebab lain dari rabies, yang saat itu disebut cacing lidah anjing (dog tongue worm).[5] Untuk mencegah rabies di masa itu, permukaan lidah yang diduga mengandung "cacing" dipotong. Anggapan tersebut bertahan sampai abad 19, ketika akhirnya Louis Pasteur berhasil mendemonstrasikan penyebaran rabies dengan menumbuhkan jaringan otak yang terinfeksi di tahun 1885 Goldwasser dan Kissling menemukan cara diagnosis rabies secara modern pada tahun 1958, yaitu dengan teknik antibodi imunofluoresens untuk menemukan antigen rabies pada jaringan.

 Penyebab Penyakit
Virus rabies, rhabdovirus dari genus Lyssavirus. Semua anggota genus ini mempunyai persamaan antigen, namun dengan teknik antibodi monoklonal dan nucleotide sequencing dari virus menunjukkan adanya perbedaan tergantung spesies binatang atau lokasi geografis darimana mereka berasal. Virus yang mirip dengan rabies yang ditemukan di Afrika (Mokola dan Duvenhage) jarang menyebabkan kesakitan pada manusia mirip seperti rabies dan jarang yang fatal. Lyssavirus baru telah ditemukan pertama kali pada tahun 1996, pada beberapa spesies dari Flying fox dan kelelawar di Australia dan telah menyebabkan dua kematian pada manusia dengan gejala penyakit seperti rabies. Virus ini untuk sementara diberi nama ”Lyssavirus kelelawar Australia”. Virus ini mirip dengan virus rabies namun tidak identik dengan virus rabies klasik. Sebagian penderita penyakit yang disebabkan oleh virus yang mirip rabies inim dengan teknik pemeriksaan standard FA test kemungkinan didiagnosa sebagai rabies.
  Gambar: Virus Agen Rabies

Distribusi Penyakit

Tersebar di seluruh dunia, dengan perkiraan 35.000 – 40.000 kematian per tahun, hampir semuanya terjadi di negara berkembang. Dari tahun 1980 sampai dengan 1997, di Amerika Serikat, 36 kematian pada manusia oleh karena rabies telah dilaporkan; 12 diantaranya kemungkinan didapat di luar Amerika Serikat. Dari mereka yang diduga terinfeksi di Amerika Serikat, lebih dari separuh meninggal karena rabies yang dikaitkan dengan kelelawar. Sejak tahun 1950 kematian manusia karena rabies secara bertahap menurun, sebagai hasil dari pemberian imunisasi rabies secara rutin kepada anjing dan kucing dan meningkatnya efektivitas pengobatan prophylaxis pasca paparan. Rabies adalah penyakit yang terutama menyerang binatang. Daerah dengan populasi binatang yang sat ini bebas dari rabies hanyalah Australia, New Zaeland, Papua Nugini, Jepang, Hawaii, Taiwan, Oceania, United Kingdom, Irlandia, Iceland, Norwegia, Swedia, Finlandia, Portugal, Yunani, India bagian Barat dan Kepulauan Atlantik. Urban (atau Canine) rabies ditularkan oleh anjing, sedangkan sylvatic rabies adalah penyakit carnivora liar dan kelelawar, yang menular secara sporadis kepada anjing, kucing dan ternak. Di Eropa, rabies rubah menyebar luas, namun telah menurun sejak tahun 1978 pada saat imunisasi dengan vaksin rabies oral dimulai; Di Eropa Barat, jumlah kasus rabies menurun drastis sejak tahun 1992, kecuali rabies pada kelelawar. Sejak tahun 1986 kasus rabies kelelawar telah dilaorkan dari Denmark, Belanda dan Jerman Barat. Di Amerika Serikat dan Kanada rabies liar sering melibatkan racoon, musang (skunk), rubah, coyotes dan kelelawar. Telah terjadi epizootik progresif diantara racoon di Amerika Serikat bagian Tenggara sejak lebih dari satu dekade dan sekarang telah mencapai New Enland, dan saat ini diantara coyotes dan anjing di Texas Selatan telah terjadi penyebaran virus ke binatang domestik dan umumnya adalah kepada kucing.

Cara Penularan
Air liur binatang sakit yang mengandung virus menularkan virus melalui gigitan atau cakaran (dan sangat jarang sekali melalui luka baru di kulit atau melalui selaput lendir yang utuh). Penularan dari orang ke orang secara teoritis dimungkinkan oleh karena liur dari orang yang terinfeksi dapat mengandung virus, namun hal ini belum pernah didokumentasikan. Transplantasi organ (cornea) dari orang yang meninggal karena penyakit sistem saraf pusat yang tidak terdiagnosa dapat menularkan rabies kepada penerima organ tadi. Penyebaran melalui udara telah dibuktikan terjadi di suatu gua dimana terdapat banyak kelelawar yang hinggap dan pernah juga terjadi di laboratorium, namun kejadiannya sangat jarang. Di Amerika Latin, penularan melalui kelelawar vampire yang terinfeksi kepada binatang domestik sering terjadi. Di Amerika Serikat kelelawar pemakan serangga jarang menularkan rabies kepada binatang di darat baik kepada binatang domestik maupun binatang liar. 


Manifestasi Klinis
Masa inkubasi biasanya berlangsung 3-8 mingu, jarang sekali sependek 9 hari atau sepanjang 7 tahun; masa inkubasi sangat tergantung pada tingkat keparahan luka, lokasi luka yang erat kaitannya dengan keadatan jaringan saraf di lokasi luka dan jarak luka dari otak, dan tergantung pula dengan jumah dan strain virus yang masuk, serta tergantung dari perlindungan oleh pakaian dan faktor-faktor lain. Masa inkubasi yang panjang terjadi pada individu prepubertal.
Pada anjing dan kucing, biasanya 3-7 hari sebelum munclnya gejala klinis (jarang lebih dari 4 hari) dan selama periode sakit. Masa penularan yang lebih panjang sebelum munculnya gejala klinis (yaitu 14 hari) telah diamati di Ethiopia pada strain virus rabies pada anjing. Pada satu studi diketahui kelelawar mengeluarkan virus melali tinjanya 12 hari sebelum sakit, pada studi yang lain skunk mengeluarkan virus melalui tinjanya untuk paling sedikit 8 hari sebelum munculnya gejala klinis. Skunk mungkin mengeluarkan virus sampai 18 hari sebelum mati.

Gambar .Seorang penderita rabies pada tahun 1959.

Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi rabies meliputi 4 stadium:
  1. Stadium prodromal
Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya  yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening (nausea), dan lain sebagainya.
  1. Stadium sensoris
Dalam stadium sensori penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur (hipersalivasi), dilatasi pupil, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.
  1. Stadium eksitasi
Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air (hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi pada penderita rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di kala berusaha menelan air
  1. Stadium paralitik
Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.

Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas. Gejala-gejala yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara, dan cahaya, serta suara yang keras. Sedangkan pada hewan yang terinfeksi, gelaja yang tampak adalah dari jinak menjadi ganas, hewan-hewan peliharaan menjadi liar dan lupa jalan pulang, serta ekor dilengkungkan di bawah perut.

Diagnosis
Jika seseorang digigit hewan, maka hewan yang menggigit harus diawasi. Satu-satunya uji yang menghasilkan keakuratan 100% terhadap adanya virus rabies adalah dengan uji antibodi fluoresensi langsung (direct fluorescent antibody test/ dFAT) pada jaringan otak hewan yang terinfeksi. Uji ini telah digunakan lebih dari 40 tahun dan dijadikan standar dalam diagnosis rabies. Prinsipnya adalah ikatan antara antigen rabies dan antibodi spesifik yang telah dilabel dengan senyawa fluoresens yang akan berpendar sehingga memudahkan deteksi  Namun, kelemahannya adalah subjek uji harus disuntik mati terlebih dahulu (eutanasia) sehingga tidak dapat digunakan terhadap manusia. Akan tetapi, uji serupa tetap dapat dilakukan menggunakan serum, cairan sumsum tulang belakang, atau air liur penderita walaupun tidak memberikan keakuratan 100%.  Selain itu, diagnosis dapat juga dilakukan dengan biopsi kulit leher atau sel epitel kornea mata walaupun hasilnya tidak terlalu tepat sehingga nantinya akan dilakukan kembali diagnosis post mortem setelah hewan atau manusia yang terinfeksi meninggal.

Pengobatan
Bila terinfeksi rabies, segera cari pertolongan medis. Rabies dapat diobati, namun harus dilakukan sedini mungkin sebelum menginfeksi otak dan menimbulkan gejala. Bila gejala mulai terlihat, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini.  Kematian biasanya terjadi beberapa hari setelah terjadinya gejala pertama. Jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang diduga terinfeksi rabies atau berpotensi rabies (anjing, sigung, rakun, rubah, kelelawar) segera cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit lalu beri antiseptik alkohol 70% atau betadin. Orang-orang yang belum diimunisasi selama 10 tahun terakhir akan diberikan suntikan tetanus. Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies akan diberikan suntikan globulin imun rabies yang dikombinasikan dengan vaksin. Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, biasanya di daerah pinggang. Dalam periode 28 hari diberikan 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus rabies akibat bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Kadang-kadang terjadi rasa sakit, kemerahan, bengkak, atau gatal pada tempat penyuntikan vaksin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rabies di Indonesia



Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat. Hewan berdarah panas dan manusia. Rabies bersifat zoonosis artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan kematian pada manusia dengan CFR (Case Fatality Rate) 100%. Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi dan disebarkan melalui luka gigitan atau jilatan
            Bahaya rabies berupa kematian gangguan ketentraman hidup masyarakat. Hewan seperti anjing, kucing dan kera yang menderita rabies akan menjadi ganas dan biasanya cenderung menyerang atau menggigit manusia. Penderita rabies sekali gejala klinis timbul biasanya diakhiri dengan kematian. Terhadap bahaya rabies termaksud diatas akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas atau rasa takut baik terhadap orang yang digigit maupun masyarakat pada umumnya
Rabies telah menyebabkan kematian pada orang dalam jumlah yang cukup banyak. Tahun 2000, World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun di dunia ini terdapat sekurang-kurangnya 50.000 orang meninggal karena rabies. Rabies bisa terjadi disetiap musim atau iklim, dan kepekaan terhadap rabies kelihatannya tidak berkaitan dengan usia, seks atau ras. Di Amerika Serikat rabies terutama terjadi pada musang, raccoon, serigala dan kelelawar. Rabies serigala terdapat di Kanada, Alaska dan New York. Kelelawar penghisap darah (vampir), yang menggigit ternak merupakan bagian penting siklus rabies di Amerika latin. Eropa mempunyai rabies serigala, di Asia dan Afrika masalah utamanya adalah anjing gila. Beberapa daerah di Indonesia yang saat ini masih tertular rabies sebanyak 16 propinsi, meliputi Pulau Sumatera (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung), Pulau Sulawesi (Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara), Pulau Kalimantan (Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur) dan Pulau Flores. Kasus terakhir yang terjadi adalah Propinsi Maluku (Kota Ambon dan Pulau Seram). Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat telah dinyatakan bebas dari rabies melalui SK Menteri Pertanian No. 566 Tahun 2004, Banten sejak tahun 1996, dan provinsi Jawa Barat sejak tahun 2001. Dengan diterbitkannya SK Mentan bebas rabies ini, maka seluruh pulau Jawa telah bebas rabies karena Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta telah lebih dahulu dibebaskan berdasarkan SK Mentan No. 897 Tahun 1997. Daerah yang secara historis bebas rabies (belum pernah ada kasus) adalah provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (kecuali Pulau Flores), Kalimantan Barat, Papua, Irian Jaya Barat, Maluku Utara, Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung dan sampai saat ini tetap dapat dipertahankan bebas rabies. Manusia yang menderita rabies selalu berakhir dengan kematian (100% CaseFatality Rate), gigitan oleh anjing menempati persentase tertinggi (99,4%) diikuti kucing (0,29%) dan hewan lain, kera dan hewan piaraan atau liar lainnya (0,31%). Bagian tubuh manusia yang digigit meliputi kepala (5%), tangan (28%), kaki(57%), lain-lain (10%).
Sedangkan langkah-langkah kegiatan penanggulangan yang telah dilaksanakan sebagai berikut :
1. Melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) tanggal 18 Februari 2010 dan 8 Maret 2010 oleh Tim penanggulangan Rabies Pusat dan Provinsi Sumut ke Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan sekitarnya .
2. Mendistribusikan VAR sebanyak 75 kuur, Buku rabies, Flowchart rabies untuk Provinsi Sumut dan 5 Kab/Kota di Pulau Nias.
3. Melakukan koordinasi dengan 5 Dinkes Kab/Kota di Pulau Nias, Dinas Peternakan Provinsi Sumut, BBPVet Regional I Medan, Disnak Kabupaten Nias Utara untuk melakukan penyuluhan tentang pangendalian rabies dan tata cara pemeliharaan anjing dan pengawasan lalulintas hewan.
4. Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Utara akan mengusulkan pengadaan VAR dan alat penyuluhan (KIE), kepada Pemda setempat.
5. Dinas Peternakan Kabupaten Nias Utara akan melaksanakan vaksinasi terhadap hewan peliharaan dan eliminasi pada hewan yang tidak berpemilik sesuai instruksi Bupati Setempat.
6. Langkah lebih lanjut Pemda Kabupaten Nias Utara akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap GHPR dan mengusahakan ketersediaan VAR dan SAR.
7. RS.Gunungsitoli telah mendapatkan sumbangan dari LSM setempat berupa VAR sebanyak 300 kuur, pada bulan Maret 2010.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kesehatan Buruh Indonesia Terburuk Kedua


BANDUNG, KOMPAS - Kualitas kesehatan buruh di Indonesia menjadi yang terburuk kedua di dunia. Hal itu ditandai dengan banyaknya kasus kesehatan yang menimpa pekerja karena aktivitas di tempat kerja. Demikian benang merah diskusi yang diikuti sejumlah organisasi perburuhan dan lingkungan hidup Jawa Barat, Kamis (30/9).
Organisasi yang berpartisipasi dalam diskusi adalah Serikat Pekerja Nasional Jabar, Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Lembaga Bantuan Hukum Kota Bandung, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jabar, serta Jaringan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Mereka menggelar diskusi di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.
Koordinator Jaringan K3 Darisman mengatakan, di Indonesia rata-rata ada 78.000 kasus kecelakaan kerja per tahun selama 2002-2005. "Indonesia hanya berada satu tingkat di atas Vietnam dari 53 negara yang disurvei. Jadi, negara kita menempati posisi ke-52," katanya.
Tingginya kasus kesehatan dan kecelakaan kerja itu di satu sisi juga tidak didukung perlindungan sistem ketenagakerjaan. Jaminan sosial tenaga kerja yang keberadaannya telah diatur undang-undang baru diikuti 30 persen industri di Indonesia.
Sayang, hal ini pun tidak terkontrol baik oleh pengawas ketenagakerjaan di daerah-daerah. Darisman mencontohkan, Kabupaten Bogor hanya memiliki 11 pengawas ketenagakerjaan. Padahal, ada lebih dari 3.000 industri di wilayah itu.
Perempuan dirugikan
Buruh perempuan paling dirugikan akibat buruknya jaminan kesehatan tenaga kerja ini. Paparan zat kimia yang terus-menerus dan dalam jumlah tinggi berbahaya bagi organ reproduksi perempuan. Sejumlah survei menunjukkan, tingkat kematian ibu lebih tinggi di kalangan buruh perempuan.
Koordinator KASBI Jabar Daryanto mengungkapkan, pengusaha sering abai dengan perlindungan buruh dari kecelakaan. Contohnya adalah menyediakan masker atau sepatu bot seadanya bagi buruh. Seorang buruh pabrik tekstil di Majalaya, Kabupaten Bandung, misalnya, baru-baru ini meninggal saat bekerja.
"Ia dipaksa menghidupkan mesin tekstil di saat peralatan itu masih basah karena terendam banjir. Buruh itu tidak dilengkapi sarung tangan atau isolator yang melindungi tubuh dari listrik. Ia pun meninggal dunia," katanya. Asbes
Darisman menambahkan, salah satu bahaya yang kerap tak disadari pekerja adalah dampak asbes. Mereka yang bekerja di pabrik pembuatan pipa, pengelasan, konstruksi, serta bangunan berisiko tinggi terkena radang, kanker, dan lengket pada rongga dada karena serat itu. Risiko itu disebabkan keracunan chryso-tile akibat debu asbes. Dampak lain asbes adalah batuk, berat badan turun, dan sesak napas. Setelah terpapar sekitar 15 tahun, pekerja bisa terkena tumor ganas.
"Pekerja tambang, penggilingan, serta kegiatan menghancurkan dan merobohkan bangunan juga berisiko terdampak asbes," kata Darisman. Debu asbes dapat menyebabkan penebalan dan luka gores di paru-paru.
Menurut Solusi Rumah Operation and Maintenance Manager PT Holcim Indonesia Tbk Peterson Siringoringo, negara-negara maju sudah melarang penggunaan asbes karena faktor kesehatan. "Mungkin di Indonesia masih dipakai karena murah. Kami mencoba menghindari bahan itu. Industri terus berinovasi mencari bahan pengganti," ujarnya. (REK/BAY)

POTRET BURUH INDONESIA





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ancylostoma duodenale


1.      Gambaran Umum
Ancylostoma sp. merupakan cacing kait kelas Nematoda yang umum ditemukan pada anjing dan kucing. Ada lima species Ancylostoma  yang umum menyerang pada saluran pencernaan, yaitu antara lain: Ancylostoma caninum, Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, Ancylostoma tubaeformae dan Ancylostoma duodenale. Ancylostoma caninum yang umumnya terdapat pada usus halus anjing, rubah, srigala, anjing hutan dan karnivora liar lainnya diseluruh dunia. Ancylostoma braziliense terdapat pada usus halus anjing, kucing dan berbagai karnivora liar lainnya. Ancylostoma ceylanicum terdapat pada usus halus anjing, kucing, dan karnivora lain bahkan pada manusia. Ancylostoma tubaeformae merupakan cacing kait pada kucing. Ancylostoma duodenale ditemukan pada usus halus manusia, primata tingkat rendah dan kadang-kadang pada babi. A. duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan Eropa bagian selatan.
Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang. Infeksi paling sering ditemukan di daerah  yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. bentuk infektif dari cacing tersebut adalah bentuk filariform. Setelah cacing tersebut menetas dari telurnya, muncullah larva rhabditiform yang kemudian akan berkembang menjadi larva filarifor.
Cacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama di daerah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan. Penyakit ini dapat mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit dan terhambatnya tumbuh kembang anak, karena cacing mengambil sari makanan yang penting bagi tubuh, misalnya protein, karbohidrat dan zat besi yang dapat menyebabkan anemia.
Cara penularan penyakit cacing tambang adalah melalui larva cacing yang terdapat di tanah yang menembus kulit (biasanya di antara jari-jari kaki), cacing ini akan berpindah ke paru kemudian ke tenggorokan dan akan tertelan masuk saluran cerna.



Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies
A. duodenale   

           
2.      Distribusi Geografis
Ancylostoma duodenale terdapat di semua bagian dunia terutama pada daerah lembab yaitu pada daerah tropis dan sub tropis. Kondisi kelembaban sedang dengan suhu berkisar 23 – 33 °C merupakan kondisi optimal untuk daya tahan larva Ancylostoma duodenale sehingga cacing Ancylostoma duodenale dapat bertahan hidup. Ancylostoma duodenale banyak ditemukan di daerah tropika Asia dan Afrika, Mediterenian, India, Cina dan Jepang. Di Indonesia terdapat pada daerah pedesaan sekitar 40%, terutama perkebunan.

3.      Habitat
Cacing Ancylostoma duodenale parasit dalam usus manusia. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. 

Gambar 1. Ancylostoma duodenale dalam mukosa usus
 
4.      Morfologi
Ancylostoma duodenale merupakan cacing berwarna merah yang memiliki sepasang gigi dari kitin pada mulutnya (bagian anterior) sehingga dapat melekat dan melukai dinding usus inangnya. Ancylostoma duodenale dewasa memiliki bentuk berbentuk seperti huruf C atau S. Cacing dewasa berbentuk kecil dan silindris. Cacing jantan berukuran 5–11 mm x 0,3–0,45 mm, sedangkan cacing betina 9–13 mm x 0,35–0,6 mm Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, sedangkan cacing jantan memiliki panjang sekitar 0,8 cm. Setiap ekor Ancylostoma duodenale betina dapat menghasilkan 10.000–20.000 telur setiap harinya. Telur cacing yang dihasilkan terdiri dari satu lapis dinding yang tipis dan adanya ruangan yang jelas antara dinding dan sel di dalamnya.
Gambar 2. Bagian anterior Ancylostoma duodenale
yang memiliki kait


Gambar 3. Ancylostoma duodenale betina (kiri) posterior melengkung,
Ancylostoma duodenale jantan (kanan) ujung posterior lurus
5.      Siklus hidup
Daur hidup cacing tambang (Ancylostoma duodenale) adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja.  
  • Telur cacing tambang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalam telur cacing tambang terdapat beberapa sel larva rabditiform yang panjangnya kurang lebih 250 mikron. 
  • Setelah keluar bersama tinja maka setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. 
  • Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit manusia. Larva filariform dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Larva filriform panjangnya kurang lebih 600 mikron.   
  • Setelah menembus kulit, larva ikut bersama aliran darah dan pembuluh getah bening. menuju ke jantung dan dilanjutkan ke paru-paru. 
  • Di paru-paru larva menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus. Peristiwa ini disebut infeksi aktif. 
  • Sekitar satu minggu setelah masuk melalui kulit, larva akan sampai di usus dan di dalam usus larva menjadi cacing dewasa yang akan menancapkan dirinya dengan kait di dalam mulut mereka ke lapisan usus halus bagian atas dan mengisap darah kembali. 
  • Cacing betina bertelur di usus halus dan telur akan keluar bersama dengan feses. 
  • Selain dengan cara infeksi aktif, dapat pula terjadi infeksi pasif yaitu bila kista (larva berdinding tebal) tertelan bersama makanan. 
  • Infestasi melalui mulut, larva akan tertelan kemudian masuk ke dalam kelenjar lambung atau kelenjar lieberkuhn usus halus. 
  • Kemudian larva kembali ke lumen usus, berkembang menjadi larva stadium 4 kemudian dewasa dalam usus halus. Selain itu infeksi prenatal (sebelum lahir; melalui uterus/ plasenta) dan transmammaria (melalui susu induk) juga dapat terjadi.
6.      Mekanisme transmisi
Infeksi cacing ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat desa yang buang air besar (BAB) di tanah dan pemakaian feces sebagai pupuk. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia, karena larva bisa menembus kulit kaki dan cacing tambang juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang masuk ke mulut.
 
Cara Penularannya
  1. Larva menembus kulit kaki
  2. Melalui saluran darah larva dibawa ke paru-paru yang menyebabkan batuk
  3. Larva yang ditelan menjadi dewasa pada usus kecil dimana mereka menancapkan dirinya untuk mengisap darah.

7.      Sumber infeksi/ hospes reservoir
Manusia merupakan penjamu primer untuk cacing ini. Morbiditas infeksi cacing tambang terutama terjadi pada anak-anak. Manusia mendapat infeksi dengan cara tertelannya larva filariform ataupun dengan cara larva filariform menembus kulit. Manusia merupakan satu-satunya hospes defenitif dari cacing tambang ini. Tetapi sebagian primata tingkat rendah dan kadang-kadang pada babi juga disebutkan sebagai hospes dari cacing tambang ini.

8.      Penyakit
Ancylostoma duodenale menyebabkan penyakit ankilostomiasis (Ancylostomiasis). Setiap ekor cacing Ancylostoma duodenale akan menyebabkan manusia kehilangan 0,08-0,34 cc darah per hari. Oleh karena itulah, cacing tambang menjadi berbahaya karena dapat menyebabkan anemia pada manusia. Cacing ini menghisap darah inang, sehingga inang akan mengalami anemia (kekurangan darah).

9.      Patofisiologis dan gejala klinis
a.       Patofisiologis
Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia hipokrom micrositer) dan menimbulkan eosinofilia. akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Selain itu, cacing Ancylostoma duodenale dapat menyebabkan membran mukosa pucat dan lemah. Terjadi penyumbatan usus akibat infeksi saluran usus dan apabila berkelanjutan bisa terjadi kematian.
b.      Gejala klinis
Gejala klinik dapat ditimbulkan cacing dewasa atau larva dari cacing Ancylostoma duodenale. Berikut ini adalah gejala-gejala yang dapat ditimbulkan oleh Ancylostoma duodenale :
1)      Bila larva infektif menembus kulit dapat terjadi gatal-gatal dan dermatis,
2)      Bila jumlah larva infektif yang masuk banyak , maka dalam beberapa jam saja akan terjadi reaksi alergi terhadap cacing yang menimbulkan warna kemerahan, berupa panel yang dapat menjadi vesikel. Reaksi ini disebut “ground itch”.
3)      Gatal-gatal sekitar anus,
4)      Perut akan membuncit, terjadi diare dan dalam kotoran kadang-kadang bercampur darah,
5)      Muntah,
6)      Oedema,
7)       Tubuh kurus, pertumbuhan terhambat, bulu kering dan kusam,
8)      Dapat menimbulkan kekurangan darah sampai 0,34 cc per hari. Akibatnya, terjadi anemia dan penderita akan tampak pucat, lesu, lemah, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, rentan terhadap penyakit serta kerja menurun.

10.      Diagnosis dan Terapi
a.       Diagosis
Untuk mendiagnosis penyakit ancylostomiasis banyak cara dan tehnik yang digunakan yaitu:
1)      Memeriksa tinja segar dengan membuat sediaan langsung (direct smear). Untuk pemeriksaan ini sebaiknya jangan diambil tinja yang sudah kering atau yang lama (lebih dari 24 jam) karena telur cacing tambang dalam tinja yang agak basah dalam waktu itu akan menetas dan sukar diidentifikasi.
2)      Cara yang dianjurkan internasional adalah cara Kato Katz, yaitu sediaan tinja ditutup dan diratakan dibawah “cellophane tape” yang sudah direndam dalam larutan hijau malachit (malachite green) supaya dapat efek penjernihan (clearing).
3)      Pemeriksaan tinja dilakukan dilaboratorium menggunakan mikroskop yaitu dengan metode sedimentasi/sentrifuge dan prosedur pemeriksaan tinja rutin (Sasmita, 1976).
4)      Pemeriksaan tinja dibiarkan dalam beberapa jam, maka telur akan mengeram dan menetaskan larva.
b.      Terapi
      Pengobatan cacing pada penderita ancylostomiasis perlu untuk dilakukan. Pengobatan pertama dilakukan pada umur 2-4 minggu, diulang 3-4 minggu kemudian, diulang lagi sampai umur 2-3 bulan. Pada umur 3-6 bulan doibati lagi, dan selanjutnya diobati secara teratur setiap 3-6 bulan sekali.
Ancylostomiasis dapat menimbulkan anemia pada penderita. Gejala anemia yang ditimbulkan akibat ancylostomiasis dapat diatasi dengan cara memberikan tambahan zat besi per-oral atau suntikan zat besi. Pada kasus yang berat perlu dilakukan transfusi darah. Setelah kondisi penderita stabil, diberikan obat pirantel pamoat atau mebendazol selama 1-3 hari untuk membunuh cacing tambang. Obat untuk cacing tambang tidak boleh diberikan kepada wanita hamil karena bisa membahayakan janin yang dikandungnya. Obat-obat lain yang digunakan untuk mengatasi ancylostomiasis yaitu:
·         Mebendazol
      Dosis 2 X 100 mg sehari diminum pada saat makan pagi selama 3 hari
      Contoh obat: Vermox dan Vemoran
·         Thibendazol
·         Piperazia
      Dosis sekaligus 3 gr sehari
      Contoh obat: Antepar dan Bekacitrin
·         Pirvinium
·         Pirantel
      Dosis sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, ½ - 2 tablet menurut usia (10 mg/kg)
      Contoh obat: Combantril dan Phyrantin
·         Niklosamida
      Contoh obat: Yomesan

12.      Usaha-usaha pencegahan
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjangkitnya penyakit cacingan:
  1. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum memakan sesuatu agar bibit penyakit tidak masuk melewati mulut,
  2. Membiasakan memotong kuku agar bibit penyakit yang ada dalam kuku-kuku yang kotor dapat hilang dan tidak masuk kedalam mulut melewati tangan. Kuku sebaiknya selalu dipotong pendek untuk menghindari penularan cacing dari tangan ke mulut (Srisasi Gandahusada, 2000:30),
  3. Membiasakan mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah dimasak matang serta bersih dan menghindari mengkonsumsi bahan-bahan mentah untuk menghindari larva cacing,
  4. Membiasakan membersihkan jamban dan mengkondisikan jamban agar tetap bersih dan jauh dari sumber air minum untuk menghindari kontaminasi larva cacing pada air serta menghindari infeksi melalui jamban kotor,
  5. Membiasakan buang air besar di jamban dan tidak membiasakan membuang air besar di tanah untuk menghindari infeksi larva cacing melalui kaki.
  6. Mengurangi pemakaian tinja sebagai pupuk kebun untuk mengurangi penyebaran infeksi penyakit.
  7. Menghindari infeksi dengan memakai sandal atau sepatu bila keluar rumah.
  8. Pengawasan lebih baik lagi pada lingkungan fisik, biologis, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia,
  9. Menjaga kebersihan badan dan kebersihan lingkungan,
  10. Bimbingan, pengarahan tentang higiene perorangan dan sanitasi lingkungan kepada pelajar dan masyarakat dalam upaya menurunkan prevalensi penyakit cacingan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS