RSS

Halaman

Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Aquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS)


a.      Definisi
AIDS atau sindrom kehilangan kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah system kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Akibatnya kehilangan kekebalan tubuh, penderita AIDS mudah terkena berbagai jenis infeksi bakteri, jamur, parasit dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderita AIDS sering sekali menderita keganasan, khususnya sarcoma Kaposi dan limfoma yang hanya menyerang otak.
AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.    
b.      Epidemiologi
Setelah kasus dini yang ditemukan oleh Gottlieb dkk. Pada musim semi tahun 1981, CDC antara 1 juni 1981 sampai dengan September 1982 menerima laporan sejumlah 593 kasus sarcoma Kaposi, pneumonia Pneumocystis carinii dan lain-lain infeksi oportunistik yang membahayakan jiwa penderitanya. Penderita pada umumnya berumur antara 15-60 tahun tanpa penyakit imunodefisiensi maupun mendapat terapi obat imunosupresi. Sejumlah 41% atau 243 penderita telah meninggal dunia. Jumlah penderita meningkat demikian cepat sehingga samapi bulan mei 1985 diperkirakan sudah mencapai 12.000 kasus.
Menurut laporan pada bulan September 1985, di AS kasus penyakit ini sudah mencapai 13.000. Di eropa peningkatan kasus juga sangat cepat. Pada akhir tahun 1984 di Perancis ditemukan 3 kasus baru per minggu. Di Jerman Barat dan Inggris angka ini 2 kasus tiap minggu, sedangkan di Swiss dan Belanda tiap minggu ditemukan 1 kasus AIDS.
Penderita AIDS di negeri Barat umumnya ditemukan pada golongan masyarakat tertentu sesuai dengan table berikut.
Tabel Jumlah Kumulatif Kasus AIDS/HIV (+) di Indonesia Menurut Faktor Risiko s.d. 31 Agustus 1998.
No
Faktor Risiko
s/d 31 Juli 1998
s/d Agustus 1998
Jumlah
AIDS
HIV (+)
AIDS
HIV (+)
1
Homo/Biseksual
60
35
5
0
100
2
Heteroseksual
111
392
8
15
526
3
I.U.D
3
3
0
0
6
4
Transfusi darah
2
0
0
0
2
5
Hemofilia
1
1
0
0
2
6
Transmisi perintal
3
3
0
0
6
7
Tidak diketahui
14
78
0
10
102
Jumlah
194
512
13
25
744
Sumber : Direktorat Jendral PPM & PLP, DepKes R.I
Menurut perkiraan WHO jumlah kasus AIDS jauh lebih banyak. Jumlah ini sampai 31 Desember 1990 ialah 800.000 kasus dewasa dan 400.000 kasus anak. Di samping ini masih terdapat 8-10 juta orang yang seropositif HIV tanpa gejala klinis. Menurut perkiraan para pakar epidemiologi WHO sebagian besar kasus seropositif berada di banua Afrika.
Tabel Jumlah Kasus AIDS di Berbagai Negara Menurut LAporan WHO sejak AIDS Ditemukan Sampai Dengan 31 Desember 1990
Negara asal laporan
Jumlah Kasus
Afrika
81.019
USA
154.191
Benua Afrika kecuali USA
33.420
Asia
872
Eropa
41.947
Oseania
2.562
Sumber : Weekly Epidemiological Record 66:1-2 (1991)
Pada waktu ini keadaan tentu sudah banyak berubah. Kasus-kasus HIV dan AIDS sudah sangat meningkat. Hal ini disebabkan oleh deteksi yang makin canggih termasuk diagnosis laboratorik yang lebih mudah dilakukan di daerah dan yang terpenting ada kesadaran penderita dan para pelayan kesehatan.
Di Indonesia jumlah AIDS dan seropositif HIV sampai agustus 1998 masing-masing 207 sampai 537 kasus.
Menurut catatan hingga 31 maret 2006 jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di seluruh Indonesia ialah HIV 4332, AIDS 5822, semuanya 10.154 kasus HIV/AIDS yang terbanyak di DKI Jakarta 3601, peringkat II Papua 1633, peringkat III Jawa Timur 1031. Di seluruh dunia lebih dari 40 juta orang terkena AIDS pada tahun 2004.
Tabel Jumlah Kumulatif Kasus AIDS/HIV (+) di Indonesia Berdasarkan Propinsi S/D 31 Agustus 1998
No
Propinsi
s/d 31 Juli 1998
s/d 31 Agustus 1998
Jumlah
AIDS
HIV (+)
AIDS
HIV (+)
1
Daerah Istimewa Aceh
0
1
0
0
1
2
Sumatera Utara
2
23
0
0
25
3
Sumatra Barat
0
2
0
0
2
4
Riau
2
69
0
0
71
5
Sumatera Selatan
1
28
0
0
29
6
Lampung
0
1
0
0
1
7
DKI Jakarta
78
115
13
24
230
8
Jawa Barat
11
10
0
0
21
9
Jawa Tengah
2
16
0
0
18
10
D.I Yogyakarta
2
3
0
0
5
11
Jawa Timur
8
35
0
0
43
12
Kalimantan Barat
0
4
0
0
4
13
Kalimantan Tengah
0
19
0
0
19
14
Kalimantan Selatan
0
3
0
0
3
15
Kalimantan Timur
0
8
0
0
8
16
Sulawesi Utara
2
1
0
0
3
17
Sulawesi Selatan
1
7
0
0
9
18
Bali
14
33
0
0
47
19
NTB
2
0
0
0
2
20
NTT
0
1
0
0
1
21
Maluku
2
14
0
0
16
No
Propinsi
s/d 31 Juli 1998
s/d 31 Agustus 1998
Jumlah
AIDS
HIV (+)
AIDS
HIV (+)
22
Irian Jaya
67
118
0
0
185
23
Timor Timur
0
1
0
0
1
Jumlah
194
512
13
25
744
Sumber : Direktorat Jedral PPM & PLP, Dep Kes R.I
Tabel Jumlah Kumulatif Kasus AIDS/HIV (+) di Indonesia Menurut Golongan Umur s.d 31 Agustus 1998
No.
Golongan Umur

s/d 31 Juli 1998
s/d Agustus 1998
Jumlah
AIDS
HIV (+)
AIDS
HIV (+)
1
< 1
2
1
0
0
3
2
1-4
0
2
0
0
2
3
5-14
1
0
0
0
1
4
15-19
6
33
0
0
39
5
20-29
46
281
5
15
347
6
30-39
92
105
5
9
211
7
40-49
39
31
3
1
74
8
50-59
6
6
0
0
12
9
>60
2
1
0
0
3
10
Tidak diketahui
0
52
0
0
52
Jumlah
194
512
13
25
744

c.       Etiologi
HIV ialah retrovirus yang disebut Lymphadenopathy Associated Virus (LAV) atau Human T-Cell Leukimia Lymphotrophic Virus (retrovirus). LAV ditemukan oleh Montagnier dkk. Pada tahun 1983 di Perancis, sedangkan HTLV-III ditemukan oleh Gallo di Amerika Serikat pada tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak ditemukan di Afrika Tengah. Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau Afrika, 70% dalam darahnya mengandung virus tersebut tanpa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.
HIV terdiri atas HIV-1 dan HIV -2 terbanyak karena HIV-1. Partikel HIV terdiri atas dua untaian RNA dalam inti protein yang dilindungi envelop lipid asal sel hospes.
d.      Patogenesis
Cara penularan terutama melalui darah, cairan tubuh dan hubungan seksual. Virus HIV ditemukan dalam jumlah besar dalam cairan sperma dan darah, sedangkan dalam jumlah kecil ditemukan dalam air liur dan air mata.
HIV menginfeksi system imun terutama sel CD4 dan menimbulkan destruksi sel tersebut. HIV dapat laten dalam sel imun dan dapat aktif kembali yang menimbulkan infeksi. Produksi virus menimbulkan kematian sel dan juga limfosit yang tidak terinfeksi, defisiensi imun dan AIDS.
Sistem imun dikuasai oleh virus yang verproliverasi cepat di seluruh tubuh. Bila sel CD4 turun di bawah 100/µl, infeksi oportunistik dari keganasan meningkat. Demensia HIV dapat terjadi akibat bertambahnya virus di otak. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol)
Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, baik itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia.

e.       Penularan
HIV adalah virus penyebab AIDS. HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti darah, cairan kelamin (air mani atau cairan vagina yang telah terinfeksi) dan air susu ibu yang telah terinfeksi. Sedangkan AIDS adalah sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah menurun. HIV dapat menular ke orang lain melalui :
1)      Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
2)      Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
3)      Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
4)      Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS.
Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.
f.       Gejala Klinis dan Kriteria Diagnosis
Gejala penderia AIDS dapat ringan sampai berat. Di AS ditemukan ratusan ribu orang yang dalam darahnya mengandung virus AIDS tanpa gejaa klinis (carrier). Pembagian tingkat klinis penyakit infeksi HIV, dibagi menjadi berikut : ( ceramah AIDS oleh Zubairi Djoerban, di BLKM Departemen Kesehatan RI, 19 Januari 1994).
1)      Tingkat klinis I (asimptomatik/Limfadenopati Generalisata Persisten (LGP)
a)      Tanpa gejala sama sekali.
b)      LGP
Pada tingkat ini penderita belum mengalami kelainan dan dapat melakukan aktivitas normal.
2)      Tingkat klinis II (dini)
a)      Penurunan berat badan kurang dari 10%
b)      Kelainan mulut dan kulit yang ringan, misalnya dermatitis seboroik, prurigo, onikomikosis, ulkus pada mulut yang berulang dan keilitis angularis.
c)      Herpes zoster yang timbul pad lima tahun terakhir.
d)     Infeksi saluran nafars bagian atas berulang misalnya sinusitis.
Pada tingkat ini penderita sudah menunjukkan gejala, tetapi aktivitas tetap normal.
3)      Tingkat klinis III (menengah)
a)      Penurunan berat badan lebih dari 10%
b)      Diare kronik lebih dari satu bulan, tanpa diketahui sebabnya.
c)      Demam yang tidak diketahui sebabnya selama lebih dari 1 bulan, hilang timbul maupun terus menerus.
d)     Kandidosis mulut.
e)      Bercak putih berambut di mulut (hairy leukoplakis)
f)       Tuberkulosis paru setahun terakhir.
g)      Infeksi bacterial berat, misalnya pneumonia.
4)      Tingkat klinis IV (lanjut)
a)      Badan menjadi kurus, HIV wasting Syndrome, yaitu berat badab turun lebih dari 10% dan diare kronik tanpa diketahui sebabnya selama lebih dari 1 bulan atau kelemahan kronik dan demam tanpa diketahui sebabnya lebih dari 1 bulan.
b)      Pnemonia Pneumonia carinii
c)      Toksoplasmosis otak
d)     Kriptokokosis dengan diare lebih dari 1 bulan
e)      Kriptokokosis di luar paru
f)       Infeksi sitomegalo virus pada organ tubuh kecuali di limpa, hati atau kelenjar getah bening.
g)      Infeksi virus herpes simpleks di mukokutan lebih dari 1 bulan atau di alat dalam (visceral) lamanya tidak dibatasi
h)      Mikosis apa saja (misalnya histoplasmosi, koksidiodomikosis) yang endemic, menyerang banyak organ tubuh (diseminata)
i)        Kandidosis esophagus, trakea, bronkus atau paru
j)        Limfoma
k)      Sarkoma Kaposi
l)        Ensefalopati HIV, sesuai criteria CDC, yaitu gangguan kognitif atau disfungsi motorik yang mengganggu aktivitas sehari-hari, progresif sesudah beberapa minggu atau bulan, tanpa dapat ditemukan penyebab  lain kecuali HIV.
Amstrong mengajukan kriteria AIDS berdasarkan factor predisposisi dan menderita salah satu penyakit infeksi yang tercantum dalam tabel berikut :
Tabel Penyakit Yang Disebabkan Salah Satu Organisme Tersebut di Bawah Memberikan Petunjuk Kemungkinan AIDS
Bakteri
Jamur
Parasit
Virus
-          Mycobacterium intracellulare avium yang kompleks diseminata
-          Esofagitis oleh karena Candida spp.
-          Pneumonia oleh Pneumocystis carinii
-          Ensefalitis oleh Toxoplasma gondii
-          Bentuk disemianta oleh infeksi Cytomegalo virus
-          Herpes simpleks yang progesif dan ulseratif
-          Leukoensefalopatia yang progresif dan multifokal

g.      Pengobatan
Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.
HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.
Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease. Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.
Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.
Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.
Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).
Mengenai ODHA sendiri pengobatan kombinasi penghambat reverse transcriptase dan penghambat protease, Penelitian terakhir membuktikan bahwa obat-obat anti virus yaitu indinavir, retrovir, dan lamivudin yang diberikan sebagai kombinasi dapat meningkatkan CD4 dan menghilangkan HIV pada 24/26 sampai ditingkat unmesurable genes of HIV. Namun setelah pengobatan beberapa waktu, mungkin HIV akan bermutasi menjadi resisten dan toksisitas obat akan muncul sehingga perlu obat baru. Obat-obat yang sedang diteliti adalah antisense therapy, gene therapy dengan penghambat HIV yang ditubjukkan ke CD4 dan sel induk. Penelitian lain dengan cara pengobatan dan obat baru anti HIV masih banyak dibutuhkan oleh karena penyakit ini banyak menelan jiwa penderita dan sangat merugikan sosio-ekonomi masyarakat luas terutama pada Negara berkembang.
Di RSCM Jakarta pengobatan HIV/AIDS dilakukan oleh Pokdisus RSCM. Obat yang dilakukan ialah kombinasi 3 obat antiretroviral, yakni :
1.      Zidovudin (AZT)
Dosis : 500-600 mg sehari per os.
2.      Lamivudin (3TC)
Dosis : 150 mg sehari dua kali.
3.      Neviropin
Dosis : 200 mg sehari selama 14 hari, kemudian 200 mg sehari dua kali.
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan.
h.      Pencegahan
Berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi penularan penyakit adalah sebagai berikut:
1)      Kontak seksual harus dihindari dengan orang yang diketahui penderita AIDS dan orang yang sering menggunakan obat bius secara intravena.
2)      Mitra seksual multiple atau hubunga seksual dengan orang yang mempunyai banyak teman kencan seksual, memberikan kemungkinan lebih besar mendapat AIDS.
3)      Cara hubungan seksual yang dapat merusak selaput lender rectal, dapat memperbesar kemungkinan mendapat AIDS. Senggama anal pasif yang pernah dilaporkan pada beberapa penelitian menunjukkan korelasi tersubut. Walaupun belum terbukti, kondom dianggap sebagai salah satu untuk menghindari penyakit kelamin, cara ini masih merupakan anjuran.
4)      Kasus AIDS pada orang yang menggunakan obat bius intravena dapat dikurangi dengan cara memberantas kebiasaan buruk tersebut dan melarang penggunaan jarum suntik bersama.
5)      Semua orang yang tergolong beresiko tinggi AIDS seharusnya tidak menjadi donor. Di AS soal ini sudah dipecahkan dengan adanya penentuan zat anti-AIDS dalam darah melalui cara Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA). Di RSCM Divisi Hematologi Departemen penyakit Dalam uji ini sudah dapat dikerjakan.
6)      Para dokter harus ketat mengenai indikasi medis transfuse darah autolog yang dianjurkan untuk dipakai.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Penyakit Menular Seksual (PMS)

Definisi
            Penyakit kelamin adalah penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Cara hubungan kelamin tidak hanya terbatas secara genital-ginital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital, atau ano-genital, sehingga kelainan yang timbul akibat penyakit kelamin ini tidak terbatas hanya pada daerah genital saja, tetapi dapat juga pada daerah – daerah eksternal genital.
            Meskipun demikian tidak berarti bahwa semuanya harus melalui hubungan kelamin, tetapi beberapa ada yang dapat juga ditularkan melalui kontak langsung dengan alat – alat, handuk, termometer, dan sebagainya. Selain itu penyakit kelamin ini juga dapat menularkan penyakit nya ini kepada bayi dalam kandungan.
            Pada waktu dahulu penyakit kelamin dikenal sebagai Venereal Disease (VD) yang berasal dari kata Venus (dewi cinta), dan yang termasuk dalam Venereal Disease ini, yaitu sifilis, gonore, ulkus mole, limfogranuloma, venereum, dan glanuroloma inguinale.
            Ternyata pada akhir – akhir ini ditemukan berbagai penyakit lain yang juga dapat timbul akibat hubungan seksual dan penemuan ini antara lain disebabkan oleh :
1)      Perbaikan sarana dan teknik laboratorium
2)      Penemuan beberapa jenis penyakit secara epidemi seperti herpes genetalis dan hepatitis B
3)      Penemuan penyakit yg ada akibat pada anak dan ibu, juga bahkan dapat menimbulkan kemandulan.
Oleh karena itu istilah VD makin lama makin ditinggalkan dan diperkenalkan istilah Sexually Transmitted Disease (STD) yang berarti penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin, dan yang termasuk penyakit ini adalah kelima penyakit VD tersebut ditambah berbagai penyakit lain yang tidak termasuk VD istilah STD ini telah diindnesiakan menjadi PMS (Penyakit Menular Seksual), ada pula menyebutnya PHS (Penyakit Hubungan Seksual).  Sehubungan PMS ini sebagian besar disebabkan oleh infeksi, maka kemudian istilah STD telah diganti menjadi STI (sexually Transmitted Infection).
Penyakit Menular Seksual ini mempunyai beberapa ciri, yaitu :
1)      Penularan penyakit tidak selalu harus melalui hubungan kelamin.
2)      Penyakit dapat terjadi pada orang – orang yang belum pernah melakukan hubungan kelamin atau orang – orang yang tidak promiskus
3)      Sebagian penderita adalah akibat korban keadaan diluar kemampuan mereka, dalam arti mereka sudah berusaha sepenuhnya untuk tidak mendapat penyakit, tetrapi kenyataan masih juga terjangkit.

Epidemiologi
            Selama dekade terakhir ini insiden s P.M.S. cukup cepat meningkat di berbagai negara di dunia. Banyak laporan mengenai penyakit ini, tetapi angka – angka yang dilaporakan tidak menggambarkan angka yang sesungguhnya. Hal tersebut disebabkan antra lain oleh :
1)      Banyak kasus yang tidak dilaporkan, karena belum ada undang – undang yang mengharuskan melaporkan setiap kasus baru P.M.S. yang ditemukan
2)      Bila ada laporan, sistem pelaporan yang berlaku seragam.
3)      Fasilitas diagnostik yang ada sekarang ini kurang sempurna sehingga sering kali salah diagnosis dan penanganannya.
4)      Banyak kasus yang asimtomatik (tanpa gejala yang khas) terutama penderita wanita
5)      Pengontrolan terhadap P.M.S. ini belum berjalan baik.
Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa banyak faktor dapat mempengaruhi meningkatnya insidens P.M.S. ini, antara lain :
1)      Perubahan demografik secara luarbiasa :
a.       Peledakan jumlah penduduk.
b.      Pergerakan masyarakat yang bertambah, dengan berbagai alasan, misalnya:
(1)   Pekerjaan
(2)   Liburan
(3)   Pariwisata
(4)   Rapat/kongres/seminar dan lain – lain
c.       Kemajuan sosila ekonomi, terutama dalam bidang industri menyebabkan lebih banyak kebebasan sosial dan lebih banyak waktu yang terluang.
2)      Perubahan sikap dan tindakan akibat perubahan – perubahan demografik diatas, terutama dalam bidang agama dan moral.
3)      Kelalaian beberapa negara dalam pemberian pendidikan kesehatan dan pendidikan seks khususnya.
4)      Perasaan aman pada penderita karena pemakaian obat anti biotik dan kontrasepsi.
5)      Akibat pemakaian obat anti biotik tanpa petunjuk yang sebenarnya, maka timbul resistensi kuman terhadap anti biotik tersebut.
6)      Fasilitas kesehatan yang kurang memadai terutama fasilitas laboratorium dan klinik pengobatan.
7)      Banyaknya kasus asimtomatik, merasa tidak sakit, tetapi dapat menulari orang lain.

Usaha Penanggulangan dan Penyuluhan
            Sampai saat ini, penyakit kelamin tetap merupakan penyakit yang sukar ditanggulangi, karena dalam penanggulangan penyakit kelamin ada beberapa segi yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
1)      Segi medis
2)      Segi epidemiologi
3)      Segi sosial, ekonomi dan budaya
4)      Secara medis, penanganan P.M.S. secara komprehensif harus mencakup :
a)      Diagnosis yang tepat
b)      Pengobatan yang efektif
c)      Konseling kepada pasien, dal;am rangka memberikan K.I.E. (Komunikasi, Informasi, Edukasi), mengenai penyakitnya, pentingnya mematuhi pengobatan, upaya pencagahan penularan, dan sebagainya
d)     Penanganan pasangan seksualnya
Segi – segi lain dalam penanggulangannya P.M.S ini saling berkaitan, sehingga harus dilakukan dengan kerjasam secara lintas sektoral.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pediculosis (vehicle borne / formite)


1. Definisi
Pediculosis merupakan penyakit kulit menular yang diakibatkan infestasi Pediculus (tuma), yakni kutu yang hidup sebagai parasit dan menghisap darah manusia. Ada tiga tipe dari Pediculosis:
  •  Pediculosis kapitis (head louse = kutu kepala)
Merupakan jenis pediculosis yang diakibatkan dari infestasi kutu kepala atau tuma yang disebut Pediculus humanus capitis pada kulit kepala. Penyakit ini biasanya sering terjadi pada anak-anak, hal ini karena anak-anak kurang dapat menjaga kebersihan kulit kepala, atau dapat secara kasarnya dikatakan bahwa anak-anak jarang keramas, padahal anak-anak lebih banyak bergerak sehingga menyebabkan kulit kepala menjadi berminyak, kotor, lembab, dan hal tersebut merupakan habitat yang cocok untuk Pediculus humanus capitis. Biasanya anak-anak yang sudah tertular penyakit ini, akan langsung merasa gatal akibat gigitan dari kutu tersebut. Untuk mendeteksi adanya kutu ini, yaitu jika ditemukan telur (nits) pada kulit kepala atau menempel melekat erat pada rambut. Biasanya perlu 10 hari nits tersebut dapat menetas menjadi kutu muda, dan maturasinya dalam tempo 2 minggu. 
  • Pediculosis korporis (body louse = kutu tubuh)
Pediculosis yang disebabkan oleh adanya infestasi kutu Pediculus humanus corporis pada badan. Sering terjadi pada orang yang jarang mandi atau yang hidup dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah mengganti bajunya. Efek yang dapat ditimbulkan adalah rasa gatal pada tubuh, akibat dari gigitan Pediculus corporis. Jenis spesies ini sering di temukan pada lipatan atau jahitan bagian dalam baju, seprei, celana dalam,dll.
  •  Pediculosis pubis (pubis louse = kutu kelamin)
Pediculosis pubis merupakan infestasi kutu Pthirus pubis yang umumnya ditemukan pada rambut pubis, daerah genitalia, tetapi kadang dapat ditemukan di alis, bulu mata, dan rambut aksila. Penyakit ini termasuk dalam Penyakit Menular Seksual. Secara umum Pediculosis pubis ditularkan melalui kontak fisik secara erat, biasanya pada saat berhubungan seks, juga dapat ditularkan melalui barang-barang yang dipakai bersama misalnya; handuk, seprei, pakaian, karpet,dll.

2.Etiologi
Etiologi dari Pediculosis berbeda dari setiap tipenya, sebab perbedaan tipe pediculosis juga disebabkan oleh spesies Pediculus yang berbeda:
  • Pediculosis Capitis
Infestasi dari Pediculus Humanus Capitis. Jenis kutu ini berukuran antara 1-3 mm. Jenis betina biasanya lebih besar daripada jantan, berwarna putih, abu-abu, kecoklatan, ada juga yang berwarna lebh gelap. Kutu ini menginfestasi bagian kepala terutama di bagian belakang telinga dan bagian belakang kepala berbatasan dengan leher. Pediculus betina biasanya menempelkan telur-telurnya yang disebut nits dengan erat. Nits berbentuk oval, berwarna putih kekuningan, bening, dan transparan. Jumlah nits yang diletakkan oleh seeokr betina dapat mencapai 150 butir, kemudian mereka akan menjadi nimfa sesudah 3-10 hari (menurut Harwood & James, 1979); 7-11 hari (menurut Weems & Fasulo, 1999). Nimfa akan mengalami tiga kali pengupasan kulit yang disebut moulting. Siklus hidup dari telur hingga menjadi dewasa membutuhkan waktu berkisar 3 minggu dan lama hidup sebagai parasit dapat mencapai 30-40 hari.
  • Pediculosis Corporis
Infestasi dari Pediculus Humanus Corporis. dalam literatur lama spesies ini dikenal dengan nama Pediculus Humanus Humanus. Spesies ini paling umum ditemukan dan sudah menjadi vektor bagi beberapa penyakit mematikan berabad-abad lamanya. Bersifat kosmopolit, dapat dengan mudah tersebar melalui pakaian, seprei, bantal, handuk, atau kontak langsung antara orang dengan orang. Kutu ini biasanya bersembunyi di sela-sela pakaian seperti di antara jahitan, celana dalam,dll. Telur diletakkan pada kelim atau pelipit (seam) pakaian atau kadang-kadang pada rambut tubuh. Kutu betina dapat meletakkan telurnya hingga 300 butir, tetapi biasanya hanya antara 50-150 butir selama hidupnya (menurut Harwood & James, 1979). Masa inkubasi telur bervariasi antara 5-7 hari tergantung suhu.
  • Pediculosis Pubis
Infestasi dari Pthirus Pubis, sering disebut pubic louse atau crab louse karena bentuknya seperti kepiting dimana tungkai tengah dan belakang berukuran besar dan kuat dengan kuku depan yang besar. Namun jenis kutu ini berukuran lebih pendek  daripada Pediculus Humanus, yaitu hanya berukuran panjang 1,5 - 2,0 mm, berwarna putih, abu-abu, kecoklatan muda/tua, berbentuk oval, serta memiliki abdomen yang lebih kecil daripada kutu-kutu yang lain, memiliki tiga pasang kaki dengan ujung seperti cakar yang digunakan untuk mencengkeram rambut, dan kepalanya dimasukkan ke dalam folikel.
Pthirus pubis mengalami 5 siklus hidup yang berlangsung selama 25 hari, terdiri dari stadium telur, 3 stadium nimfa dan bentuk dewasa. Telur berbentuk bulat oval, memiliki operkulum dan melekat erat pada dasar rambut oleh lapisan kitin. Dengan pertumbuhan rambut, telur akan menjauhi kulit sehingga dapat diperkirakan lamanya infestasi.setelah 5-10 hari telur akan menjadi nimfa, turun ke dasar rambut kemudian setelah dewasa akan menghisap darah manusia. Telur yang sudah kosong berwarna putih dan mudah terlihat. Bila tidak menghisap darah pejamu, kutu jarang hidup dalam 24 jam.

3. Epidemiologi
  • Pediculosis Capitis
Penyakit pedikulosis kapitis dapat ditemukan di seluruh dunia pada semua usia terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Insidens tertinggi pada usia sekitar 3 – 12 tahun. Pedikulosis kapitis lebih sering timbul pada wanita dibandingkan pria.
Penularan penyakit ini lebih sering melalui kontak kepala dengan kepala, namun dapat juga melalui benda-benda seperti sisir, topi, bantal, dan asesoris rambut yang dipakai secara bergantian. Higienitas yang buruk juga dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit ini, misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang panjang pada wanita. Penyakit ini lebih menyerang anak-anak dan cepat meluas di lingkungan yang padat seperti asrama dan panti asuhan. Ditambah lagi jika kondisi hygiene tidak baik (misalnya jarang membersihkan rambut). Cara penula-rannya melalui peratntara, misalnya sisir, kasur, topi, dan bantal. Lebih banyak terjadi di kaum perempuan.
  •  Pediculosis Corporis
Penyakit ini sering terjadi pada daerah yang mengalami kemiskinan, dalam keadaan perang. Penyakit ini lebih menyerang dewasa terutama pada orang dengan hygiene buruk, misalnya pengembala karena mereka jarang mandi dan jarang mengganti dan mencuci pakaian, karena itu penyakit ini sering disebut Vagabond. Pada saat masa Perang Dunia II sebelum 1970, penyakit ini disertai dengan komplikasi Epidemic Typhus yang endemik diseluruh Eropa, Rusia, dan Polandia, bahkan 2-3 juta orang Rusia meninggal karena penyakit tersebut.
Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah. Penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin karena orang memakai baju tebal dan baju jarang dicuci.
  • Pediculosis Pubis
Penyakit ini menyerang orang dewasa dan dapat digolongkan dalam PMS (Penyakit Menular Seksual). Seringnya penyakit ini menyerang PSK yang mennyalahgunakan hubungan seksual, namun tidak mengerti apakah pasangannya terinfestasi kutu pubis ini. Kutu jenis ini dapat juga menyerang daerah lain yang berambut, misalnya jenggot, kumis, bulu mata. Infeksi juga terjadi pada anak-anak di daerah alis dan bulu mata dan pada tepi batas rambut kepala.

4. Patofisiologi
  • Pediculosis Capitis
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk rmenghilangkan rasa gatal. Sepanjang siklus kehidupannya, larva dan kutu dewasa menyimpan kotorannya di kulit kepala, yang akan menyebabkan timbulnya rasa gatal. Selain itu gatal juga ditimbulkan oleh liur dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan ke dalam kulit waktu menghisap darah. Garukan yang dilakukan untuk menghilangkan gatal akan menyebabkan terjadinya erosi dan ekskoriasi sehingga memudahkan terjadinya infeksi sekunder.
  • Pediculosis Corporis
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan gatal. Gatal ditimbulkan oleh liur dan eksreta kutu yang dikeluarkan ke kulit sewaktu menghisap darah.
  • Pediculosis Pubis
Kutu menyukai daerah tubuh yang memiliki kelenjar apokrin, misalnya pubis, anogenital, aksila; tetapi dapat juga ditemukan pada daerah dada dan perut yang berbulu lebat. Biasanya lesi primer akibat gigitan kutu tidak begitu jelas terlihat, tetapi menimbulkan rasa gatal yang sangat hebat terutama pada malam hari. Pruritus biasanya timbul 30 hari setelah pajanan awal. Akibat garukan terjadi eritem, iritasi, dan infeksi sekunder. Kadang-kadang pada tempat gigitan teradapat maculae cerulae, berupa bercak berdiameter kurang dari 1 cm, berwarna kebiruan dan tidak gatal serta menghilang pada pemeriksaan diaskopi. Makula ini terdapat di daerah dada, abdomen, dan paha atas; akan hilang setelah beberapa hari diduga akibat produk yang dihasilkan oleh kelenjar liur kutu. Pada anak-anak infestasi dapat mengenai bulu mata, biasanya ditularkan oleh ibunya sehingga terjadi blefaritis diertai krusta. Hal ini jarang dijumpai pada penderita dewasa.
  
5. Tanda dan Gejala
  • Pediculosis Capitis
Gejala awal yang dominan adalah rasa gatal pada kulit kepala. Rasa gatal dimulai dari yang ringan sampai rasa gatal yang tidak dapat ditoleransi. Lesi papul yang gatal biasanya terdapat pada daerah belakang telinga dan bagian tengkuk leher, akibat garukan pada kulit kepala akan terjadi erosi, ekskoriasi, infeksi sekunder yang berat menyebabkan terbentuknya pus dan krusta. Bila ada infeksi sekunder berat, rambut akan menggumpal karena banyaknya pus dan krusta (plikapelonika) dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular). Dan dalam keadaan ini pula menyebabkan terjadinya abses dan mengakibatkan bau busuk.
  • Pediculosis Corporis
Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang dengan garukan yang intens. Kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. Daerah kulit yang terutama terkena adalah bagian yang paling terkena pakaian dalam ( yaitu , leher, badan dan paha ). Kutu badan terutama hidup dalam pelipit pakaian dan di temapt ini, kutu merekat erat sementara menusuk kulit penderita dengan probosisnya. Gigitan kutu menyebabkan titik-titk pendarahan yang kecil dan khas. Ekskoriasi yang menyebar luas dapat terlihat sebagai akibat dari rasa gatal dan perbuatan menggaruk yang intensif, khususnya pada badan serta leher. Di antara lesi sekunder yang ditimbulkan terdapat guratan linier garukan yang paralel dan ekzema dengan derajat ringan. Pada kasus menahun, kulit pasien menjadi tebal, kering dan bersisik dengan daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap.
  • Pediculosis Pubis
Gejala yang dominan yaitu gatal-gatal di daerah pubis dan sekitarnya. Gatal dapat meluas sampai ke daerah abdomen dan dada, yang ditemukan bercak-bercak yang berwarna abu-abu kebiruan yang disebut macula serulae. Walaupun kutu ini dapat dilihat dengan mata telanjang, kutu ini sulit dilepaskan karena kepalanya dimasukkan ke dalam muara folikel rambut. Gejala lainnya adalah Black dot, yaitu bercak-bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna cerah (atau putih) setelah bangun tidur. Bercak ini merupakan krusta darah yang disalahartikan sebagai humaturia. Kadang disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

6. Penularan
  •  Pediculosis Capitis
E Dapat melalui kontak langsung secara fisik
Misalnya: pada saat kepala orang yang ter-infestasi kutu ini menempel pada kepala orang yang sehat.
E Melalui kontak tidak langsung
Dapat melalui sisir, pakaian, topi, wig, seprei, bantal, dan perangkat kepala lainnya.
  •  Pediculosis Corporis
E Dapat melalui kontak langsung secara fisik
Misalnya: pada saat sentuhan tubuh secara langsung.
E Melalui kontak tidak langsung
Dapat melalui pakaian, seprei, bantal, dan perangkat tubuh lainnya.
  • Pediculosis Pubis
E Dapat melalui kontak langsung secara fisik
Misalnya: melaui sentuhan langsung antar genital, hubungan seksual.
E Melalui kontak tidak langsung
Dapat melalui pakaian, dan pakaian dalam.

7. Komplikasi
  •  Pediculosis Capitis
Rasa gatal yang hebat dan garukan yang diupayakan dapat menghilangkan rasa gatal tersebut sering menimbulkan infeksi sekunder yang disertai penyakit kulit lainnya, misalnya; impetigo, furunkulosis, koreng. Dan dari akibat komplikasi tersebut bahkan dapat menimbulkan bau busuk pada kepala dan kerontokan rambut regional sehingga menimbulkan kebotakan yang disertai erosi pada kulit kepala.
  •  Pediculosis Corporis
            Garukan yang intensif, khususnya pada badan serta leher yang diakibatkan dari rasa gatal yang sangat hebat, menyebabkan lesi sekunder. Diantara lesi sekunder yang ditimbulkan terdapat guratan linier garukan yang paralel dan ekzema dengan derajat ringan. Namun pada kasus yang menahun, kulit pasien menjadi tebal, kering, dan bersisik dengan daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap. Pada keadaan kemiskinan urban, body louse paling sering berperan sebagai vektor Bartonella Quintana (typhus dan demam parit) yang dapat menyebabkan demam atau endokarditis. Penularan dapat terjadi saat pelet fekal yang terkontaminasi mengenai tempat gigitan atau kulit yang terekskoriasi.
            Pada komplikasinya pediculus corporis dapat juga menjadi vektor Spirochete Borrelia recurrentis dengan tifus epidemik, menyebabkan pecahnya kulit yang ditandai dengan bintik berwarna gelap pada kulit (rash) terlihat antara hari ke-5 dan ke-6, berawal dari bagian tubuh atas punggung yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh, kecuali bagia wajah, permukaan tangan, dan tungkai. Kasus kematian antara 1-20% meskipun dapat mencapai 60%.
Untuk lebih lanjut komplikasi ini dapat menyebabkan gejala lain, misalnya; delirium,
fotofobia, sakit mata, hilangnya pendengaran, tekanan darah rendah, renal insifficiency pneumonia, uremia yang akhirnya membawa kematian penderita.
  •  Pediculosis Pubis
Akibat garukan pada lesi pruritik akan terjadi eritem, iritasi, ekskoriasi, dan menimbulkan infeksi sekunder. Jika sudah menahun, lesi akan mengalami infeksi yang dapat disertai penyakit menular lain misalnya; gonore, kandidiasis, sifilis. Hingga komplikasi tersebut dapat meninggalkan kecacatan pada organ yang menjadi manifestasi kutu ini, hingga terjadi kematian jiak tidak ada tindak lanjut.

8. Faktor Resiko
  •  Pediculosis Capitis
1)      Bergantian sisir.
2)      Saling meminjam pakaian.
3)      Pada anak-anak – berkemah, saling meminjam topi.
4)      Pada dewasa – berbagi handuk, meminjam wig.
  •  Pediculosis Corporis
1)      Berbagi pakaian.
2)      Jarang  mandi.
3)      Tidak mengganti atau mencuci baju.
4)      Pemukiman kumuh.
5)      Perang militer.
6)      Tempat pengungsian.
  •  Pediculosis Pubis
1)      Hubungan seksual.
2)      Berbagi pakaian dalam.
3)      Jarang mandi.
4)      Jarang mengganti dan mencuci celana dalam.
5)      Tempat lokalisasi.

9. Diagnosa klinis
1)     Pediculosis Capitis
Caranya dengan menemukan kutu atau telur. Telur berwarna abu-abu dan mengkilat. Juga digunakan sinar Wood yang akan menampakkan telur dan kutu berfluoresensi. Dapat juga dilakukan diagnosa banding untuk memastikan gejala yang tampak dengan Tinea kapitis, Pioderma (impetigo krustosa), Dermatitis seboroik.
2)     Pediculosis Corporis
Kutu badan dewasa dan telurnya tidak hanya ditemukan pada rambut badan, tetapi juga pada lipatan baju yang bersentuhan dengan kulit.
3)     Pediculosis Pubis
Kutu kemaluan meninggalkan kotoran berwarna coklat tua di pakaian dalam. Kutu kemaluan sulit ditemukan dan bisa terlihat sebagai bintik kecil kebiruan di kulit. Telurnya menempel di dasar rambut, sangat dekat dengan kulit.

10.  Penatalaksanaan
  •  Pengobatan
Permethrin merupakan pengobatan kutu yang paling aman, paling efektif dan paling nyaman. Lindane (tersedia dalam bentuk krim, losyen atau shampoo) juga bisa mengatasi kutu tetapi tidak dapat diberikan kepada anak-anak karena bisa menimbulkan komplikasi neurologis. 
       Kadang digunakan piretrin. Ketiga obat tersebut bisa menimbulkan iritasi. 10 hari setelah pemakaian, ketiga obat tersebut harus dioleskan kembali untuk membunuh kutu yang baru menetas. Infestasi pada alis atau bulu mata sulit untuk diobati, kutu biasanya diambil dengan menggunakan tang khusus. Jeli minyak polos bisa membunuh atau melemahkan kutu di bulu mata. 
       Jika sumber infestasi (sisir, topi, pakaian dan seprei) tidak dibersihkan melalui pencucian, penguapan atau dry cleaning, maka kutu bisa bertahan hidup dan kembali menginfeksi manusia.

  •  Perawatan
a)      Pediculosis Capitis
       Mencakup pengeramasan rambut memakai sampo yang mengandung lindane (Kwell) atau senyawa piretrin dengan piperonil butoksida (sampo RID atau R&C). Kepada pasien dianjurkan untuk mengeramas kulit kepala dan rambut menurut petunjuk pemakain sampo tersebut. Sesudah dibilas sampai bersih, rambut disisir dengan sisis bergigi halus (serit) yang sudah dicelupkan dalam cuka agar telur atau cangkar telur tuma yang tertinggal dapat terlepas dari batang rambut. Telur tuma sangat sulit dilepas dan mungkin harus diambil dengan jari tangan satu per satu ( karena itu, orang awam memakai istilah “ mencari kutu”.
       Semua barang, pakaian, handuk dan perangkat tempat tidur yang bisa mengandung tuma atau telurnya harus dicuci dengan air panas sedikitnya dengan suhu 54oC atau dicuci kering untuk mencegah infestasi ulang. Perabot, permadani dan karpet yang berbulu harus sering dibersihkan dengan alat vacum cleaner. Sisir dan sikat rambut juga harus didisinfeksi dengan sampo. Semua anggota keluarga dan orang yang berhubunagn erat dengan pasien harus diobati. Komplikasi seperti pruritas yang hebat, pioderma ( infeksi kulit yang membentuk pus ) dan dermatitis diobati dengan preparat antipruritus, antibiotik sistemik serta kortikosteroid tropikal.

b)      Pediculosis Corporis
       Karena kutu bereproduksi pada pakaian dan tidak pada kulit, maka mandi, membuang atau mencuci pakaian yang terserang, dan mencapai tingkat higiene yang baik seharusnya dapat menangani serangan kutu dengan baik. Perlengkapan tidur juga harus dicuci dengan air panas, direbus, atau dibuang. Untuk yang tidak dapat dicuci harus di-dry clean atau disetrika dengan perhatian khusus pada lipatan-lipatan. Beberapa dokter percaya bahwa, setelah penanganan pada pakaian, pasien harus dirawat dari kepala sampai ujung kaki dengan satu kali aplikasi krim permethrin 5 persen, dibiarkan selama 8-10 jam lalu dibilas.
       Kemudian, lindane (Kwell) atau melation dalam isopropil alkohol (losion Prioderm) dioleskan pada daerah-daerah kulit yang terenfeksi dan daerah yang berambut menurut petunjuk informasi produk. Terapi topikal alternatif lainnya adalah pedikulida berbahan dasar piretrin (RID yang merupakan preparat yang bisa dibeli bebas) atau tembaga oleat 0,03% (Curpex). Jika bulu mata turut terkena vaseline dapat dioleskan tebal-tebal dua kali sehari selama 8 hari yang kemudian diikuti oleh pencabutan secara mekanis setiap telur kutu yang tertinggal. Komplikasi, seperti pruritis hebat, pioderma (infeksi yang membentuk pus pada kulit) dan dermatitis diobati dengan preparat antipruritis, antibiotik sistemik serta kortikosteroid topikal. Perlu diingat bahwa kutu badan dapat menularkan penyakit epedemik pada manusia, yaitu penyakit riketsia (tifus epidemik, demam hilang timbul dan trench fever). Mikroorganisme penyebabnya berada dalam traktus gastrointestinal serangga tersebut dan dapat diekskresikan ke permukaan kulit pasien yang terinfeksi.

c)      Pediculosis Pubis
       Shampo gameksan 1% (Lindane) yang dioleskan selama 4 menit kemudian dicuci. Tidak boleh diberikan kepada anak yang berusia kurang dari 12 tahun, ibu hamil atau menyusui serta erosi yang masif. Dapat juga dilakukan dengan krim permethrin 1% yang dioleskan selama 10 menit kemudian dicuci. Obat ini merupakan terapi pilihan untuk pedikulosis, diserap kurang dari 2% dan cepat diubah menjadi metabolik inaktif. Aktivitas farmakologiknya sama dengan lindane, tetapi tidak menimbulkan neurotoksisitas. Penggunaan Pirethin dengan piperonil butoksida yang dioleskan selama 10 menit kemudian dicuci.
       Jika manifestasinya terdapat pada alis dan bulu mata, sebaiknya gunakan salep mata oklusif pada tepi kelopak mata, 2 kali selama 10 hari. Bisa juga menggunakan salep mata fisostigmin 0,25% 4 kali sehari selama 3 hari.
       Sebaiknya setelah dilakukan terapi, lakukan evaluasi. Bila masih ditemukan kutu atau telurnya pada pangkal rambut, maka terapi harus diulang. Untuk rasa gatal yang menetap karena sensitasi dapat diberikan anti inflamasi ringan seperti krim hidrokortison 1% 2 kali sehari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS