RSS

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan

Ancylostoma duodenale


1.      Gambaran Umum
Ancylostoma sp. merupakan cacing kait kelas Nematoda yang umum ditemukan pada anjing dan kucing. Ada lima species Ancylostoma  yang umum menyerang pada saluran pencernaan, yaitu antara lain: Ancylostoma caninum, Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, Ancylostoma tubaeformae dan Ancylostoma duodenale. Ancylostoma caninum yang umumnya terdapat pada usus halus anjing, rubah, srigala, anjing hutan dan karnivora liar lainnya diseluruh dunia. Ancylostoma braziliense terdapat pada usus halus anjing, kucing dan berbagai karnivora liar lainnya. Ancylostoma ceylanicum terdapat pada usus halus anjing, kucing, dan karnivora lain bahkan pada manusia. Ancylostoma tubaeformae merupakan cacing kait pada kucing. Ancylostoma duodenale ditemukan pada usus halus manusia, primata tingkat rendah dan kadang-kadang pada babi. A. duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan Eropa bagian selatan.
Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang. Infeksi paling sering ditemukan di daerah  yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. bentuk infektif dari cacing tersebut adalah bentuk filariform. Setelah cacing tersebut menetas dari telurnya, muncullah larva rhabditiform yang kemudian akan berkembang menjadi larva filarifor.
Cacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama di daerah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan. Penyakit ini dapat mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit dan terhambatnya tumbuh kembang anak, karena cacing mengambil sari makanan yang penting bagi tubuh, misalnya protein, karbohidrat dan zat besi yang dapat menyebabkan anemia.
Cara penularan penyakit cacing tambang adalah melalui larva cacing yang terdapat di tanah yang menembus kulit (biasanya di antara jari-jari kaki), cacing ini akan berpindah ke paru kemudian ke tenggorokan dan akan tertelan masuk saluran cerna.



Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies
A. duodenale   

           
2.      Distribusi Geografis
Ancylostoma duodenale terdapat di semua bagian dunia terutama pada daerah lembab yaitu pada daerah tropis dan sub tropis. Kondisi kelembaban sedang dengan suhu berkisar 23 – 33 °C merupakan kondisi optimal untuk daya tahan larva Ancylostoma duodenale sehingga cacing Ancylostoma duodenale dapat bertahan hidup. Ancylostoma duodenale banyak ditemukan di daerah tropika Asia dan Afrika, Mediterenian, India, Cina dan Jepang. Di Indonesia terdapat pada daerah pedesaan sekitar 40%, terutama perkebunan.

3.      Habitat
Cacing Ancylostoma duodenale parasit dalam usus manusia. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. 

Gambar 1. Ancylostoma duodenale dalam mukosa usus
 
4.      Morfologi
Ancylostoma duodenale merupakan cacing berwarna merah yang memiliki sepasang gigi dari kitin pada mulutnya (bagian anterior) sehingga dapat melekat dan melukai dinding usus inangnya. Ancylostoma duodenale dewasa memiliki bentuk berbentuk seperti huruf C atau S. Cacing dewasa berbentuk kecil dan silindris. Cacing jantan berukuran 5–11 mm x 0,3–0,45 mm, sedangkan cacing betina 9–13 mm x 0,35–0,6 mm Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, sedangkan cacing jantan memiliki panjang sekitar 0,8 cm. Setiap ekor Ancylostoma duodenale betina dapat menghasilkan 10.000–20.000 telur setiap harinya. Telur cacing yang dihasilkan terdiri dari satu lapis dinding yang tipis dan adanya ruangan yang jelas antara dinding dan sel di dalamnya.
Gambar 2. Bagian anterior Ancylostoma duodenale
yang memiliki kait


Gambar 3. Ancylostoma duodenale betina (kiri) posterior melengkung,
Ancylostoma duodenale jantan (kanan) ujung posterior lurus
5.      Siklus hidup
Daur hidup cacing tambang (Ancylostoma duodenale) adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja.  
  • Telur cacing tambang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalam telur cacing tambang terdapat beberapa sel larva rabditiform yang panjangnya kurang lebih 250 mikron. 
  • Setelah keluar bersama tinja maka setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. 
  • Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit manusia. Larva filariform dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Larva filriform panjangnya kurang lebih 600 mikron.   
  • Setelah menembus kulit, larva ikut bersama aliran darah dan pembuluh getah bening. menuju ke jantung dan dilanjutkan ke paru-paru. 
  • Di paru-paru larva menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus. Peristiwa ini disebut infeksi aktif. 
  • Sekitar satu minggu setelah masuk melalui kulit, larva akan sampai di usus dan di dalam usus larva menjadi cacing dewasa yang akan menancapkan dirinya dengan kait di dalam mulut mereka ke lapisan usus halus bagian atas dan mengisap darah kembali. 
  • Cacing betina bertelur di usus halus dan telur akan keluar bersama dengan feses. 
  • Selain dengan cara infeksi aktif, dapat pula terjadi infeksi pasif yaitu bila kista (larva berdinding tebal) tertelan bersama makanan. 
  • Infestasi melalui mulut, larva akan tertelan kemudian masuk ke dalam kelenjar lambung atau kelenjar lieberkuhn usus halus. 
  • Kemudian larva kembali ke lumen usus, berkembang menjadi larva stadium 4 kemudian dewasa dalam usus halus. Selain itu infeksi prenatal (sebelum lahir; melalui uterus/ plasenta) dan transmammaria (melalui susu induk) juga dapat terjadi.
6.      Mekanisme transmisi
Infeksi cacing ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat desa yang buang air besar (BAB) di tanah dan pemakaian feces sebagai pupuk. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia, karena larva bisa menembus kulit kaki dan cacing tambang juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang masuk ke mulut.
 
Cara Penularannya
  1. Larva menembus kulit kaki
  2. Melalui saluran darah larva dibawa ke paru-paru yang menyebabkan batuk
  3. Larva yang ditelan menjadi dewasa pada usus kecil dimana mereka menancapkan dirinya untuk mengisap darah.

7.      Sumber infeksi/ hospes reservoir
Manusia merupakan penjamu primer untuk cacing ini. Morbiditas infeksi cacing tambang terutama terjadi pada anak-anak. Manusia mendapat infeksi dengan cara tertelannya larva filariform ataupun dengan cara larva filariform menembus kulit. Manusia merupakan satu-satunya hospes defenitif dari cacing tambang ini. Tetapi sebagian primata tingkat rendah dan kadang-kadang pada babi juga disebutkan sebagai hospes dari cacing tambang ini.

8.      Penyakit
Ancylostoma duodenale menyebabkan penyakit ankilostomiasis (Ancylostomiasis). Setiap ekor cacing Ancylostoma duodenale akan menyebabkan manusia kehilangan 0,08-0,34 cc darah per hari. Oleh karena itulah, cacing tambang menjadi berbahaya karena dapat menyebabkan anemia pada manusia. Cacing ini menghisap darah inang, sehingga inang akan mengalami anemia (kekurangan darah).

9.      Patofisiologis dan gejala klinis
a.       Patofisiologis
Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia hipokrom micrositer) dan menimbulkan eosinofilia. akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Selain itu, cacing Ancylostoma duodenale dapat menyebabkan membran mukosa pucat dan lemah. Terjadi penyumbatan usus akibat infeksi saluran usus dan apabila berkelanjutan bisa terjadi kematian.
b.      Gejala klinis
Gejala klinik dapat ditimbulkan cacing dewasa atau larva dari cacing Ancylostoma duodenale. Berikut ini adalah gejala-gejala yang dapat ditimbulkan oleh Ancylostoma duodenale :
1)      Bila larva infektif menembus kulit dapat terjadi gatal-gatal dan dermatis,
2)      Bila jumlah larva infektif yang masuk banyak , maka dalam beberapa jam saja akan terjadi reaksi alergi terhadap cacing yang menimbulkan warna kemerahan, berupa panel yang dapat menjadi vesikel. Reaksi ini disebut “ground itch”.
3)      Gatal-gatal sekitar anus,
4)      Perut akan membuncit, terjadi diare dan dalam kotoran kadang-kadang bercampur darah,
5)      Muntah,
6)      Oedema,
7)       Tubuh kurus, pertumbuhan terhambat, bulu kering dan kusam,
8)      Dapat menimbulkan kekurangan darah sampai 0,34 cc per hari. Akibatnya, terjadi anemia dan penderita akan tampak pucat, lesu, lemah, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, rentan terhadap penyakit serta kerja menurun.

10.      Diagnosis dan Terapi
a.       Diagosis
Untuk mendiagnosis penyakit ancylostomiasis banyak cara dan tehnik yang digunakan yaitu:
1)      Memeriksa tinja segar dengan membuat sediaan langsung (direct smear). Untuk pemeriksaan ini sebaiknya jangan diambil tinja yang sudah kering atau yang lama (lebih dari 24 jam) karena telur cacing tambang dalam tinja yang agak basah dalam waktu itu akan menetas dan sukar diidentifikasi.
2)      Cara yang dianjurkan internasional adalah cara Kato Katz, yaitu sediaan tinja ditutup dan diratakan dibawah “cellophane tape” yang sudah direndam dalam larutan hijau malachit (malachite green) supaya dapat efek penjernihan (clearing).
3)      Pemeriksaan tinja dilakukan dilaboratorium menggunakan mikroskop yaitu dengan metode sedimentasi/sentrifuge dan prosedur pemeriksaan tinja rutin (Sasmita, 1976).
4)      Pemeriksaan tinja dibiarkan dalam beberapa jam, maka telur akan mengeram dan menetaskan larva.
b.      Terapi
      Pengobatan cacing pada penderita ancylostomiasis perlu untuk dilakukan. Pengobatan pertama dilakukan pada umur 2-4 minggu, diulang 3-4 minggu kemudian, diulang lagi sampai umur 2-3 bulan. Pada umur 3-6 bulan doibati lagi, dan selanjutnya diobati secara teratur setiap 3-6 bulan sekali.
Ancylostomiasis dapat menimbulkan anemia pada penderita. Gejala anemia yang ditimbulkan akibat ancylostomiasis dapat diatasi dengan cara memberikan tambahan zat besi per-oral atau suntikan zat besi. Pada kasus yang berat perlu dilakukan transfusi darah. Setelah kondisi penderita stabil, diberikan obat pirantel pamoat atau mebendazol selama 1-3 hari untuk membunuh cacing tambang. Obat untuk cacing tambang tidak boleh diberikan kepada wanita hamil karena bisa membahayakan janin yang dikandungnya. Obat-obat lain yang digunakan untuk mengatasi ancylostomiasis yaitu:
·         Mebendazol
      Dosis 2 X 100 mg sehari diminum pada saat makan pagi selama 3 hari
      Contoh obat: Vermox dan Vemoran
·         Thibendazol
·         Piperazia
      Dosis sekaligus 3 gr sehari
      Contoh obat: Antepar dan Bekacitrin
·         Pirvinium
·         Pirantel
      Dosis sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, ½ - 2 tablet menurut usia (10 mg/kg)
      Contoh obat: Combantril dan Phyrantin
·         Niklosamida
      Contoh obat: Yomesan

12.      Usaha-usaha pencegahan
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjangkitnya penyakit cacingan:
  1. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum memakan sesuatu agar bibit penyakit tidak masuk melewati mulut,
  2. Membiasakan memotong kuku agar bibit penyakit yang ada dalam kuku-kuku yang kotor dapat hilang dan tidak masuk kedalam mulut melewati tangan. Kuku sebaiknya selalu dipotong pendek untuk menghindari penularan cacing dari tangan ke mulut (Srisasi Gandahusada, 2000:30),
  3. Membiasakan mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah dimasak matang serta bersih dan menghindari mengkonsumsi bahan-bahan mentah untuk menghindari larva cacing,
  4. Membiasakan membersihkan jamban dan mengkondisikan jamban agar tetap bersih dan jauh dari sumber air minum untuk menghindari kontaminasi larva cacing pada air serta menghindari infeksi melalui jamban kotor,
  5. Membiasakan buang air besar di jamban dan tidak membiasakan membuang air besar di tanah untuk menghindari infeksi larva cacing melalui kaki.
  6. Mengurangi pemakaian tinja sebagai pupuk kebun untuk mengurangi penyebaran infeksi penyakit.
  7. Menghindari infeksi dengan memakai sandal atau sepatu bila keluar rumah.
  8. Pengawasan lebih baik lagi pada lingkungan fisik, biologis, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia,
  9. Menjaga kebersihan badan dan kebersihan lingkungan,
  10. Bimbingan, pengarahan tentang higiene perorangan dan sanitasi lingkungan kepada pelajar dan masyarakat dalam upaya menurunkan prevalensi penyakit cacingan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TOXOPLASMA GONDII__Parasit Penyebab Toxoplasmosis


1.      Penyebaran penyakit/Distribusi geografis :
Parasit ini ditemukan kosmopolit pada manusia dan binatang.
2.      Habitat :
Daerah dengan iklim panas dan lembab.
3.      Morfologi dan daur hidup :
Morfologi : Morfologi Toxoplasma gondii berdasarkan pada tempat hidupnya terdiri dari bentuk ekstraseluler seperti bulan sabit dan intraseluler yang bulat dan ini sulit dibedakan dengan bentuk Leishmania. Bentuk trofozoit seperti bulan sabit, kadang – kadang oval, panjang 4-8µ, ujung yang satu lebih tumpul dibandingkan dengan yang lain. Satu inti dengan letak kariosom eksentrik di bagian yang tumpul, mungkin mempunyai satu stadium dengan satu flagel. Bentuk kista mengandung beberapa organism, kista besar berukuran 200µ dan berisi kira – kira 3000 organisme. Kista yang di temukan di otak berbentuk lonjong atau bulat dan di oto mengikuti bentuk otot.
Daur Hidup : Toxoplasma gondii adalah spesies dari coccidian yang mirip dengan Isospora. Dalam sel epitel usus halus kucing berlangsung daur aseksual (skizogoni) dan daur seksual (gametogomi, sporogoni) yang menghasilkan ookista yang dikeluarkan bersama tinja. Ookista bentuknya lojong dengan ukuran 12,5 mikron menghasilkan 2 sporokista yang masing – masing mengandung 4 sporozoit. Bila ookista tertelan oleh mamalia lain atau burung (hospes perantara), maka pada berbagai jaringan hospes perantara ini dibentuk kelompok trofozoit yang membelah secara aktif  dan disebut takizoit (tachyzoit = bentuk yang membelah cepat). Kecepatan takizoit Toxoplasma membelah berkurang secara berangsur dan terbentuklah kista yang mengandung bradizoit (bentuk yang membelah perlahan); masa ini adalah masa infeksi klinis menahun yang biasanya merupakan infeksi laten. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual, tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista jaringan.
Bila kucing sebagai hospes definitive makan hospes perantara yang terinfeksi, maka terbentuk lagi berbagai stadium seksual di dalam sel epitel usus halusnya. Bila hospes perantara mengandung jaringan Toxoplasma, maka masa prapaten (sampai dikeluarkan ookista) adalah 3-5 hari, sedangkan bila kucing makan tikus yang mengandung takizoit, masa prapaten biasanya 5-10 hari. Bila ookista langsung tertelan kucing, maka masa prapaten adalah 20-24 hari. Kucing lebih mudah terinfeksi oleh kista jaringan daripada oleh ookista.
Di berbagai jaringan tubuh kucing juga ditemukan trofozoit dan kista jaringan. Pada manusia takizoit ditemukan pada infeksi akut dan dapat memasuki tiap sel yang berinti. Takizoit pada manusia adalah parasit obligat intraselular.
Takizoit bekembangbiak dalam sel secara endodiogeni. Bila sel penuh dengan takizoit, maka sel menjadi pecah dan takizoit memasuki sel –sel di sekitarnya atau difagositosis oleh sel makrofag. Kista jaringan dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah membentuk dinding. Kista jaringan dapat ditemukan di dalam hospes seumur hidup terutama di otak, otot jantung dan otot bergaris.
  1. Mekanisme transmisi :
a.       Pada Toksoplasmosis congenital transmisi Toxoplasma kepada janin terjadi in utero melalui plasenta, bia ibunya mendapat infeksi primer waktu hamil.
b.      Pada toksoplasmosi akuisita infeksi dapat terjadi, bila makan daging mentah atau kurang matang (misalnya sate), kalau daging tersebut mengandung kista jaringan atau takizoit  Toxoplasma. Pada orang yang tidak makan dagingpun dapat terjadi infeksi bila ookista yng dikeluarkan dengan tinja kucing tertelan.
c.       Infeksi juga dapat terjadi di laboratorium pada orang yang bekerja dengan binatang percobaan yang di infeksi Toxoplasma gondii, melalui jarum suntik dan alat laboratorium lain yang terkontaminasi dengan Toxoplasma gondii. Ibu hamil tidak dianjurkan bekerja dengan Toxoplasma gondii yang hidup. Infeksi dengan Toxoplasma gondii juga pernah terjadi waktu mengerjakan autopsi.
d.      Infeksi dapat terjadi dengan transplantasi organ dari donor yang menderita toksoplasmosis laten.
e.       Transfusi darah lengkap juga dapat menyebabkan infeksi.

5.      Hospes dan nama penyakit :
Hospes : Hospes definitif T.gondii adalah kucing dan binatang sejenisnya (Felidae). Hospes perantaranya adalah manusia, mamalia lainnya dan burung.
Penyakit : Parasit ini menyebabkan toksoplasmosis congenital dan toxoplasmosis akuisita.

  1. Patofisiologi dan gejala klinis :
            Setelah invasi yang biasanya terjadi di usus, maka parasit memasuki sel berinti atau difaositosis. Sebagian parasit mati setelah difagositosis, sebagian lain berkembang biak dalam sel, menyebabkan sel hospes pecah dan menyerang sel-sel lain. Dengan adanya parasit di dalam makrofag dan limfosit, maka penyebaran secara hematogen dan limfogen ke seluruh tubuh mudah terjadi. Parasitemia berlangsung selama beberapa minggu.
            T.gondii dapat menyerang semua organ dan jaringan tubuh hospes, kecuali sel darah merah (tidak berinti).
            Kista jaringan dibentuk bila sudah ada kekebalan dan dapat ditemukan di berbagai alat dan jaringan , mungkin untuk seumur hidup. Kerusakan yang terjadipada jaringan tubuh, tergantung pada :
1)      Umur, pada bayi kerusakan lebih berat daripada orang dewasa,
2)      Virulensi strain Toxoplasma,
3)      Jumlah parasit, dan
4)      Organ yang diserang.
Lesi pada susunan saraf pusat (SSP) dan mata biasanya lebih berat dan permanen, karena jaringan ini tidak mempunyai kemampuan untuk beregenerasi. Kelainan pada SSP berupa nekrosis yang disertai dengan kalsifikasi. Penyumbatan akuaduktus Sylvii karena ependimitis mengakibatkan hidrosefalus pada bayi.
Pada infeksi akut di retina ditemukan reksi peradangn fokal dengan edema dan infiltrasi leukosit yang dapat menyebabkan kerusakan total dan pada proses penyembuhan terjadi luka parut (sikatriks) dengan atrofi retina dan koroid disertai pigmentasi. Di otot jantung dan otot bergaris dapat ditemukan Toxoplasma gondii tanpa adanya peradangan, dan di organ tubuh lainnya (limpa dan hati) parasit lebih jarang ditemukan. Gejala klinis dapat dikelompokkan atas toksoplasmosis congenital dan toksoplasmosis akuisita (dapatan).
1.      Toksoplasmosis konginetal gambaran klinisnya bermacam – macam dan biasanya menunjukkan gejala yang sangat berat dan menimbulkan kematian pada penderitanya karena parasit telah tersebar luas di berbagai organ penting dan pada system saraf penderita. Akibat kerusakan pada berbagai organ , kelainan yang terjadi bermacam – macam jenisnya. Beratnya infeksi bergantung pada usia janin saat terjadi infeksi; makin muda usia janin saat infeksi makin berat kerusakn pada organ tubuh, begitu pula sebaliknya. Ada yang tampaknya normal pada waktu kelahiran dan gejala klinisnya baru timbul setelah beberapa minggu sampai beberapa tahun. Kelainan pada bayi dan anak – anak yang mendapatkan infeksi dari ibu yang hamil pada trimester akhir akan mengalami ensefalomielitis, hidrosefalus, kalsifikasi serebral, dan karioretinitis. Kelainan pada system limfatik akan menimbulkan demam disertai limfadenitis.
2.      Toksoplasmosis akuisita (dapatan), gejalanya yang dijumpoai pada orang dewasa maupun anak – anak umumnya ringan, meskipun berbagai cacat yang tidak dapat disembuhkan dapat pula terjadi. Infeksi pada orang tua biasanya sulit diketahui karena jarang menampakkan gejala (asimtomatik). Apabila seorang ibu hamil mendapat infeksi primer, ia dapat melahirkan anak dengan toksoplasma congenital.

  1. Diagnosis dan Terapi :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1.      Gejala klinis yang ada.
2.      Pemeriksaan serologi (pemeriksaan yang paling memegang peranan), seperti uji fiksasi komplemen, uji netralisasi antibody, uji kulit toksoplasmin, uji warna biru metilen, hemaglutinasi tak-langsung (IHA dan ELISA).
3.      Biopsi system retikuloendotelial.
4.      Aspirasi ventrikulus kordis.
5.      Inokulasi pada cairan intraperitonium tikus/marmut :
ü  Darah atau cairan spinal disuntikkan secara intraperitonium ke dalam tikus putih/marmut.
ü  Tikus putih akan mati dalam waktu 3 minggu dan marmot akan mati dalam waktu 1 minggu.
ü  Toksoplasma akan ditemukan di dalam otak binatang percobaan tersebut.
ü  Dari otak binatang tersebut (yang telah mati) dibuat impression smear, yang selanjutnya stelah difiksasi dan diwarnai dengan giemsa.
ü  Diperiksa di bawah mikroskop.

  1. Usaha – usaha pencegahan :
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara memasak makanan dan minuman dengan benar, hewan peliharaan yang sakit segera diobati, sumber penularnya harus di berantas, supaya kebersihan pribadi dan lingkungan tetap ditingkatkan.

  1. Pengobatan :
Pengobatan dengan menggunakan kombinasi pirimetamin dan sulfadiasin umumnya efektif untuk mengobati toxoplasmosis, dan pada orang dewasa digunakan kombinasi pirimetamin 50mg per oral dilanjutkan 6 jam kemudian dengan dosis 25mg/hari selama 14 hari, dan sulfadiasin dengan dosis awal 2g, kemudian 4x1 g/hari selama 14 hari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pediculosis (vehicle borne / formite)


1. Definisi
Pediculosis merupakan penyakit kulit menular yang diakibatkan infestasi Pediculus (tuma), yakni kutu yang hidup sebagai parasit dan menghisap darah manusia. Ada tiga tipe dari Pediculosis:
  •  Pediculosis kapitis (head louse = kutu kepala)
Merupakan jenis pediculosis yang diakibatkan dari infestasi kutu kepala atau tuma yang disebut Pediculus humanus capitis pada kulit kepala. Penyakit ini biasanya sering terjadi pada anak-anak, hal ini karena anak-anak kurang dapat menjaga kebersihan kulit kepala, atau dapat secara kasarnya dikatakan bahwa anak-anak jarang keramas, padahal anak-anak lebih banyak bergerak sehingga menyebabkan kulit kepala menjadi berminyak, kotor, lembab, dan hal tersebut merupakan habitat yang cocok untuk Pediculus humanus capitis. Biasanya anak-anak yang sudah tertular penyakit ini, akan langsung merasa gatal akibat gigitan dari kutu tersebut. Untuk mendeteksi adanya kutu ini, yaitu jika ditemukan telur (nits) pada kulit kepala atau menempel melekat erat pada rambut. Biasanya perlu 10 hari nits tersebut dapat menetas menjadi kutu muda, dan maturasinya dalam tempo 2 minggu. 
  • Pediculosis korporis (body louse = kutu tubuh)
Pediculosis yang disebabkan oleh adanya infestasi kutu Pediculus humanus corporis pada badan. Sering terjadi pada orang yang jarang mandi atau yang hidup dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah mengganti bajunya. Efek yang dapat ditimbulkan adalah rasa gatal pada tubuh, akibat dari gigitan Pediculus corporis. Jenis spesies ini sering di temukan pada lipatan atau jahitan bagian dalam baju, seprei, celana dalam,dll.
  •  Pediculosis pubis (pubis louse = kutu kelamin)
Pediculosis pubis merupakan infestasi kutu Pthirus pubis yang umumnya ditemukan pada rambut pubis, daerah genitalia, tetapi kadang dapat ditemukan di alis, bulu mata, dan rambut aksila. Penyakit ini termasuk dalam Penyakit Menular Seksual. Secara umum Pediculosis pubis ditularkan melalui kontak fisik secara erat, biasanya pada saat berhubungan seks, juga dapat ditularkan melalui barang-barang yang dipakai bersama misalnya; handuk, seprei, pakaian, karpet,dll.

2.Etiologi
Etiologi dari Pediculosis berbeda dari setiap tipenya, sebab perbedaan tipe pediculosis juga disebabkan oleh spesies Pediculus yang berbeda:
  • Pediculosis Capitis
Infestasi dari Pediculus Humanus Capitis. Jenis kutu ini berukuran antara 1-3 mm. Jenis betina biasanya lebih besar daripada jantan, berwarna putih, abu-abu, kecoklatan, ada juga yang berwarna lebh gelap. Kutu ini menginfestasi bagian kepala terutama di bagian belakang telinga dan bagian belakang kepala berbatasan dengan leher. Pediculus betina biasanya menempelkan telur-telurnya yang disebut nits dengan erat. Nits berbentuk oval, berwarna putih kekuningan, bening, dan transparan. Jumlah nits yang diletakkan oleh seeokr betina dapat mencapai 150 butir, kemudian mereka akan menjadi nimfa sesudah 3-10 hari (menurut Harwood & James, 1979); 7-11 hari (menurut Weems & Fasulo, 1999). Nimfa akan mengalami tiga kali pengupasan kulit yang disebut moulting. Siklus hidup dari telur hingga menjadi dewasa membutuhkan waktu berkisar 3 minggu dan lama hidup sebagai parasit dapat mencapai 30-40 hari.
  • Pediculosis Corporis
Infestasi dari Pediculus Humanus Corporis. dalam literatur lama spesies ini dikenal dengan nama Pediculus Humanus Humanus. Spesies ini paling umum ditemukan dan sudah menjadi vektor bagi beberapa penyakit mematikan berabad-abad lamanya. Bersifat kosmopolit, dapat dengan mudah tersebar melalui pakaian, seprei, bantal, handuk, atau kontak langsung antara orang dengan orang. Kutu ini biasanya bersembunyi di sela-sela pakaian seperti di antara jahitan, celana dalam,dll. Telur diletakkan pada kelim atau pelipit (seam) pakaian atau kadang-kadang pada rambut tubuh. Kutu betina dapat meletakkan telurnya hingga 300 butir, tetapi biasanya hanya antara 50-150 butir selama hidupnya (menurut Harwood & James, 1979). Masa inkubasi telur bervariasi antara 5-7 hari tergantung suhu.
  • Pediculosis Pubis
Infestasi dari Pthirus Pubis, sering disebut pubic louse atau crab louse karena bentuknya seperti kepiting dimana tungkai tengah dan belakang berukuran besar dan kuat dengan kuku depan yang besar. Namun jenis kutu ini berukuran lebih pendek  daripada Pediculus Humanus, yaitu hanya berukuran panjang 1,5 - 2,0 mm, berwarna putih, abu-abu, kecoklatan muda/tua, berbentuk oval, serta memiliki abdomen yang lebih kecil daripada kutu-kutu yang lain, memiliki tiga pasang kaki dengan ujung seperti cakar yang digunakan untuk mencengkeram rambut, dan kepalanya dimasukkan ke dalam folikel.
Pthirus pubis mengalami 5 siklus hidup yang berlangsung selama 25 hari, terdiri dari stadium telur, 3 stadium nimfa dan bentuk dewasa. Telur berbentuk bulat oval, memiliki operkulum dan melekat erat pada dasar rambut oleh lapisan kitin. Dengan pertumbuhan rambut, telur akan menjauhi kulit sehingga dapat diperkirakan lamanya infestasi.setelah 5-10 hari telur akan menjadi nimfa, turun ke dasar rambut kemudian setelah dewasa akan menghisap darah manusia. Telur yang sudah kosong berwarna putih dan mudah terlihat. Bila tidak menghisap darah pejamu, kutu jarang hidup dalam 24 jam.

3. Epidemiologi
  • Pediculosis Capitis
Penyakit pedikulosis kapitis dapat ditemukan di seluruh dunia pada semua usia terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Insidens tertinggi pada usia sekitar 3 – 12 tahun. Pedikulosis kapitis lebih sering timbul pada wanita dibandingkan pria.
Penularan penyakit ini lebih sering melalui kontak kepala dengan kepala, namun dapat juga melalui benda-benda seperti sisir, topi, bantal, dan asesoris rambut yang dipakai secara bergantian. Higienitas yang buruk juga dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit ini, misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang panjang pada wanita. Penyakit ini lebih menyerang anak-anak dan cepat meluas di lingkungan yang padat seperti asrama dan panti asuhan. Ditambah lagi jika kondisi hygiene tidak baik (misalnya jarang membersihkan rambut). Cara penula-rannya melalui peratntara, misalnya sisir, kasur, topi, dan bantal. Lebih banyak terjadi di kaum perempuan.
  •  Pediculosis Corporis
Penyakit ini sering terjadi pada daerah yang mengalami kemiskinan, dalam keadaan perang. Penyakit ini lebih menyerang dewasa terutama pada orang dengan hygiene buruk, misalnya pengembala karena mereka jarang mandi dan jarang mengganti dan mencuci pakaian, karena itu penyakit ini sering disebut Vagabond. Pada saat masa Perang Dunia II sebelum 1970, penyakit ini disertai dengan komplikasi Epidemic Typhus yang endemik diseluruh Eropa, Rusia, dan Polandia, bahkan 2-3 juta orang Rusia meninggal karena penyakit tersebut.
Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah. Penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin karena orang memakai baju tebal dan baju jarang dicuci.
  • Pediculosis Pubis
Penyakit ini menyerang orang dewasa dan dapat digolongkan dalam PMS (Penyakit Menular Seksual). Seringnya penyakit ini menyerang PSK yang mennyalahgunakan hubungan seksual, namun tidak mengerti apakah pasangannya terinfestasi kutu pubis ini. Kutu jenis ini dapat juga menyerang daerah lain yang berambut, misalnya jenggot, kumis, bulu mata. Infeksi juga terjadi pada anak-anak di daerah alis dan bulu mata dan pada tepi batas rambut kepala.

4. Patofisiologi
  • Pediculosis Capitis
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk rmenghilangkan rasa gatal. Sepanjang siklus kehidupannya, larva dan kutu dewasa menyimpan kotorannya di kulit kepala, yang akan menyebabkan timbulnya rasa gatal. Selain itu gatal juga ditimbulkan oleh liur dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan ke dalam kulit waktu menghisap darah. Garukan yang dilakukan untuk menghilangkan gatal akan menyebabkan terjadinya erosi dan ekskoriasi sehingga memudahkan terjadinya infeksi sekunder.
  • Pediculosis Corporis
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan gatal. Gatal ditimbulkan oleh liur dan eksreta kutu yang dikeluarkan ke kulit sewaktu menghisap darah.
  • Pediculosis Pubis
Kutu menyukai daerah tubuh yang memiliki kelenjar apokrin, misalnya pubis, anogenital, aksila; tetapi dapat juga ditemukan pada daerah dada dan perut yang berbulu lebat. Biasanya lesi primer akibat gigitan kutu tidak begitu jelas terlihat, tetapi menimbulkan rasa gatal yang sangat hebat terutama pada malam hari. Pruritus biasanya timbul 30 hari setelah pajanan awal. Akibat garukan terjadi eritem, iritasi, dan infeksi sekunder. Kadang-kadang pada tempat gigitan teradapat maculae cerulae, berupa bercak berdiameter kurang dari 1 cm, berwarna kebiruan dan tidak gatal serta menghilang pada pemeriksaan diaskopi. Makula ini terdapat di daerah dada, abdomen, dan paha atas; akan hilang setelah beberapa hari diduga akibat produk yang dihasilkan oleh kelenjar liur kutu. Pada anak-anak infestasi dapat mengenai bulu mata, biasanya ditularkan oleh ibunya sehingga terjadi blefaritis diertai krusta. Hal ini jarang dijumpai pada penderita dewasa.
  
5. Tanda dan Gejala
  • Pediculosis Capitis
Gejala awal yang dominan adalah rasa gatal pada kulit kepala. Rasa gatal dimulai dari yang ringan sampai rasa gatal yang tidak dapat ditoleransi. Lesi papul yang gatal biasanya terdapat pada daerah belakang telinga dan bagian tengkuk leher, akibat garukan pada kulit kepala akan terjadi erosi, ekskoriasi, infeksi sekunder yang berat menyebabkan terbentuknya pus dan krusta. Bila ada infeksi sekunder berat, rambut akan menggumpal karena banyaknya pus dan krusta (plikapelonika) dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular). Dan dalam keadaan ini pula menyebabkan terjadinya abses dan mengakibatkan bau busuk.
  • Pediculosis Corporis
Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang dengan garukan yang intens. Kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. Daerah kulit yang terutama terkena adalah bagian yang paling terkena pakaian dalam ( yaitu , leher, badan dan paha ). Kutu badan terutama hidup dalam pelipit pakaian dan di temapt ini, kutu merekat erat sementara menusuk kulit penderita dengan probosisnya. Gigitan kutu menyebabkan titik-titk pendarahan yang kecil dan khas. Ekskoriasi yang menyebar luas dapat terlihat sebagai akibat dari rasa gatal dan perbuatan menggaruk yang intensif, khususnya pada badan serta leher. Di antara lesi sekunder yang ditimbulkan terdapat guratan linier garukan yang paralel dan ekzema dengan derajat ringan. Pada kasus menahun, kulit pasien menjadi tebal, kering dan bersisik dengan daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap.
  • Pediculosis Pubis
Gejala yang dominan yaitu gatal-gatal di daerah pubis dan sekitarnya. Gatal dapat meluas sampai ke daerah abdomen dan dada, yang ditemukan bercak-bercak yang berwarna abu-abu kebiruan yang disebut macula serulae. Walaupun kutu ini dapat dilihat dengan mata telanjang, kutu ini sulit dilepaskan karena kepalanya dimasukkan ke dalam muara folikel rambut. Gejala lainnya adalah Black dot, yaitu bercak-bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna cerah (atau putih) setelah bangun tidur. Bercak ini merupakan krusta darah yang disalahartikan sebagai humaturia. Kadang disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

6. Penularan
  •  Pediculosis Capitis
E Dapat melalui kontak langsung secara fisik
Misalnya: pada saat kepala orang yang ter-infestasi kutu ini menempel pada kepala orang yang sehat.
E Melalui kontak tidak langsung
Dapat melalui sisir, pakaian, topi, wig, seprei, bantal, dan perangkat kepala lainnya.
  •  Pediculosis Corporis
E Dapat melalui kontak langsung secara fisik
Misalnya: pada saat sentuhan tubuh secara langsung.
E Melalui kontak tidak langsung
Dapat melalui pakaian, seprei, bantal, dan perangkat tubuh lainnya.
  • Pediculosis Pubis
E Dapat melalui kontak langsung secara fisik
Misalnya: melaui sentuhan langsung antar genital, hubungan seksual.
E Melalui kontak tidak langsung
Dapat melalui pakaian, dan pakaian dalam.

7. Komplikasi
  •  Pediculosis Capitis
Rasa gatal yang hebat dan garukan yang diupayakan dapat menghilangkan rasa gatal tersebut sering menimbulkan infeksi sekunder yang disertai penyakit kulit lainnya, misalnya; impetigo, furunkulosis, koreng. Dan dari akibat komplikasi tersebut bahkan dapat menimbulkan bau busuk pada kepala dan kerontokan rambut regional sehingga menimbulkan kebotakan yang disertai erosi pada kulit kepala.
  •  Pediculosis Corporis
            Garukan yang intensif, khususnya pada badan serta leher yang diakibatkan dari rasa gatal yang sangat hebat, menyebabkan lesi sekunder. Diantara lesi sekunder yang ditimbulkan terdapat guratan linier garukan yang paralel dan ekzema dengan derajat ringan. Namun pada kasus yang menahun, kulit pasien menjadi tebal, kering, dan bersisik dengan daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap. Pada keadaan kemiskinan urban, body louse paling sering berperan sebagai vektor Bartonella Quintana (typhus dan demam parit) yang dapat menyebabkan demam atau endokarditis. Penularan dapat terjadi saat pelet fekal yang terkontaminasi mengenai tempat gigitan atau kulit yang terekskoriasi.
            Pada komplikasinya pediculus corporis dapat juga menjadi vektor Spirochete Borrelia recurrentis dengan tifus epidemik, menyebabkan pecahnya kulit yang ditandai dengan bintik berwarna gelap pada kulit (rash) terlihat antara hari ke-5 dan ke-6, berawal dari bagian tubuh atas punggung yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh, kecuali bagia wajah, permukaan tangan, dan tungkai. Kasus kematian antara 1-20% meskipun dapat mencapai 60%.
Untuk lebih lanjut komplikasi ini dapat menyebabkan gejala lain, misalnya; delirium,
fotofobia, sakit mata, hilangnya pendengaran, tekanan darah rendah, renal insifficiency pneumonia, uremia yang akhirnya membawa kematian penderita.
  •  Pediculosis Pubis
Akibat garukan pada lesi pruritik akan terjadi eritem, iritasi, ekskoriasi, dan menimbulkan infeksi sekunder. Jika sudah menahun, lesi akan mengalami infeksi yang dapat disertai penyakit menular lain misalnya; gonore, kandidiasis, sifilis. Hingga komplikasi tersebut dapat meninggalkan kecacatan pada organ yang menjadi manifestasi kutu ini, hingga terjadi kematian jiak tidak ada tindak lanjut.

8. Faktor Resiko
  •  Pediculosis Capitis
1)      Bergantian sisir.
2)      Saling meminjam pakaian.
3)      Pada anak-anak – berkemah, saling meminjam topi.
4)      Pada dewasa – berbagi handuk, meminjam wig.
  •  Pediculosis Corporis
1)      Berbagi pakaian.
2)      Jarang  mandi.
3)      Tidak mengganti atau mencuci baju.
4)      Pemukiman kumuh.
5)      Perang militer.
6)      Tempat pengungsian.
  •  Pediculosis Pubis
1)      Hubungan seksual.
2)      Berbagi pakaian dalam.
3)      Jarang mandi.
4)      Jarang mengganti dan mencuci celana dalam.
5)      Tempat lokalisasi.

9. Diagnosa klinis
1)     Pediculosis Capitis
Caranya dengan menemukan kutu atau telur. Telur berwarna abu-abu dan mengkilat. Juga digunakan sinar Wood yang akan menampakkan telur dan kutu berfluoresensi. Dapat juga dilakukan diagnosa banding untuk memastikan gejala yang tampak dengan Tinea kapitis, Pioderma (impetigo krustosa), Dermatitis seboroik.
2)     Pediculosis Corporis
Kutu badan dewasa dan telurnya tidak hanya ditemukan pada rambut badan, tetapi juga pada lipatan baju yang bersentuhan dengan kulit.
3)     Pediculosis Pubis
Kutu kemaluan meninggalkan kotoran berwarna coklat tua di pakaian dalam. Kutu kemaluan sulit ditemukan dan bisa terlihat sebagai bintik kecil kebiruan di kulit. Telurnya menempel di dasar rambut, sangat dekat dengan kulit.

10.  Penatalaksanaan
  •  Pengobatan
Permethrin merupakan pengobatan kutu yang paling aman, paling efektif dan paling nyaman. Lindane (tersedia dalam bentuk krim, losyen atau shampoo) juga bisa mengatasi kutu tetapi tidak dapat diberikan kepada anak-anak karena bisa menimbulkan komplikasi neurologis. 
       Kadang digunakan piretrin. Ketiga obat tersebut bisa menimbulkan iritasi. 10 hari setelah pemakaian, ketiga obat tersebut harus dioleskan kembali untuk membunuh kutu yang baru menetas. Infestasi pada alis atau bulu mata sulit untuk diobati, kutu biasanya diambil dengan menggunakan tang khusus. Jeli minyak polos bisa membunuh atau melemahkan kutu di bulu mata. 
       Jika sumber infestasi (sisir, topi, pakaian dan seprei) tidak dibersihkan melalui pencucian, penguapan atau dry cleaning, maka kutu bisa bertahan hidup dan kembali menginfeksi manusia.

  •  Perawatan
a)      Pediculosis Capitis
       Mencakup pengeramasan rambut memakai sampo yang mengandung lindane (Kwell) atau senyawa piretrin dengan piperonil butoksida (sampo RID atau R&C). Kepada pasien dianjurkan untuk mengeramas kulit kepala dan rambut menurut petunjuk pemakain sampo tersebut. Sesudah dibilas sampai bersih, rambut disisir dengan sisis bergigi halus (serit) yang sudah dicelupkan dalam cuka agar telur atau cangkar telur tuma yang tertinggal dapat terlepas dari batang rambut. Telur tuma sangat sulit dilepas dan mungkin harus diambil dengan jari tangan satu per satu ( karena itu, orang awam memakai istilah “ mencari kutu”.
       Semua barang, pakaian, handuk dan perangkat tempat tidur yang bisa mengandung tuma atau telurnya harus dicuci dengan air panas sedikitnya dengan suhu 54oC atau dicuci kering untuk mencegah infestasi ulang. Perabot, permadani dan karpet yang berbulu harus sering dibersihkan dengan alat vacum cleaner. Sisir dan sikat rambut juga harus didisinfeksi dengan sampo. Semua anggota keluarga dan orang yang berhubunagn erat dengan pasien harus diobati. Komplikasi seperti pruritas yang hebat, pioderma ( infeksi kulit yang membentuk pus ) dan dermatitis diobati dengan preparat antipruritus, antibiotik sistemik serta kortikosteroid tropikal.

b)      Pediculosis Corporis
       Karena kutu bereproduksi pada pakaian dan tidak pada kulit, maka mandi, membuang atau mencuci pakaian yang terserang, dan mencapai tingkat higiene yang baik seharusnya dapat menangani serangan kutu dengan baik. Perlengkapan tidur juga harus dicuci dengan air panas, direbus, atau dibuang. Untuk yang tidak dapat dicuci harus di-dry clean atau disetrika dengan perhatian khusus pada lipatan-lipatan. Beberapa dokter percaya bahwa, setelah penanganan pada pakaian, pasien harus dirawat dari kepala sampai ujung kaki dengan satu kali aplikasi krim permethrin 5 persen, dibiarkan selama 8-10 jam lalu dibilas.
       Kemudian, lindane (Kwell) atau melation dalam isopropil alkohol (losion Prioderm) dioleskan pada daerah-daerah kulit yang terenfeksi dan daerah yang berambut menurut petunjuk informasi produk. Terapi topikal alternatif lainnya adalah pedikulida berbahan dasar piretrin (RID yang merupakan preparat yang bisa dibeli bebas) atau tembaga oleat 0,03% (Curpex). Jika bulu mata turut terkena vaseline dapat dioleskan tebal-tebal dua kali sehari selama 8 hari yang kemudian diikuti oleh pencabutan secara mekanis setiap telur kutu yang tertinggal. Komplikasi, seperti pruritis hebat, pioderma (infeksi yang membentuk pus pada kulit) dan dermatitis diobati dengan preparat antipruritis, antibiotik sistemik serta kortikosteroid topikal. Perlu diingat bahwa kutu badan dapat menularkan penyakit epedemik pada manusia, yaitu penyakit riketsia (tifus epidemik, demam hilang timbul dan trench fever). Mikroorganisme penyebabnya berada dalam traktus gastrointestinal serangga tersebut dan dapat diekskresikan ke permukaan kulit pasien yang terinfeksi.

c)      Pediculosis Pubis
       Shampo gameksan 1% (Lindane) yang dioleskan selama 4 menit kemudian dicuci. Tidak boleh diberikan kepada anak yang berusia kurang dari 12 tahun, ibu hamil atau menyusui serta erosi yang masif. Dapat juga dilakukan dengan krim permethrin 1% yang dioleskan selama 10 menit kemudian dicuci. Obat ini merupakan terapi pilihan untuk pedikulosis, diserap kurang dari 2% dan cepat diubah menjadi metabolik inaktif. Aktivitas farmakologiknya sama dengan lindane, tetapi tidak menimbulkan neurotoksisitas. Penggunaan Pirethin dengan piperonil butoksida yang dioleskan selama 10 menit kemudian dicuci.
       Jika manifestasinya terdapat pada alis dan bulu mata, sebaiknya gunakan salep mata oklusif pada tepi kelopak mata, 2 kali selama 10 hari. Bisa juga menggunakan salep mata fisostigmin 0,25% 4 kali sehari selama 3 hari.
       Sebaiknya setelah dilakukan terapi, lakukan evaluasi. Bila masih ditemukan kutu atau telurnya pada pangkal rambut, maka terapi harus diulang. Untuk rasa gatal yang menetap karena sensitasi dapat diberikan anti inflamasi ringan seperti krim hidrokortison 1% 2 kali sehari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS